
"Ntar aku jelasin."
Nara menghapus air matanya karena melihat dosen masuk ke dalam ruangan mereka. Hal itu membuat Tia penasaran karena tidak mendapat jawaban dari Nara. Sepanjang perkuliahan, ia terus menerus memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dan apa maksud dari foto tersebut.
Hingga perkuliahan selesai, Tia mengajak Nara ke kontrakan Tia. Namun, Gibran yang melihat hal itu langsung penasaran, karena mereka mengabaikan keberadaan Gibran yang ada di hadapan mereka.
"Mereka kenapa? Kok serius gitu deh kayaknya," gumam Gibran yang lalu mengikuti mereka berdua sampai ke kontrakan lama Nara, yaitu tempat Tia mengontrak saat ini.
Masih ada waktu kosong 3 jam sebelum ke perkuliahan terakhir, hal itu ia gunakan untuk mengajak Nara bicara berdua agar lebih tenang. Mereka langsung masuk ke kamar Tia dan Nara pun duduk di kasur wanita itu. Sudah lama sekali dia tidak datang ke tempat sahabatnya itu.
"Gue ambil minum dulu, lo siapin aja dulu apa yang mau lo omongin. Santai aja," ucap Tia sembari menepuk pundak Nara.
"Sorry ya, jadi ngerepotin kamu."
"Halah! Apaan sih, santai aja!"
Tia pun berlalu dan mengambilkan minum untuk Nara, sedangkan Nara menghela nafas panjang dan bersiap untuk bicara. Yang sebenarnya dia sama sekali tidak siap dengan apa yang akan dia sampaikan hari ini. Namun, jika dipendam terus, Nara sendiri yang akan hancur.
Saat Nara sedang bersiap untuk bercerita, ponsel Nara berbunyi. Ada satu pesan masuk dari Gibran.
[Ada apa? Kamu buru-buru gitu sama Tia. Terjadi sesuatu?] Gibran mengirimkan pesan kepada Nara.
[Aku mau bicara soal Syakila ke Tia.]
Nara hanya menjawab singkat saja, ia melihat pesan Rendi yang ternyata masih dibaca saja. Seakan tak ada lagi pintu maaf untuk dirinya. Nara menghela nafas panjang dan merasa sudah siap menceritakan semuanya.
Tia masuk ke kamarnya sembari membawakan minuman dingin dan meletakkannya di meja. Lalu duduk di sebelah Nara agar Nara bisa bercerita dengan nyaman.
__ADS_1
"Jadi, kenapa? Sebenernya ada apa? Sampai lo bisa down kaya tadi." Tia sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya itu.
Nara menghela nafas panjang dan menceritakan apa yang telah terjadi.
"Sebenarnya, aku hamil di luar nikah bersama Rendi. Sekarang, kita hidup bertiga, makanya aku pindah kontrakan dan merahasiakan ini ke publik." Nara memberikan penjelasan singkat yang mewakili semuanya.
Namun, Tia terdiam dan mengangkat sebelah alisnya, tidak mengerti mengapa bisa begitu.
"Lo serius? Kok bisa sih?! Gue mau dengerin dari awal, pokoknya sampe gue paham!" paksa Tia.
Karena sudah telanjur juga, Nara pun menceritakan semuanya. Dari dia hamil, sampai melahirkan Syakila, hingga alasan mengapa dirinya menangis di pagi hari ini.
Mendengar situasi yang terjadi, Tia menutup mulutnya dan terkejut. Ia tidak menyangka jika semua akan menjadi seperti ini, dan dia sama sekali tidak tahu perihal sahabatnya sendiri.
"Kenapa lo nggak cerita sih, Nara! Gue ngerasa nggak guna banget jadi sahabat deh!" Wanita itu merasa sedih dan kesal karena mendengar hal itu.
"Terus, kalian sering bertengkar? Dan sekarang Rendi marah sama kamu gara-gara dia tersinggung?" Tia mulai mengambil kesimpulan dari masalah Nara.
