
"Loh? Gibran? Kamu ngapain di sini? Ini siapa?" tanya seseorang yang baru saja datang dan penasaran dengan siapa yang ada di sebelah Gibran.
Sedangkan Nara langsung panik saat beberapa orang di kampusnya melihat Gibran sedang berduaan dengan seorang wanita. Sebagai kandidat ketua BEM selanjutnya, hal itu cukup riskan dan mengurangi vote Gibran untuk jadi ketua BEM.
"Oh, kalian juga lagi makan di sini ya?" sapa Gibran dengan sopan.
"Ciyee, pacarnya Gibran ya? Kenalin dong!" ujar salah satu dari mereka yang merupakan jajaran anak-anak BEM. Tama pun terlihat ada bersama dengan mereka dan berada di rombongan paling belakang.
"Oh? Gibran ya? lagi kencan lu?" sapa Tama.
"Iya dong, masa iya kalian doang yang kencan? Aku juga bisa kencan kan?" tutur Gibran.
"Ini bukannya cewek yang kemarin terlibat itu ya?" tanya Tama.
DEG!
__ADS_1
Jantung Nara hampir copot saat Tama masih mengenal Nara dengan baik, padahal mereka sudah jarang sekali bertemu dan pertemuan mereka juga bisa dihitung dengan jari.
Nara lebih takut jika Tama akan menuduh Gibran yang tidak-tidak dan menuduh Nara sebagai wanita yang tidak baik karena sempat membela Rendi saat itu.
"Oh, lo masih ingat ya?" Gibran menyambut perkataan Tama dengan baik.
"Iyalah! Dia setia banget sama lo, waktu kemarin lagi kacau aja dia juga ikut bantu lo. Salut banget gue sama cewek ini," ujar Tama sembari melihat ke arah Nara yang ada di sebelah Gibran.
"Ha ha ha, cantik kan? Nggak ada yang bisa nandingin kecantikan dia," puji Gibran. Nara bahkan sempat menyenggol bahu pria itu dan berusaha membuat Gibran tidak memuji yang aneh-aneh.
"Kenalin ya, Nara. Namaku Tama, kita sering ketemu tapi nggak pernah bertegur sapa begini," ujar Tama sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Iya, iya. Kalian udah kenal juga kan?" ujar Gibran.
"Lo over protective banget sama cewe lo. Sayang banget sama dia ya?" tanya Tama.
__ADS_1
"Iyalah, gue sayang banget sama dia. Makanya gue bisa jadi kandidat di ketua BEM selanjutnya, itu karena dukungan dari dia," jawab Gibran dengan percaya diri.
Mendengar jawaban tersebut, tentu langsung membuat orang-orang yang ada di sana kagum dan seakan mendukung mereka berdua.
"Ya udah, semoga langgeng ya. Gue suka banget kalau kandidat ketua BEMnya jujur begini, nggak kaya si onoh," ledek Tama.
Jantung Nara kembali terhenti saat mendengar hal seperti itu dari Tama. Ia seperti sedang membandingkan antara Rendi dengan Gibran.
"Thankyou ya udah nyapa. Have fun kalian semua!" ucap Gibran sembari melihat mereka pergi dari meja milik Rangga dan Nara.
Setelah semua orang pergi, ternyata Nara masih sedikit takut, dan Gibran pun langsung menghela nafas panjang.
"Hampir aja, bisa banget pas banget sih mereka juga makan di sini." Gibran melihat jam di ponselnya.
"Kamu serius mau nganggap aku begitu dan publish ke semua orang??" tanya Nara sedikit terkejut.
__ADS_1
"Kenapa tidak? Apa salahnya ketua BEM punya pacar? Lebih baik jujur daripada harus membohongi publik. Kalau aku bohong, sama aja penderitaan kamu kembaki terulang kepadaku," ujar Gibran sembari mengusap rambut Nara dengan lembut.
"Ugh, memangnya kita ini apa? Bukannya belum ada kesepakatan di antara kita ya?" batin Nara.