Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Adu Domba


__ADS_3

Sebelum menemui orang yang memberikan pesan ancaman kepada Rendi, ia berusaha untuk menenangkan perasaannya lebih dulu. Anehnya lagi, istrinya sama sekali tidak panik saat


berita itu menyebar, apakah Nara tidak tahu jika gosip tentang Rendi sudah menyebar?


Rendi pergi ke taman kampus yang memang sering sekali menjadi tempat di mana semua orang saling bertemu setelah membuat janji temu. Rendi sampai di taman itu dan mencari ke sekeliling taman. Hingga satu pesan kembali diterima.


[Wanita yang duduk di bawah pohon paling besar di taman, aku sudah melihatmu.]


Rendi tahu betul tempat yang dimaksud, ia langsung melihat ke arah pohon yang sangat besar


dan berada di tengah taman. Ia melihat seorang wanita yang duduk di sana, namun setelah ia


semakin mendekat, Rendi hapal betul dengan postur tubuh wanita itu, yang tidak lain dan tidak


bukan adalah istrinya sendiri.


Hingga sampailah Rendi di belakang Nara yang sedang duduk di bawah pohon. Perlahan,


Rendi mendekat dan berusaha melihat ke arah wanita itu, berharap bukan istrinya yang


melakukan itu.


“Nara?!” kejut Rendi saat yang ia lihat adalah istrinya sendiri.


“Loh? Rendi? Kok kamu di sini?” tanya Nara.


Amarah langsung meluap-luap saat Rendi melihat yang ada di bawah pohon ternyata istrinya sendiri. Namun, Nara justru kebingungan saat melihat Rendi ada di sana.


“Kamu sendiri ngapain di sini?” Rendi berusaha menahan emosinya.


“Aku baru tahu kalau status kamu dalam bahaya, dan ada yang bilang kalau dia pelaku dari


semua ini. Ternyata aku ketemu kamu di sini, kamu nyebar soal diri kamu sendiri di blog


kampus?! Nggak mungkin kan?” Nara berusaha untuk memberitahu apa yang terjadi


sebenarnya kepada dirinya tadi.


Namun, amarah Rendi sudah meluap-luap dan tidak bisa menerima cerita dari istrinya, ia tidak bisa mempercayai hal seperti itu.


“Aku yakin pasti kamu pelakunya kan?” ujar Rendi.


“Kok aku sih?! Nggak mungkin lah aku nyebar aib aku sendiri! Aku juga baru tahu kalau


beritanya udah nyebar ke satu kampus. Kamu ngapain aja kok bisa sampai 3 hari nggak


sadar?!” Nara jutsru menyalahkan Rendi.


“Kamu sendiri kenapa nggak sadar?” Rendi mulai meninggikan nada bicaranya, untungnya


tidak ada orang sama sekali di taman itu.

__ADS_1


“Aku ngurus Syakila kan? Kamu tahu sendiri kalau aku di rumah aku jarang pegang hp! Kamu


yang tiap hari ke kampus apa nggak denger kabar apa-apa? Kan aneh kamunya!” Nara juga


mulai meninggikan nadanya karena lelah dituduh terus menerus oleh Rendi.


“Kamunya juga nggak hati-hati sama sekali! Harusnya sering dong kamu buka hp biar bisa lihat


kabar terkini!”


“Ya mana bisa aku pegang hp! Kerjaan aku di rumah juga banyak, Rendi! Kenapa jadi nyalahin aku sih? Makanya, punya hp jangan buat ngegame sama chat selingkuhan terus!”


PLAK!


Kali ini, Rendi sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi dan menampar Nara di tempat umum.


Belum sepenuhnya sembuh, Rendi langsung membawa Nara ke motornya dan mengajak wanita itu untuk pulang ke rumah. Namun, Nara tahu jika dia akan dibawa pulang dan akan kembali disalahkan lalu disiksa.


“Nggak! Aku nggak mau pulang! Aku tahu kamu bakal ngapain aku!” tolak Nara yang tidak mau naik motor Rendi.


“Pulang kamu! Kamu harus dikasih pelajaran karena nggak pernah mau nurut sama suami!” tarik Rendi.


Kekuatan Rendi lebih besar daripada wanita itu, hingga berhasil membawa Nara ke motor dan


ikut pulang dengannya. Bahkan saat sampai di kontrakkan, Nara berusaha untuk turun dari


motor lebih cepat dan berlari menjauhi Rendi. Namun sayangnya, dengan cepat Rendi


“Nggak mau! Lepasin aku, Rendi!” teriak Nara sembari digeret masuk ke dalam kontrakan.


