Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Nara dan Adel


__ADS_3

Tiga hari pun berlalu, di mana Nara terus merawat Rendi. Dia selalu berada di rumah sakit, dan


ini merupakan hari terakhir Rendi berada di rumah sakit. Besok, ia sudah bisa keluar dan bisa kembali beraktifitas seperti biasa.


Rendi selalu mendapatkan beberapa bingkisan untuk dirinya, karena semua orang tidak bisa menjenguk Rendi dan hanya bisa memberikan bingkisan saja. Rendi tersenyum saat ia mendapati banyak bingkisan dan banyak juga yang peduli kepadanya. Sembari merapikan pakaiannya dan Rendi, Nara tersenyum kecil melihat Rendi tersenyum seperti itu.


“Banyak juga fans kamu ya?” ujar Nara.


“Nggak juga.” Rendi menutup kartu ucapan yang baru saja ia baca.


“Aku masih akan tinggal di tempat Gibran untuk sementara waktu,” ujar Nara dengan


entengnya.


“Kenapa? Aku kan udah bisa balik ke rumah, kita bisa tinggal bareng lagi,” ucap Rendi yang


merasa sedih karena akan ditinggal istrinya untuk pergi ke tempat pria yang selama ini


menyukai Nara.


“Bercanda, Sayang!” Nara menjulurkan lidahnya sembari tersenyum kepada suaminya.


Rendi pun langsung tersenyum bahagia karena ternyata Nara hanya bercanda saja.


“Habis ini


aku pergi dulu ya? Aku mau beli susunya Syakila dulu,” ucap Nara.


“Ya udah, hati-hati ya. Aku juga mau tidur dulu sebentar,” ucap Rendi sembari kembali tidur,


Nara pun membantu menarik selimut Rendi dan mengusap rambut pria itu, lalu tersenyum hangat.


Nara pergi dari ruangan Rendi dan menuju ke luar rumah sakit, namun di depan kamar, terlihat seorang wanita seakan sedang menunggu kedatangan Nara. Nara pun menyadari kehadiran wanita itu dan berusaha untuk tersenyum meski malas rasanya.


Nara pun balik badan dan meninggalkan wanita itu, namun wanita itu justru menarik lengan


Nara dan membawa Nara pergi dari lorong rumah sakit.


“Eh! Eh! Kenapa sih?” tanya Nara yang langsung melepaskan genggaman tangan wanita itu.


“Lo kok bisa dapat ijin dari orang tua Rendi sih! Gue aja susah payah buat deketin dia loh! Lo malah gampang banget bisa deket sama orang tuanya! Pake pelet ya!” ledek Adel.


“Orang tua Rendi lebih tahu, mana wanita yang pantas berada di sisi Rendi.” Nara hanya menjawab singkat dan langsung pergi lagi meninggalkan Adel. Namun wanita itu tetap menarik

__ADS_1


Nara dengan keras.


“Ikut sini! Gue mau bicara sama lo di luar!” ujar Adel sembari menarik tangan Nara.


Nara pun merasa kesal dan melepaskan genggaman tangan wanita itu, dan mengikuti Adel di


belakangnya sembari berucap, “Gue bisa jalan sendiri.”


Mereka pun pergi ke luar rumah sakit dan menuju ke taman yang memang berada di rumah


sakit. Nara duduk di taman tersebut sembari melihat ke arah Adel.


“Kamu mau apa dari aku?” tanya Nara.


“Lo melet Rendi sama kedua orang tuanya kan? Mereka bisa langsung suka sama lo dan jadi


ga suka sama gue!” ketus Adel sembari menyilangkan kedua tangannya.


Nara ingin sekali bilang jika ia adalah istrinya, namun itu tidak mungkin. Karena jika Nara membuka semua tentang dirinya dan Rendi, maka Rendi juga berada dalam masalah. Di sana


dia hanya mendengarkan Adel mengeluarkan rasa kesalnya saja.


“Jangan bangga jadi orang kedua, kamu aja nggak pernah tahu latar belakang Rendi. Jangan jadi cewek yang ngerasa bisa tahu segalanya,” ujar Nara sembari menyombongkan dirinya.


Bukan dia ingin pamer atau apa, ia ingin wanita itu sadar dan tidak dekat-dekat lagi dengan


Ini pertama kalinya Nara berhadapan langsung dengan Adel.


