
Pada akhirnya, Nara hanya bisa menuruti apa yang dikatakan oleh suaminya. Sedangkan Rendi yang memang berniat pergi pun berhasil keluar, meskipun dengan mengorbankan keluarga kecilnya itu. Perasaan Rendi sangat senang kala dia pergi dan diijinkan oleh Nara.
"Tumben banget nggak sampai debat panjang, ya meskipun nyebelin sih akhirnya. Tapi lumayan deh dia nggak senyebelin kaya biasanya," gumam Rendi yang berada di atas motor dan sedang berjalan menyusuri sekitar kampus, lalu masuk ke dalam gang kecil. Gang yang sering dia lewati beberapa hari ini.
Rendi sampai di satu kos-kosan yang sudah sering dia datangi juga, tanpa ragu dia langsung masuk ke dalam kos-kosan wanita itu dan masuk ke dalam kamar yang ada di pojokan. Hingga saat Rendi membuka pintu, ia melihat seorang wanita dengan kaos yang panjang sampai menutup betisnya. Ia juga mengucir rambutnya, dan harum tubuhnya terasa sampai ke hidung Rendi.
"Hai, Sayang. Kamu serius nginep sini ternyata ya?" goda Adel.
"Iya, aku badmood banget di rumah. Lagi pengen sama kamu terus," ucap Rendi sembari menutup pintu kamar perlahan.
Rendi mendekati Adel yang sedang tiduran di kasur. Ia melihat wanita itu begitu cantik, dan terawat. Beda dengan Nara yang sudah lama sekali tidak melakukan perawatan diri dan terlihat lebih kucel.
"Kamu serius mau ngelakuin itu juga?" tanya Adel sembari menyangga kepalanya sembari menatap ke arah Rendi.
Rendi pun mengeluarkan waistbagnya dan mengambil sesuatu dari dalam sana. Hingga terlihat alat kontrasepsi ditunjukkan ke arah Adel, membuat mata Adel membelalak dan sedikit tidak percaya.
"Seriusan kamu beli itu? Astaga, kamu ngebet banget ya?" goda Adel sembari memegang paha Rendi.
"Gimana aku nggak kegoda? Setiap kita ketemu, kita sempetin waktu buat saling menyentuh. Bahkan kamu juga sering keluar berkali-kali karena tanganku. Gimana aku bisa tahan coba?" Rendi nampak manja kepada Adel yang bukan istrinya.
"Iya iya, habisnya kamu gemes banget. Aku sayang banget sama kamu. Aku nggak nyangka kamu mau ngelakuin sama aku loh, padahal aku tadi siang cuma ngoda sedikit," ucap Adel sembari tersenyum.
__ADS_1
"Nakalnyaa cewek aku ini." Rendi mengusap rambut Adel dengan lembut sembari sedikit menjiwit pipi wanita itu.
Ternyata, mereka sudah merencanakan hal itu dan sudah sejak lama. Semenjak Rendi bertemu dengan Gibran, hal itu tidak membuat Rendi kapok. Dia justru semakin membenci Nara dan juga Gibran karena dianggap sudah bekerja sama. Sedangkan hubungan Adel dan Rendi juga sudah sekitar 3 bulan lebih menjadi kekasih. Sebuah rekor yang cukup lama sepanjang Rendi menagani hasratnya.
"Terus? Kamu serius mau melakukan sama aku?" Adel bertanya sekali lagi.
"Iya lah, sebagai bukti rasa sayangku kepadamu, aku hanya bisa melakukan hal seperti ini. Apa itu kurang buat kamu?" tanya Rendi yang lalu mencium pipi Adel.
Adel pun tersenyum kala pria itu berkata seperti itu. Karena sudah lama sekali ia menahan hasratnya kepada Adel, dia pun mendorong Adel hingga terlihat tubuh indahnya terlentang di atas kasur. Rendi mengangkat kedua tangan Adel perlahan, hingga terlihat dua gundukan kenyal itu semakin terlihat jelas, ternyata Adel tidak menggunakan penutup dada sama sekali. Hal itu membuat Rendi semakin ingin mengotak-atik tubuh Adel, karena melihat gundukan itu terlihat jelas di balik kaos.