Pintu pun ditutup dan Nara langsung dilempar ke ruang tengah. Pria itu langsung melancarkan aksinya, menganiaya istrinya tanpa meminta kejelasan lebih dulu.


“Puas kamu mempermainkan aku, hah?!” geram Rendi.


“Aku nggak pernah nyebarin apa-apa, Rendi! Kita diadu domba!”


PLAK!


Tiap Nara memberikan alasan, tamparan pun melayang di pipi Nara. Membuat wanita itu susah untuk membela dirinya sendiri.


“Alasan aja kamu ya. Siapa juga yang mau adu domba kita? Emang ada yang tahu hubungan


kita berdua selain Gibran sama si Tia sahabat kamu itu?!” hardik Rendi sembari menarik rambut


Nara.


“Pasti ada orang lain! Kita harus cari tahu dulu, Rendi! Sumpah! Bukan aku yang


melakukannya! Kamu boleh lihat hpku kalau nggak percaya!” Nara mengeluarkan ponselnya


dan melemparkannya ke arah Rendi. Pria itu pun melepaskan cengkeraman tangannya dan mengambil ponsel milik Nara.

__ADS_1


Pria itu membuka pesan terbaru, ternyata memang benar ada yang mengirimkan pesan yang


sama dengan Rendi kepada Nara. Bahkan nomornya juga sama-sama tidak diketahui. Nara yang sudah penuh dengan luka lebam di tubuhnya berusaha untuk duduk dan melihat ke arah


Rendi yang tatapannya mulai mereda dan merasa bersalah.


“Puas kamu?” ujar Nara dengan nada bicara yang pelan, membalikkan perkataan Rendi.


Sedangkan Rendi yang masih emosi karena belum tahu siapa pelakunya, langsung mengacak-acak rambutnya dan merasa semakin kesal. Niatnya untuk memperbaiki


hubungannya dengan Nara langsung hancur karena diadu domba oleh entah siapa.


“Arghh, sialan!” kesal Rendi.


“Bisa aja orang yang udah mengadu domba kita berada di tempat tadi kita berdebat. Bukannya


itu makin bahaya, Rendi?” ujar Nara.


“Kenapa kamu nggak bilang sih?!”


“Gimana aku mau bilang! Kamu udah langsung marah waktu tau kalau aku ada di sana!


Dengerin dulu lah penjelasan aku biar nggak salah paham gini! Sekarang udah gini, kamu mau


gimana? Puas kamu?!” hardik Nara yang juga kesal dan menitihkan air matanya.


Nara langsung beranjak dari depan tv, mengambil ponselnya, dan masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintu kamar agar Rendi tidak bisa masuk. Ia mengunci dirinya di dalam kamar dan tidak ingin keluar untuk sementara waktu. Hatinya kembali dibuat hancur setelah ia berusaha


untuk memperbaiki, untungnya Syakila ia titipkan lebih dulu.


“Nara, buka pintunya. Maafin aku.” Rendi berusaha kembali membujuk Nara.


“Nggak.”


“Maafin aku karena udah kaya gini ke kamu, aku nggak bermaksud kaya gitu tadi. Aku kebawa emosi, Nara. Please, buka pintunya. Maafin aku ya,” ujar pria itu dengan penuh rasa bersalah


dan berusaha mendapatkan maaf dari Nara.


“Cari aja siapa pelakunya, kamu juga harus cek berkala gosip terbaru di universitas. Lebih baik kamu ke kampus sekarang. Minta tolong sama siapa kek buat nyari pelakunya!” ujar Nara dari dalam kamar.


Rendi pun terdiam sejenak dan langsung berdiri dari depan pintu kamar, yang dikatakan oleh


Nara memang ada benarnya, jika sampai ia terlambat, maka sudah pasti semuanya hancur. Ia


harus mulai bergerak sekarang.


“Aku janji bakal menangkap pelakunya!” ujar Rendi.


Pria itu pun langsung pergi ke luar rumah dan berniat mencari pelakunya. Namun, saat Rendi keluar rumah, satu genggaman tangan meluncur ke pipi Rendi dan membuat Rendi langsung terjatuh.


BUAKH!

__ADS_1


“Arggh!”


__ADS_2