
Rendi pergi menuju ke ruangan di mana jajaran BEM sering berada di sana untuk berkumpul dan mengerjakan beberapa tugas BEM mahasiswa. Di sana, Rendi nampak lusuh dan sudah
telanjur kesal dengan sikap Adel. Masa jabatannya sebenarnya tinggal sebentar lagi, namun
tetap saja dia harus mempertahankan imagenya sebagai orang baik dan berwibawa.
“Lo kenapa? Lusuh banget muka lo!” sambut Tama kepada Rendi yang baru saja duduk dan membuka ponselnya.
“Nggakpapa, capek aja. Biasa lah. Rendi berusaha untuk tersenyum.
“Lo masih belum sembuh? Jangan masuk dulu dong kalau belum sembuh, mending lo rehat di rumah,” ujar Tama.
“Santai aja, gue rehat di sini aja.”
“Oh iya, tadi si Adel nyariin lo tuh, nggak ketemu sama lo? Apa kalian lagi berantem?” Tama
seakan ingin ikut campur dengan urusan Rendi.
“Iya, biasa sih. Pasangan juga pasti punya masalah kan?” jawab Rendi dengan entengnya, walaupun sebenarnya dia sedikit kesal karena wanita itu begitu menyusahkan.
“Ya udah kalo gitu, gue pergi dulu ya? Ada yang mau traktir nih. Lo nggak mau ikut?” tanya Tama sembari beranjak keluar dari ruangan.
“Nggak ah, gue mau di sini aja. Nanti mungkin kalo udah baikan gue nyusul ke sana.” Rendi meletakkan kepalanya di atas meja dan merasa sangat lelah sekali.
Tama pun keluar meninggalkan Rendi sendirian dan membiarkan Rendi beristirahat. Saat Rendi berada di dalam ruangan itu sendirian, Rendi menghela nafas panjang dan sejenak memejamkan matanya.
Bukannya semakin tenang, Rendi justru semakin gusar dan gelisah karena merindukan Nara
yang merupakan istrinya.
Rendi sejenak membuka ponselnya dan melihat beberapa foto kenangan antara dirinya, Nara
dan juga Syakila yang masih kecil. Ia menatap foto itu dan matanya sempat berkaca melihat
kedua orang yang sudah ia sia-siakan. Ia juga membuka beberapa foto lama antara dirinya dan
Nara yang nampak bahagia saat itu.
Ada banyak kenangan yang sudah ia lalui, dan Nara juga tetap bertahan apapun yang terjadi. Anehnya, mengapa Rendi justru tiba-tiba berubah menjadi pria yang sangat kasar kepada
orang yang ia cintai? Ia sendiri bertanya-tanya, mengapa ia begitu jahat kepada Nara?
“Aku sebenernya kenapa sih?” gumam Rendi yang merasa bersalah atas semua yang terjadi
selama ini. Ia terlambat menyadari bahwa ada orang yang lebih berharga ketimbang apapun
dan siapapun. Ia membuangnya begitu saja dan kini ia merasa sangat kehilangan.
__ADS_1
Rendi membalikkan ponselnya dan kembali menyandarkan kepalanya di meja.
Tiba-tiba, pintu ruangan itu terbuka. Rendi mendengar adanya sayup-sayup langkah kaki
mendekati dirinya, namun ia hanya diam saja dan berusaha abai dengan siapapun yang masuk
ke sana. Ia sedang tidak ingin bicara dengan siapapun.
“Hei? Kau baik-baik saja?”
DEG!
Rendi mengenali suara besar itu, ia langsung membuka matanya dan beranjak dari tempat ia duduk.
“Gibran? Kamu ngapain ke sini?!” tanya Rendi.
“Boleh bicara sebentar?”
Melihat Gibran datang dengan niat baik-baik, Rendi pun mempersilakan pria itu untuk duduk di sebelahnya. Selama ini Rendi tidak pernah menceritakan masalahnya kepada siapapun karena
tidak ada yang tahu, namun kali ini, sepertinya ia akan membicarakannya kepada Gibran.
“Kenapa?” tanya Rendi sembari menatap pria itu.
“Aku dengar semua yang tadi dikatakan Adel, aku juga sudah tahu semuanya saat di rumah
Sedangkan Rendi yang tidak bisa melakukan apa-apa pun hanya bisa menghela nafas panjang
saja, ia sedang tidak ingin marah atau berdebat.
