Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Bicara dengan Ayah Mertua


__ADS_3

Nara yang melihat temannya kebingungan itu pun hanya bisa diam dan tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia bingung bagaimana harus menjelaskan apa yang sudah terjadi.


Dari belakang, Gibran memakaikan jaketnya kepada Nara agar tidak terlihat basah lagi sembari berucap, "Kayaknya es krimnya jatuh nggak sih? Ditutup aja pakai ini."


Nara pun langsung melihat ke arah Gibran yang ada di belakangnya dan sedikit terkejut.


"Oh, iya juga ya? Makanya kalau makan es krim pelan-pelan." Tia pun kembali memakan es krimnya itu.


"Kalau gitu, aku balik dulu ya? Udah mau sore nih." Nara pun beranjak dari kursi itu dan pergi ke tempat mbah Tik.


"Aku anter!" Gibran sudah beranjak dari kursinya itu, namun Nara mencegahnya.


"Nggak usah! Kamu di sini aja sama Tia, kasihan Tia sendirian. Ini jaketnya aku pinjam ya? Besok aku kembalikan." Nara pun bersiap pergi dengan mengenakan jaket yang dipinjamkan oleh Gibran.


"Hati-hati ya!" Tia pun melambaikan tangannya kepada Nara, sedangkan Gibran melihat Nara dengan penuh rasa cemas dan khawatir. Meskipun jarak dari rumah mbah Tik sampai cafe itu cukup dekat, namun tetap saja pria itu khawatir.


Keluar dari cafe, Nara langsung menelpon Rendi dan meminta jemput. Rendi pun mengiyakan permintaan istrinya itu dan Nara pun bergegas pergi menjemput Syakila.


Sampai di rumah mbah Tik, Nara terlihat lelah, namun saat melihat wajah Syakila rasanya langsung bahagia dan hilang semua lelahnya, apalagi sampai sana Nara langsung memberikan asi kepada Syakila dan memasukkan jaket milik Gibran ke dalam tas agar tidak ketahuan oleh Rendi. Hingga beberapa menit kemudian, Rendi datang menjemput Nara.


Sesuai dengan janji mereka berdua, mereka langsung pergi ke rumah mertua Nara yang saat itu sedang libur bekerja. Sampai di sana, terlihat ibu mertua Nara langsung menggendong Syakila dan seperti merindukan Syakila.


"Kalian lama banget nggak ke sini, sehat, kan?" tanya ibu mertua.

__ADS_1


"Sehat, Bu. Ini kuliah lagi padat sekali, jadi kami jarang ke sini." Nara tersenyum dan membiarkan Syakila digendong oleh ibu mertuanya.


"Syukurlah kalau begitu, bapak mau bicara sebentar sama kalian berdua, bisa? Biar Syakila sama ibumu dulu." Mendengar hal itu, Nara langsung melihat ke arah Rendi dan bertanya-tanya dalam kepalanya apa yang akan dibicarakan?


Mereka pergi ke ruang tamu dan mulai pembicaraannya.


"Sebenarnya, ini lebih ke antara bapak sama Rendi sih. Tapi karena Nara juga harus tahu, jadi ada baiknya Nara dengar sekalian." Pria itu menatap ke arah Nara dan berusaha untuk tersenyum.


"Bapak mau bicara apa?"


Suasana di sana nampak canggung dan sedikit membuat Nara tidak nyaman karena tidak tahu apa yang akan dibicarakan.


"Gini, Nak. Sebenarnya bapak nggak mau maksa kamu sih, tapi kamu mau nggak kerja sama bapak tiap sore? Nanti bapak bakal kasih kamu uang 30.000 dalam satu hari asalkan kamu berangkat lebih awal dan bantu bapak menjaga gorengan." Mendengar masalah pekerjaan, Rendi langsung mengernyitkan keningnya dan nampak tidak setuju dengan permintaan ayahnya itu.


"Tapi Rendi pasti ada kegiatan, Pak! Mana bisa Rendi kerja sambilan kaya gini? Nanti kalau kerjaanku keteteran gimana?" Rendi mulai protes kepada ayahnya sendiri.


