
Hari keempat setelah berita tersebut semakin menjadi-jadi, Rendi pun menemui wanita yang bernama Evi tersebut, dia ingin mencari kejelasan mengapa wanita itu harus mendapatkan hal seperti ini. Rendi pun sebenarnya sudah dihubungi terus oleh teman-teman jajaran BEMnya
karena Rendi harus memberikan klarifikasi kepada semua orang perihal apa yang sudah terjadi
dan sudah menyebar di seluruh kampus. Nama baik Rendi bisa tercemar kalau begini terus
caranya.
Rendi sudah janji akan bertemu dengan Evi hari ini, tentu saja wanita itu ingin tidak ada orang yang tahu sama sekali perihal ini. Rendi datang sendiri ke sebuah laboratorium yang ada di kampus dan memang sudah lama sekali tidak dipakai.
Perlahan, Rendi memasuki ruangan itu dengan mengendap-endap dan berusaha mencari Evi di dalam gelapnya ruangan tersebut.
“Hei! Keluar kau! Kenapa kau berani melakukan hal ini kepadaku?” teriak Rendi yang merasa
kesal dengan semua kejadian ini.
Beberapa menit setelah menunggu, wanita itu pun menyalakan lampu yang ada di ruangan tersebut dan ia menampakkan dirinya di hadapan Rendi dengan sangat berani. Evi merasa
bahwa ia akan mendapatkan sesuatu yang besar jika menjelekkan nama pria yang ada di
hadapannya itu.
Rendi melihat ke arah Evi dan masih berusaha untuk bersikap sopan. Ia menghela nafas panjang.
“Kau yang menyebarkan semua berita itu ke seluruh kampus?” tanya Rendi yang masih berusaha untuk berhati-hati.
“Ya, memang kenapa? Bukankah itu benar adanya?” tanya Evi dengan tampangnya yang terlihat songong.
“Semua itu bohong! Kau dapat dari mana berita bohong itu?” tanya Rendi dengan sedikit
marah.
“Istrimu sendiri yang bilang. Ah … lebih tepatnya aku menguping pembicaraan istrimu dengan selingkuhannya.”
DEG!
“A-apa maksudmu? Aku sudah bilang jika itu semua adalah bohong, aku juga tidak punya istri tahu!” hardik pria itu yang berusaha untuk memperbaiki nama baiknya.
“Nggak usah ngelak deh kamu! Aku tahu banget Nara nggak bakal mungkin bohong kalau ngomong sama Gibran,” jawab Evi.
“Kalau gitu masalahnya harusnya sama Nara dong, kenapa jadi sama gue?” Rendi mulai semakin marah karena dia di sini benar-benar menjadi korban.
“Gue nggak bisa lihat Nara bahagia begitu saja, dia sudah seenaknya memperlakukanku semena-mena, ia bahkan seperti sengaja membuatku patah hati! Aku sangat membencinya
sampai saat ini, kebaikannya itu benar-benar palsu!” teriak Evi yang sudah semakin marah.
__ADS_1
“Kalau begitu, itu bukan urusanku kan? Kamu ada masalah sama Nara, Gibran, jangan libatkan
aku dong. Kamu tahu nggak resikonya kalau kamu main-main sama aku?” Rendi tersenyum
jahat dan menatap ke arah Evi.
Evi sempat merasa takut, karena gertakannya sedari tadi ternyata tidak mempan terhadap pria itu. Rendi mendekati Evi seakan ingin melakukan sesuatu kepada Evi, sedangkan dia sedari
tadi membawa tongkat yang sengaja ia bawa untuk membuat pria itu takut dan mau mengaku.
Namun, ternyata ia salah besar.
“Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa ya? Namamu Evi, bukan? Aku juga tahu
pekerjaan orang tua kamu yang ada di kampung, aku juga tahu kalau kamu dapat beasiswa di
kampus ini. Apa kamu nggak takut beasiswa kamu dicabut dan kamu otomatis keluar dari sini?”
tanya Rendi yang terus mendekati Evi.
“Mundur kamu! Kamu mau apa! Jangan dekat-dekat!” teriak wanita itu.
“Apa kamu tahu rumor yang menyebar saat sedang KKN? Kau tahu apa yang kulakukan kepada wanita yang sudah menyebarkan rumor tentangku sampai dia bisa bungkam? Apa kau ingin merasakan hal yang sama juga?” tanya Rendi yang terus mendekati wanita itu.