“Baiklah, bicaralah. Apa yang ingin kamu bicarakan kepadaku?” tanya Rendi yang sudah pasrah.
“Untuk saat ini, menjauhlah dari Nara. Aku juga datang ke sini karena Nara selalu menanyakan dirimu.”
Mendengar kata-kata tersebut, tentu Rendi sangat senang, karena Gibran tahu di mana keberadaan Nara.
“Lo tau di mana Nara? Gue mau ketemu sama dia bisa?” tanya Rendi.
“Nggak bisa. Nara juga sedang dalam masa pemulihan sekarang, dia sudah berniat untuk menceraikanmu,” jawab Gibran.
“Cerai? Kok gitu? Nara nggak bilang apa-apa sama aku….” Rendi mengingat kembali jika sebelum Nara pergi, ia berkata tidak ingin bertemu Rendi lagi, ternyata ini artinya. “Oh … jadi Nara serius tentang hal itu ya?”
Rendi langsung merasa down dan sangat kehilangan, baru kali ini ia melihat Rendi dengan kondisi seperti itu. Biasanya Rendi akan langsung marah dan menyusul Nara apapun yang
terjadi.
“Saranku, lebih baik kau membenahi dirimu sendiri dulu. Ini memang salahku dan Nara, namun,
__ADS_1
kau juga harus mempertahankan jabatanmu itu. Sekarang kondisi Adel juga seperti itu, dia juga
bukan wanita baik-baik. Kusarankan kau hati-hati dengannya dan jauh-jauh darinya. Salah
langkah saja bisa merusak semuanya.” Gibran memberikan masukan kepada Rendi yang kali
ini ia anggap sebagai teman, karena Gibran sedikit iba dengan kondisi Rendi.
Rendi terdiam sejenak seakan memikirkan sesuatu.
“Rendi, Nara sedang tidak ingin diganggu. Kalau bisa, kau akhiri saja dulu masalah dengan Adel, dia nantinya yang akan membuat hidupmu semakin susah. Selesaikan masa jabatanmu
dulu, baru setelah itu jika kau bisa membujuk Nara untuk kembali, bujuklah,” imbuh Gibran
kepada pria yang sudah putus asa itu.
“Benar juga, mungkin aku akan fokus ke jabatanku dulu. Nara tidak beritahu ini kepada kedua
orang tuanya?” tanya Rendi.
“Tidak. Dia tidak beritahu siapapun selain aku dan kamu.” Kali ini, Gibran ada niatan untuk
sedikit membantu menenangkan pria itu.
Rendi berpikir bahwa Nara memiliki alasan sendiri mengapa dia tidak lapor kepada kedua orang tuanya dan juga mertuanya. Rendi pun bertekad untuk memperbaiki semuanya meskipun kemungkinannya untuk kembali juga tidak banyak.
“Kau mengerti situasinya kan? Berpikirlah jernih, Nara bisa kau urus nanti karena dia juga tidak akan menimbulkan masalah untukmu. Yang harus kau pikirkan sekarang adalah Adel. Kuharap kau mau mengerti apa yang kubicarakan.” Gibran beranjak dari kursinya sembari menepuk
bahu kanan Rendi lalu pergi meninggalkan pria itu di dalam ruangan itu lagi.
“Terima kasih atas saranmu yang sudah sangat membantuku. Aku banyak berhutang budi kepadamu.”
Namun, pria itu hanya menjawab singkat saja, lalu pergi meninggalkan Rendi di ruangan itu. Mendengar saran dari Rendi, ia mulai berusaha untuk berpikir jernih dan berusaha juga untuk membereskan Adel dari dalam hidupnya.
Menyelesaikan masalah yang sudah ia buat selama
ini.
Mungkin, ini sebuah karma untuk Rendi karena sudah menyengsarakan istrinya, sejauh ini,
Rendi sangat merasa bersalah kepada istrinya karena sudah melakukan hal yang buruk
kepadanya. Ia berharap masih ada satu kesempatan lagi untuk dirinya saat Rendi sudah
benar-benar siap untuk kembali membahagiakan Nara seperti dulu, saat belum ada Syakila di
hidupnya.
__ADS_1