Perlahan, pria itu menaikkan kaos Adel perlahan dan memulai aksinya dengan mengotak-atik tubunya. Terdengar suara kecil Adel memenuhi ruangan tersebut, Adel bahkan hanya menggunakan ****** ***** saja, seakan sengaja agar bisa langsung dilepas oleh Rendi.
Hingga pada akhirnya, kini tubuh Adel sudah tidak berbalut apa-apa lagi. Bahkan sehelai benangpun sudah tidak ia kenakan, Rendi melihat tubuh Adel begitu indah, bahkan lebih indah daripada Nara, membuat Rendi tidak tahan lagi.
"Ini pertama buat kamu, kan? Kamu yakin nggakpapa?" tanya Rendi sekali lagi.
"Nggakpapa kok. Jangan khawatir, aku bisa mengatasinya." Adel tersenyum sembari memegang kedua pipi Rendi.
Melihat tubuh moleknya saja sudah membuat Rendi tidak tahan lagi. Rendi mengotak-atik tubuh wanita itu dan membuat Adel terus menerus mengeluarkan suara manisnya itu. Hingga tiba saatnya, ia menyerahkan tubuhnya kepada Rendi.
Rendi sudah mengenakan pengaman sebelum melakukan hal yang selama ini sudah direncanakan jauh-jauh hari. Jantung Rendi berdegup dengan kencang, bukan pertama kali dia melakukan hal seperti ini. Namun, entah mengapa ia sedikit takut dan juga gugup. Rendi menelan salivanya dengan susah payah, antara hasrat yang sudah menggelora dan juga rasa takut menyentuh wanita lain menjadi satu, membuat Rendi bimbang.
__ADS_1
Namun, ini sudah tanggung.
"Kenapa?" tanya Adel dengan raut wajah sedih.
"A-aku takut kamu kesakitan. Ini juga pertama kali buat kamu, kamu yakin mau kasih ke aku?" tanya Rendi yang semakin ragu.
"Lakukan aja, aku nggakpapa, Sayang. Kalau suatu saat nanti nggak sama kamu pun aku bakal mengenang hari ini menjadi hari yang paling indah di dalam hidupku." Adel menenangkan pria itu. Perkataan itu bak sihir untuk Rendi, membuat Rendi semakin percaya diri dan juga yakin.
Akhirnya, Rendi pun mengambil mahkota wanita itu. Pertama kali memasukkan, Adel sempat meringis kesakitan, membuat Rendi terdiam sebentar dan membiarkan wanita itu membiasakan diri, meskipun Rendi tidak tahan untuk menggerakkan tubuhnya karena merasakan sensasi yang luar biasa. Berbeda dari saat bersama dengan Nara.
"Gerakin aja, aku udah terbiasa kok," pinta Adel sembari tersenyum.
"Tahan ya, sakit sebentar, nanti juga lama-lama enak kok," ucap Rendi sembari mengusap rambut Adel.
Wanita itu menganggukkan kepalanya seakan sudah siap melakukan apa yang Rendi katakan. Rendi pun menggerakkan tubuhnya dengan perlahan. Ia tidak menyangka jika ia akan melakukan hubungan suami istri bersama dengan wanita yang bukan istrinya. Ia bahkan sampai membeli pengaman agar wanita kedua yang ia sentuh, tidak kebobolan.
Rasa bersalahnya kalah dengan nafsunya sendiri, membuat dia sendiri tidak peduli lagi dengan apa yang membuat pikirannya terbebani.
Terdengar suara mereka berdua yang menggema di dalam kamar, meskipun baru pertama kali untuk Adel, wanita itu justru terlihat paling menikmati, membuat Rendi semakin bersemangat menggerakkan tubuhnya.
Di atas ranjang panas itu, Rendi menikmati permainan Adel. Hingga Rendi pun mencapai batasnya dan mengeluarkannya di dalam tubuh Adel. Untungnya ia menggunakan pengaman karena banyak sekali yang keluar. Nafas mereka terengah-engah dan nampak keringat keluar dari tubuh mereka berdua. Adel tersenyum bahagia karena pada akhirnya mereka bisa menyatu dan melakukan hubungan terlarang itu.
__ADS_1
"Terima kasih, Rendi," ucap Adel sembari tersenyum dan mengecup kening Rendi dengan lembut. Begitu pun Rendi, yang melakukan hal yang sama kepada Adel.