“A-apa yang mau kau lakukan!” Evi terus mundur hingga punggungnya menyentuh lemari lab
“Kau masih perawan, bukan?”
DEG!
Mendengar ancaman seperti itu, Evi langsung merinding bukan main. Dia tidak menyangka jika dia akan mengalami hal ini. Rendi pun semakin dekat dengan wanita itu, hingga Rendi melihat
ke belakang wanita itu dan ia melihat ponsel yang sedang mengarah ke arah Rendi. Ia sadar
jika Evi sedang merekam semuanya.
“Ternyata kau memang mencari masalah denganku ya?” tukas Rendi.
Grep!
Rendi meraih leher wanita itu dan mencengkeramnya perlahan, namun dengan gertakan seperti
itu saja jelas membuat Evi sudah langsung panik dan ketakutan. Air matanya juga langsung
mengalir di pipinya. Saat tangan kiri Rendi mencengkeram leher Evi, tangan kanannya membuka lemari dan mengambil ponsel Evi.
__ADS_1
“Jangan! Kau mau apakan ponselku!” tukas Evi. Wanita itu pun berusaha meraih ponselnya, namun cengkeraman tangan Rendi semakin kuat dan membuat wanita itu takut untuk bergerak.
Rendi menghapus semua video yang barusan ia rekam, lalu membuka galeri wanita itu, dan juga menghapus berita hoax yang dia bikin.
Rendi pun melepaskan cengkraman tangannya dan membuat Evi terjatuh. Rendi mendapatkan sesuatu yang menarik di dalam galerinya.
“Ohoho, ternyata kau suka mencari uang dengan cara seperti ini ya? Jual diri?” ledek Rendi.
“Jangan lihat!” pinta Evi sembari berusaha mengambil kembali ponselnya.
“Akan kukirimkan ke ponselku ya? Ini sebagai jaminan untukmu. Jika sampai kau menyebarkan hal seperti itu lagi, aku akan menyebarkan fotomu juga? Bukankah kita impas?” ujar Rendi yang langsung mentransfer file foto ke ponselnya.
Saat sudah selesai mengirim foto, Evi terbangun dan langsung mengambil tongkatnya, lalu memukul kepala Rendi dengan sangat keras.
BUAKH!
“Ugh!” Rendi langsung melindungi ponselnya dan memasukkanya ke dalam saku, lalu
memegang kepalanya, pandangan mata Rendi juga terlihat memerah. Ternyata darah mengalir
di kepalanya. Namun, mendapatkan luka seperti itu, Rendi justru tersenyum.
“Pukul saja terus, dasar wanita bodoh!" ujar Rendi.
Evi pun kembali melancarkan serangannya dan membuat Rendi terjatuh karena Rendi memang sengaja menerima pukulan wanita itu.
“Dasar brengsek! Beraninya kau main-main denganku! Mentang-mentang ketua BEM Rasakan
ini!” ujar Evi. Rendi pun berusaha untuk melindungi dirinya agar tidak terlalu mendapatkan
cedera yang parah.
Hingga tiba-tiba seseorang membuka pintu lab dan terkejut melihat Rendi bersimbah darah dan Evi memegang tongkatnya.
“RENDI!” teriak seseorang wanita yang ada di ambang pintu dan melihat kejadian miris itu di depan matanya.
Ternyata semua jajaran BEM sengaja diundang oleh Rendi agar melihat apa yang sebenarnya terjadi, dia sengaja memancing amarah dan rasa takut wanita itu agar dia mendapatkan
moment yang seperti ini.
Evi langsung menganga dan melepaskan tongkatnya, ia berusaha kabur namun dikejar oleh
beberapa mahasiswa lain. Sedangkan Adel dan Tama menghampiri Rendi yang masih setengah sadar, lalu membawa pria itu ke rumah sakit dekat kampus.
“Untung semua sesuai rencanaku,” ujar Rendi dengan senyuman dan melihat ke arah Evi yang sudah ditangkap dan sedang meronta-ronta meminta dilepaskan. Mata mereka sempat bertemu, dan Evi semakin marah saat Rendi tersenyum jahat, seakan meledek Evi.
__ADS_1
“RENDI! AWAS KAU YA! AKU TIDAK AKAN TINGGAL DIAM!” teriak Evi.