Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Ijin Menemui Rendi


__ADS_3

Nara dan Gibran semakin shock saat mereka termasuk orang-orang yang beruntung karena bisa keluar malam itu juga.


“Maaf kalau kami merepotkan pak, soalnya kami juga KKN di daerah sini,” jawab Gibran.


“KKN di mana?” tanya salah satu bapak-bapak.


“Di desa Krajan.”


Semua orang yang mendengar hal itu langsung menganggukkan kepalanya.


“Owalah, ya sudah biar saya telpon Pak Roni dulu. Nanti kalian tunggu jemputan saja, di sini kebetulan bensinnya juga sudah habis,” jawab mereka.


Nara juga langsung meminta dijemput dan minta dibawakan bensin.


“Beruntungnya kalian berdua bisa langsung keluar dari jalan itu. Biasanya orang-orang keluarnya subuh loh. Kalian jam 12 justru sudah bisa keluar,” ucap pemilik warung.


“Berarti kami tersesat selama 2 jam itu termasuknya cepet ya?” tanya Gibran.


“Loh, ya iya to. Biasanya sampai 8 jam itu. Sampai yang tersesat di tengah hutan juga,


dehidrasi, linglung. Wah, pokoknya bersyukurlah kalian!” imbuh pemilik warung.


Nara dan Gibran pun menghela nafas panjang karena mereka semua akhirnya bisa selamat


dari kejadian yang cukup horor dan tidak mengenakkan. Ini pengalaman pertama mereka yang


sebenarnya mereka juga tidak percaya akan hal itu. Mereka sering menemukan cerita horor pengalaman KKN, ternyata mereka juga mengalaminya.


Gibran menggenggam tangan Nara dan tersenyum ke arah wanita itu, Nara pun membalas


senyuman Gibran dengan hangat.


Akhirnya, ketegangan mereka pun sudah usai. Mereka merasa sudah berjam-jam ada di dalam sana, namun ternyata baru 2 jam saja. Beberapa menit kemudian, pak Roni bersama dengan putranya juga dua teman Gibran datang untuk menjemput mereka karena sudah mendapatkan kabar dari warga situ. Mata Pak Roni terlihat berkaca-kaca karena khawatir.


“Syukurlah kalian selamat, kok bisa sampai kesasar sih?” tanya pak Roni kepada Gibran.


“Ah, iya pak. Kayaknya saya yang salah ngikutin orang, tadi kayaknya harusnya belok, tapi


saya malah lurus terus.” Gibran mengusap belakang kepalanya dan sedikit malu.


“Ya sudah, syukurlah kalian baik-baik saja.”


Semua orang tentu saja panik, mereka baru dua hari ada di desa tersebut, namun sudah mengalami hal yang diluar nalar seperti itu.


Hari semakin malam, mereka pun pergi meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke desa


KKN mereka sendiri bersama kepala desa. Sampai di Krajan, mereka langsung diminta untuk


istirahat karena mereka sudah melewati malam yang cukup panjang. Sebelum tidur, Gibran

__ADS_1


mengirimkan pesan kepada Nara.


“Have a nice dream. Istirahat ya, maaf bikin kamu capek.”


Nara tidak membalas pesan itu dan hanya tersenyum saja. Ia menganggap kejadian malam ini


adalah malam yang horor sekaligus membahagiakan untuknya, karena dia sama sekali tidak


merugi dan justru merasa bahagia karena bisa mengenal pria itu lebih dalam, meskipun tidak


sedalam itu.


****


Beberapa hari pun berlalu, dimana mereka semua jadi lebih sibuk karena kegiatan yang sudah direncanakan sejak awal. Nara juga menikmati kegiatannya itu, meskipun sebenarnya dia


malas sekali. Setiap malam, ia selalu mengabari ibunya dan melihat putrinya yang setiap hari menunjukkan perkembangan. Hingga sampailah di weekend, dimana kegiatan mereka juga tidak terlalu banyak, bahkan mereka semua sering sekali pergi untuk berjalan-jalan ke kota


untuk mencari jajanan atau sekedar menenangkan pikiran. Sedangkan Nara memiliki janji


kepada Rendi, ia ijin kepada Gibran untuk pergi menemui Rendi. Untungnya kormades di


kelompoknya adalah Gibran, jadi dia tidak perlu mencari alasan yang menyusahkan dirinya


sendiri atau berbohong kepada orang lain.


sedari tadi pagi belum dia temui. Hingga Nara melihat Gibran berada di sebelah rumah dan sedang sendirian.