"Iya, udah beberapa minggu ini kita sering banget nggak sependapat dan membuat semuanya berantakan. Rendi bahkan nggak pulang semalem, aku bingung banget harus gimana, Tia." Nara lebih bingung dengan sikap suaminya yang mudah sekali mengambil keputusan tanpa memikirkan Nara. Sedangkan Rendi saja tidak sempat berpikir sebaik dan sepeduli Nara.
Tia menghela nafas panjang dan mulai mencerna apa yang sudah terjadi. Ia belum bisa menerima semua yang dilakukan oleh Nara, serta perlakuan Rendi kepada Nara.
"Lo kenapa sih keras kepala banget! Udah gue bilang jangan deket sama si brengsek itu! Dia tuh nggak bikin hidup kamu bahagia, Nara. Kenapa sih kamu masih aja pertahanin dia. Bahkan sampe punya anak dari dia loh! Gue nggak nyangka banget sih." Tia menggelengkan kepalanya dan merasa bahwa sahabatnya tidak pantas diperlakukan seperti itu.
"Maaf, Tia. Aku nggak tahu kalau ternyata dia jauh lebih jahat dari yang kupikirkan. Aku bahkan nggak bisa menahan rasaku kepadanya, karena dia orang pertama yang ambil perawan aku." Nara menundukkan kepalanya seperti merasa sedih.
Nara menceritakan semuanya, dari awal sampai akhir dan tidak ada yang tertinggal sedikitpun.
__ADS_1
"Dia nggak bales WA kamu sekarang?" tanya Tia.
"Nggak. Dia sering banget gitu, sering ngeread doang kalo lagi marah. Aku sampai bingung harus gjmana ngadepinnya," ucap Nara yang bersedih.
"Astaga, Nara." Tia memeluk sahabatnya itu dengan erat dan merasa kasihan dengan Nara yang selama ini menyembunyikan semuanya sendiri.
"Maafin aku ya, baru bisa cerita ssma kamu sekarang." Nara menangis dalam pelukan wanita itu.
"It's okay. Yang penting kamu sama anak kamu baik-baik aja. Sehat, dan kamu juga baik-baik aja." Tia mengusap punggung Nara dan membuat tangis mereka berdua pecah.
Tia jelas merasa bersalah karena tidak tahu apa-apa soal sahabatnya itu. Dia tidak habis pikir dengan sikap Rendi yang begitu arogant, dia bahkan berani jalan sama wanita lain saat sudah resmi menikah dengan Nara. Ada rasa emosi yang besar terhadap Rendi karena sudah melukai Nara dengan mudahnya.
Mereka pun saling melepaskan pelukan dan berusaha untuk memberikan solusi kepada Nara.
"Kalau dia berlaku seenaknya, biarin aja. Kamu diemin aja, nanti juga dia bisa langsung makin marah. Kamu tahu kan sikapnya dia tuh bocil banget, marahin aja gih sekalian!" Tia nampak emosi mendengarnya.
"Aku udah berusaha abai. Tapi tahu sendiri, nggak segampang itu, Tia."
"Coba dulu, abaikan aja dulu, biar dia sadar diri ya? Nggak usah kamu masakkin apa-apa, biarin dia lapar!" Tia nampak makin menggebu-gebu. "Anak kamu gimana? Sehat kan? Tadi aku lihat fotonya, lucu banget ya ampun." Tia menjadi gemas kepada Syakila.
"He he, iya. Dia anak yang sehat banget kok."
Di luar perkiraan Nara, ternyata Tia begitu wellcome dengan cerita Nara yang penuh pelik, meskipun sebenarnya Tia begitu emosi dengan Rendi, namun dia berusaha tetap sabar di depan Nara.
"Ck! Awas aja kau, dasar berandal kampus! Berani kau sakti Nara, akan kubalas kamu berkali lipat!" Tia nampak tidak terima dan seperti berusaha untuk balas dendam.
Hari itu, Nara menceritakan perasaan sedihnya kepada Tia dan membuat Nara menjadi sedikit lega.0
__ADS_1