“Lo mau tahu gue udah ngapain aja sama Rendi?”


DEG!


Jantung Nara langsung seakan berhenti berdetak saat Adel berucap seperti itu, perasaan Nara


juga sudah tidak enak. Dia tidak ingin mendengarkan apa yang akan diucapkan oleh Adel,


namun dia juga penasaran.


“Apa? Semua orang bisa aja ngeluarin kebohongannya biar bisa dipercaya loh!” ledek Nara


dengan senyuman sembari memalingkan wajahnya ke arah lain dan tersenyum kecut.


“Keliatan banget lo sama Rendi nggak pernah ngapa-ngapain! Lo pasti cuma dijadiin pesuruh aja kan sama si Rendi?” ledek Adel sembari membuka ponselnya dan membuka galerinya. Ia menyimpan beberapa foto yang sudah pasti akan membuat Nara terkejut bukan main

__ADS_1


melihatnya.


Adel menunjukkan foto pertama pada Nara, dan langsung membuat Nara terbelalak melihatnya.


“Tuh kan! Dikasih foto beginian aja kamu langsung mendelik. Sekarang tahu kan siapa yang


paling di sayang? Rendi itu sayangnya sama gue meskipun lo berhasil ambil hati kedua orang tuanya, yang penting kan hatinya Rendi!” Adel tersenyum bahagia.


Nara langsung merebut ponsel Adel dan menggeser foto tersebut, ternyata ada banyak sekali


foto yang menunjukkan mereka sedang berdua di kamar dan hanya menggunakan pakaian


dalam saja. Bahkan ada juga foto mereka berdua yang begitu mesra dan sama sekali tak berbalut busana.


Nara ingin muntah melihat foto tersebut, dadanya juga terasa sesak dan sakit. Adel langsung mengambil ponselnya dari tangan Nara dan merasa puas dengan ekspresi Nara. Perasaan Nara kini menjadi campur aduk, antara sedih, marah dan juga kecewa semua menjadi satu, beberapa kepingan ingatan perihal dirinya dan Rendi yang baru saja akan memulai kehidupan yang baru pun seakan langsung sirna saat Nara tahu kebenarannya.


“Seperti yang udah lo lihat ya, Rendi itu sering banget berhubungan badan sama gue. Kalau dia lagi sedih atau marah, dia pasti langsung ke kos gue buat nenangin dirinya, dan cuma gue yang bisa memberikan hal itu kepadanya. Pantes aja dia pergi dari lo. Di mata dia lo cuma babu


doang kan? Di mata dia, gue itu udah seperti ratu,” urai Adel dengan bangga.


Nara mengepalkan tangannya dan air mata pun terbendung di matanya. Hatinya sudah tidak


bisa lagi menahan amarah dan juga rasa kecewa. Nara berdiri dan menatap wanita itu dengan


tatapan yang begitu berani dan tegas.


“Pelakor sepertimu memang cocok sekali bersama dengan Rendi. Jangan bangga dulu, aku juga tahu kalau kamu itu sering banget gituan sama cowok-cowok kan? Rendi cuma salah satu dari pria yang kamu sentuh, dan kamu membanggakan hal seperti itu? Julukan cewek murahan emang


cocok buat kamu!” hardik Nara sembari mengeluarkan kata-kata yang menusuk ke hati Adel.


Baru kali ini dia sudah tidak bisa menahan amarahnya.


“Ck! Padahal gue udah berusaha nutupin!”


“Gimana respon Rendi kalau tahu semuanya ya? Gibran aja jijik sama kamu tuh, dia selalu


cerita sama kau kalau lihat kamu rasanya jijik banget dan pengen muntah! Sekarang aku tahu alasannya sih. Satu lobang rame-rame.” Nara menyindir dengan senyuman masam yang ia pasang di bibirnya itu.


Perkataan itu membuat Adel langsung terpancing emosi dan bersiap memukul Nara. Namun,


Nara sudah tahu jika tamparan itu akan diberikan kepadanya. Nara menahan pukulan Adel


dengan tangan kirinya, menatap Adel dengan tatapan marah dan membuat nyali Adel menciut,

__ADS_1


lalu langsung menampar pipi Adel dengan sangat keras menggunakan tangan kanannya.


PLAKK!!


__ADS_2