Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Awal Kehancuran Rumah Tangga


__ADS_3

Nara semakin susah untuk bernafas, dia sendiri sudah pasrah dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Karena kehilangan akal sehat, Nara pun mulai bicara blak-blakkan.


"Aku akan menceraikan kamu, Rendi. Aku juga akan bawa anak aku untuk menjauh dari kamu, aku bakal bongkar semua kebusukan kamu di hadapan semua orang. Agar semua orang tahu, bahwa ketua BEM universitas kita ini sama sekali tidak bermoral!" ancam Nara.


"Brengsek kamu ya! Kamu emang sengaja bikin aku emosi ya! Mati aja kamu sekalian! Mati! Mati!" Rendi semakin kuat menekan leher Nara dan nafasnya semakin sesak.


Pandangan Nara mulai kabur, Nara juga masih berusaha untuk keluar dari jerat cengkeraman pria itu. Nara bahkan hampir kehilangan seluruh pendengarannya.


"Orang tuaku tidak akan pernah memaafkanmu!" ujar Nara.


Hingga terdengar suara orang membuka pintu dan membuat Rendi terkejut. Namun, karena ruangan yang begitu sempit dan mudah dijangkau, amarah Gibran langsung meluap-luap saat dirinya melihat Nara sedang dicekik oleh Rendi. Tak sempat terkejut dengan kehadiran Gibran, Gibran langsung menarik kerah Rendi dan memukul pipi pria itu dengan sangat keras.


BUAKH!


Rendi terjatuh dan kepalanya terantuk tembok. Nara yang berada di genggaman Rendi pun terjatuh dan ia langsung batuk berkali-kali. Ia berusaha mengatur nafas dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Terlihat Gibran langsung menghampiri Rendi.


"Nara! Nara? Kamu nggak papa?" Gibran melihat bekas cengkeraman tangan di leher Nara, membuat Gibran semakin murka.


Rendi melihat ke arah Gibran dan bangkit, melihat ke arah istri dan juga seorang pria yang berusaha menolong Nara. Rendi tersenyum sinis melihat mereka berdua.


"Oh, jadi gini cara kamu berlindung ya? Percaya sama pria yang kelakuannya nggak bener ini! Dia bahkan lebih brengsek dari aku loh!" Rendi tersenyum seakan merasa paling benar.


"Gue udah pernah memperingatkan lo ya! Gue yang bakal maju kalo sampai lo berani nyakitin Nara!" ucap Gibran dengan penuh amarah.


"Kenapa lo selalu ikut campur urusan gue! Padahal gue nggak pernah—"


BUAKH!

__ADS_1


Satu pukulan kembali melayang ke arah Rendi. Gibran langsung menarik kerah baju Rendi dan memojokannya.


"Nara, kemasi barang-barang kamu sama Syakila. Pulang ke rumah orang tuamu sekarang!" pinta Gibran.


Nara yang ketakutan dan merasa sakit langsung berusaha berdiri dan segera mengemasi pakaian Nara dan juga Syakila. Terlihat Syakila juga menangis dengan sangat keras. Syakila mengutamakan untuk menenangkan putrinya lebih dulu.


"Lo mau ngapain! Nara istri gue! Gue yang bakal anter dia balik besok!" Rendi masih keras kepala.


"Mana bisa gue percaya sama cowok brengsek kaya lo! Gue kira, selama ini Nara diem aja karena lo nggak pernah ganggu dia lagi, ternyata gue salah. Nara begitu sayangnya sama lo sampai dia nggak mau ninggalin lo!" geram Gibran yang cengkeraman tangannya semakin erat di kerah Rendi.


"Gue ngelakuin itu buat kebaikan keluarga gue! Lo nggak bakal tahu rasanya! Punya tanggung jawab gede dan harus kerja sana-sini buat ngidupin keluarga. Padahal gue masih harus kuliah."


"ITU RESIKO LO!" bentak Gibran seakan berkata bahwa semua itu memang sudah harus dia terima. "Status lo tuh suami! Lo juga punya kewajiban buat kerja dan menafkahi istri lo, baik secara lahir maupun batin! Bukan malah lo nyari cewek lain karena Nara udah nggak menarik! Dia nggak pernah dandan karena lo nggak pernah bantu dia ngurus Syakila!" Gibran terus memojokkan pria itu.


