
"Lantas bagaimana ayah harus menjelaskan kepada keluarga Nara? Bapakmu ini merasa sangatlah tidak bertanggung jawab, apa kau sudah puas menghancurkan nama baik bapakmu ini?" tanya sang ayah mertua.
"Maaf, Pak." Rendi hanya bisa berucap seperti itu.
"Kamu nggak kasihan sama bapak? Nggak kasihan sama Syakila? Kami ngga
"Bukan salah Rendi, Bu. Nara juga salah karena tidak bisa menjadi istri yang baik untuk Rendi," ucap Nara dengan air mata yang sudah membendung di pipi.
Ibu tiri Rendi langsung mendekati Nara dan cucunya, lalu menggendong cucunya dalam pelukannya.
"Ibu boleh gendong Syakila untuk yang terakhir kalinya kan?" tanya sang ibu mertua.
"Boleh, Bu."
__ADS_1
Isak tangis semakin terdengar kencang kala kedua orang tua Rendi menggendong Syakila. Rendi melihat ke arah Nara dengan tatapan mata yang begitu bersalah. Sedangkan kedua orang tuanya sangat menyesali apa yang sudah terjadi diantara mereka berdua. Ayah mertua yang melihat adanya kontak mata di antara mereka berdua, langsung mengajak istri dan cucunya pergi dari hadapan mereka.
"Nak, silakan kalian berdua bicara lebih dulu. Barangkali ada hal yang ingin kalian katakan sebelum berpisah," ucap sang ayah mertua.
"Terima kasih, Pak." Rendi merasa senang karena ayahnya begitu peka dengan dirinya.
Di ruangan itu hanya tinggal mereka berdua saja, Rendi duduk di sebelah Nara dan mereka sama-sama menghela nafas panjang. Air mata terbendung di pipi Rendi karena dia sangat menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan.
"Jadi, ini akhir dari hubungan kita ya?" tanya Rendi.
Rendi nampak bersedih mendengar kata-kata tersebut dari Nara. Dalam hati kecilnya, dia masih tidak rela, meninggalkan wanita yang selalu mensupport dirinya sampai saat ini.
"Maaf aku belum bisa jadi suami yang baik buat kamu. Seandainya bisa kembali, apa aku boleh memperbaiki semuanya dari awal dan rujuk denganmu?" tanya Rendi.
__ADS_1
Nara terdiam sejenak, dia ingin mengiyakan apa yang dikatakan oleh pria itu, namun, ternyata sudah ada nama pria lain di hati Nara yang membuat dirinya tak bisa lagi menerima Rendi.
"Jika rasaku masih sama, maka kita bisa memperbaiki semuanya. Namun, aku tak menjamin hal itu," ujar Nara yang tidak ingin memberikan harapan kepada pria itu.
Rendi merenungi perkataan Nara, sepertinya sikap dan tingkah Rendi di masa lalu tidak bisa diperbaiki lagi. Ia tak bisa memaksa Nara, karena memikirkan keadaannya saja sudah runyam.
"Boleh aku memeluk dirimu untuk yang terakhir kalinya?" tanya Rendi.
Nara menganggukkan kepalanya agar membuat pria itu bisa lega. Rendi mendekat kepada Nara dan memeluk wanita itu dari depan. Nara menepuk punggung mantan suaminya itu dengan lembut.
"Semangat ya, Rendi. Jika kamu butuh aku, aku sebisa mungkin akan datang." Nara kembali menenangkan pria itu. Bahu Rendi bergetar hebat dan air mata langsung mengalir di pipi pria itu.
Nara sudah tidak lagi merasakan adanya rasa sayang di antara dirinya dan Rendi, rasa itu sudah pergi perlahan selagi ia belajar untuk mengikhlaskan.
__ADS_1
Saat suasana haru sedang tercipta di ruangan tersebut, tiba-tiba terdengar teriakan seorang wanita yang datang dan berusaha masuk ke ruang tamu dari arah dapur.
"MANA CEWEK ITU! SUDAH KUBILANG DIA ITU PEMBAWA SIAL! BIARKAN AKU BERTEMU DENGAN WANITA SIALAN ITU!" hardik seorang wanita yang membuat kegaduhan dari dalam rumah dan membuat Rendi langsung memasang badan melindungi Nara, dia tahu betul suara itu.