"Tapi, Pak. Aku serius banyak banget kerjaan. Apalagi aku ini ketua BEM, belum lagi ngimbangin nilai aku yang harus bagus. Bapak nggak bisa bantu aku setahun gitu? Biar aku fokus sekolah dulu, dan bapak kasih uang aku seperti biasa." Nada bicara Rendi justru seperti meminta kepada bapaknya.


"Ibu kamu yang nggak setuju, Nak. Karena yang tadi sudah bapak bilang, kamu itu harus bisa mandiri dan belajar bertanggung jawab. Lagian jual gorengan juga cuma nunggu aja, terus cuma dari jam 5 sore sampai jam 8 malam kamu bisa dapat 30.000, bahkan bisa dapat 50.000. Bukannya itu menguntungkan buat kalian berdua?" Ayah mertua Nara mulai sedikit kesal dengan sikap putranya.


"Ya iya pak. Tapi akunya yang nggak bisa! Kalo aku capek gimana? Nggak bisa belajar gimana?" Rendi terlihat mulai manja kepada ayahnya sendiri.


"Nggak. Kamu harus bisa melakukannya, karena bagaimanapun juga kamu harus bertanggung jawab atas perbuatan kamu ini, dan kamu kerja sama bapak itu sebagai bukti kalau kamu adalah pria bertanggung jawab! Kamu harus mulai sadar, Rendi!" Ayahnya Rendi mulai terlihat kesal.

__ADS_1


"Ck!"


Rendi pun berdecak kesal dan memalingkan pandangan dari hadapan ayahnya sendiri. Hal itu membuat Nara jadi semakin canggung dan takut. Lalu, ia baru tahu jika Rendi bisa bersikap manja seperti itu kepada ayahnya.


"Nara, kalian berdua hidup dengan uang apa sekarang?" tanya mertuanya.


"Ibu selalu transfer tiap minggu, Pak. Soalnya buat bayar penitipan Syakila juga." Nara menjawab dengan gugup.


"Tuh! Kamu nggak malu? Mertua kamu aja begitu baik sama kamu, ngasih uang ke kalian secara cuma-cuma. Kenapa kamu disuruh kerja berapa jam aja susahnya minta ampun! Kamu mau malu-maluin bapak?!" hardik pria itu dengan nada bicara yang mulai tinggi.


Rendi pun terdiam dan masih terlihat marah. Namun, Nara menggenggam tangan Rendi dan membuat Rendi menatap wajah istrinya itu. Nara pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya saja, seakan meminta pria itu untuk mengambil keputusa terbaik untuk keluarga kecilnya itu.


Rendi mengehela nafas panjang dan melihat ke arah ayahnya.


"Maaf, Pak. Rendi lepas emosi. Iya, aku bakal bantuin bapak. Tapi, mungkin jam 5 baru bisa ke sana, karena setidaknya aku pulang jam 4 sore." Rendi nampak mengiyakan permintaan bapaknya itu.


Mendengar putranya berkata seperti itu, ayahnya Rendi pun tersenyum dan langsung mengucap syukur.


"Alhamdulilah, akhirnya kamu mau juga. Terima kasih ya, Nak. Kamu sudah menunjukkan kalau kamu benar-benar bertanggung jawab." Ayahnya Rendi langsung beranjak dan menepuk pundak putranya itu.


"Malamnya, Nara di rumah sama Syakila nggakpapa, kan?" Pria itu memastikan keadaan menantu dan cucunya.


"Tidak apa-apa, Pak. Saya berani kok." Nara tersenyum dan membuat mertuanya lega.

__ADS_1


Rendi pun hanya bisa menghela nafas panjang, yang sebenarnya dia sama sekali tidak setuju jika dia mengambil pekerjaan seperti itu.


Yang pertama karena gengsi. Kedua, karena dia jadi banyak kerjaan dan pasti capek. Lalu yang terakhir, dia jadi jarang bertemu Adel dan akan lebih banyak kerjanya. Hal itu membuat Rendi sedikit kesal, namun tak bisa melakukan apa-apa selain pasrah.


__ADS_2