"Apa yang lo tau soal keluarga gue? Syakila sama Nara itu beban buat gue! Mereka sama sekali nggak bisa ngertiin gue! Apalagi bayi haram satu itu! Nangis terus kerjaannya, males gue!" Rendi masih berani menjawab.


Buakh!


Pukulan di perut Rendi membuat pria itu merasa kesakitan. Bahkan darah terlihat keluar dari mulutnya. Namun, Gibran nampak tidak peduli sama sekali. Ternyata tenaga Gibran cukup besar.


"Itu pukulan buat lo, karena lo udah nyakitin Nara sama Syakila selama ini! Rasa sakit itu aja masih belum cukup untuk menebus semua dosa lo!" hardik Gibran.


"Berisik banget jadi orang!"


Rendi pun langsung membalas pukulan Gibran, mereka beradu di kamar, sedangkan Nara sangat ketakutan melihat mereka seperti itu. Nara segera menyelesaikan beres-beres pakaiannya agar semua lekas selesai dan dia bisa segera pulang ke rumah.


"Maaf ya sayang, ya. Kalau kamu nggak nyaman digendong mama." Nara mengenakan kain jarik untuk menggendong Syakila sembari berkemas. Ia membawa tas yang besar agar muat untuk memasukkan barang mereka berdua.


Terdengar suara Rendi dan Gibran yang berkelahi di kamar.

__ADS_1


"Liat aja! Gue bakal ambil Nara sama Syakila dari lo. Gue nggak bakal lepasin mereka berdua segampang itu!" Rendi memukul wajah Gibran.


Namun, karena sudah tersulut emosi dan sudah tidak tertahankan lagi, Gibran langsung mendorong Rendi sampai kepalanya membentur tembok, kali ini Gibran memojokkan Rendi dan terus memukul wajah Rendi.


"Jangan harap Nara mau balik sama lo! Langkahi mayat gue dulu baru lo bisa ambil mereka!" hardik Gibran sembari memukul Rendi sampai lemas.


Nara yang sudah selesai berkemas dan melihat itu pun langsung menghampiri Gibran.


"Gibran! Gibran! Udah cukup! Kita pergi ya? Tolong," pinta Nara sembari berusaha mencegah Gibran untuk memukul Rendi lagi. Rendi sudah terlihat lemas dan wajahnya terlihat lebam.


"Awas sampai lo berani sentuh Nara lagi! Gue nggak segan-segan menghabisi lo!" ancam Gibran.


"Nara, jangan pergi," pinta Rendi dengan raut wajah memelas dan membuat Nara hampir luluh.


"Perbaiki dulu sikap kamu, aku kasih kamu kesempatan selama KKN ini. Selepas itu, jika kamu masih tidak berubah. Aku akan menceraikanmu," ujar Nara.


Nara langsung menarik Gibran dan mengajak pria itu keluar bersama Syakila. Gibran membawa koper Nara dan memasukannya ke dalam mobil. Nara tak sempat bertanya-tanya, mobil siapa, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.


Nara meninggalkan Rendi di rumah itu, meskipun sebenarnya Nara sendiri tidak tega, selagi mobil itu pergi, Nara terus menerus melihat ke rumah kontrakannya itu. Saat sudah jauh, ia menitihkan air matanya dan menangis sesenggukan.


"Sabar ya, Nara. Nggakpapa, semua udah baik-baik aja kok." Gibran merasa iba dengan wanita itu dan mengusap punggung Nara perlahan.


"Terus sekarang aku harus gimana?" Nara nampak kebingungan.


"Kamu ngekos sendiri dulu ya? Terus, fokus sama KKN dulu aja. Besok aku antar kamu pulang ke rumah. Setelah itu, terserah kamu mau cerita sama orang tua kamu atau nggak. Saranku, lebih baik cerai." Gibran memberikan saran yang cukup berat untuk Nara.


Ia bahkan tidak menyangka jika dirinya sekarang ada di pernikahan yang cukup menyakitkan untuk dirinya. Nara bahkan belum sempat cerita kepada Gibran, ia menangis sesenggukan di depan putrinya yang sedang meminum susu formula.


Gibran pun membawa Nara ke rumahnya lebih dulu. Nara tidak akan bisa berpikir jernih jika tinggal sendirian.

__ADS_1


__ADS_2