Nara mendekati pria itu perlahan dengan perasaan yang bercampur aduk, ia gugup, sedikit takut dan juga bingung bagaimana harus berhadapan dengan pria itu.


“Oh? Kenapa, Nara? Tumben banget kamu nyamperin aku?” Gibran meletakkan lembaran kertas yang tadinya ada di tangannya.


“A-aku mau ijin keluar, boleh? Kamu kan ketuanya.” Nara sedikit gugup.


Gibran melihat ke arah Nara, lalu terdiam sejenak. Ia menata beberapa lembaran yang


berantakan lalu berdiri tepat di depan Nara.


“Kamu mau ke mana? Sampai jam berapa?” Nara bahkan sampai sedikit memundurkan


langkahnya karena jaraknya dengan pria itu terlalu dekat.


“Hari ini aku ketemu Rendi, aku juga udah janjian sama dia. Ibuku juga udah minta foto terus,”


ujar Nara yang mengeluhkan hal yang sebenarnya tidak ingin dia lakukan.


Gibran melipat kedua tangannya dan menatap Nara yang tingginya sekitar pundak Gibran.


“Ada beberapa syarat yang harus kamu lakukan, kamu yakin bisa lakuin?” tanya Gibran.

__ADS_1


“Apa syaratnya?”


“Jangan pulang terlalu malam karena jalan ke desa minim penerangan, kamu juga sendiri soalnya. Kalau sampai malam kamu belum juga pulang, aku yang bakal nyamperin kamu.


Hubungi aku kalau ada sesuatu terjadi, jangan terlalu capek.” Gibran mengusap kepala Nara


dengan lembut dan tersenyum kecil. Nara bahkan sampai harus menghindar agar tidak


kelihatan oleh orang-orang.


“Iya, aku bakal tepatin syaratnya kok.” Nara merapikan rambutnya yang sudah ia tata.


“Kamu cantik banget sih, nanti Rendi jadi makin nempel sama kamu gimana?” Gibran justru mengkhawatirkan hal seperti itu.


“Kamu mah sukanya gitu. Ya udah aku pergi dulu ya?” Nara langsung berpamitan pergi dari hadapan pria itu. Namun, baru saja balik badan, Gibran justru menarik tangan Nara hingga


tubuh mereka saling berdekatan dan kini mata mereka saling bertemu. Jantung Nara berdegup


sangat kencang, apalagi tangan Gibran seperti menggenggam tangan Nara dengan erat,


seakan tak ingin Nara pergi.


Pikiran Nara sudah aneh-aneh, dia juga takut jika akan ada orang yang datang melihat mereka, namun, mata berwarna cokelat dari pria itu membuat Nara terpaku. Tangan kanan Gibran yang


tidak menggenggam tangan Nara mengusap kening wanita itu dengan lembut.


“Hati-hati ya.”


Suara lembut dari pria itu langsung membuat jantung Nara seakan berhenti berdegup selama satu detik. Lalu, Gibran meninggalkan Nara dan kembali duduk di tempat tadi sembari


memegang kertas yang ada di meja. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Nara


terdiam seperti patung.


“Ya udah sana, keburu sore loh!” ucap Gibran yang langsung menyadarkan Nara dan ia pergi dari hadapan Gibran. Pria itu tersenyum kecil saat melihat reaksi Nara yang nampak terkejut


sampai tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun.


“Gibran keterlaluan ih!” batin Nara dengan raut wajah yang memerah.


Nara pergi meninggalkan rumah Pak Roni dan menemui Rendi yang sudah menunggu di


sebuah cafe. Sengaja mereka bertemu di tempat yang cukup jauh dan sekiranya tidak akan


pernah dijamah oleh anak-anak KKN.


Sampai di depan cafe, terlihat Rendi sudah duduk di


dalam dan tersenyum saat melihat Nara berdiri di depan cafe.

__ADS_1


__ADS_2