Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Malam Terakhir


__ADS_3

“Kamu yakin mau cerai?” tanya Gibran yang sejujurnya meragukan perkataan wanita itu.


“Iya, jujur saja aku sudah lelah dengan semua ini, hatiku bahkan langsung mati mendengar perkataan Adel barusan, mungkin Rendi lebih mencintai Adel dari pada aku, jika memang itu yang terjadi,” ucap Nara yang masih berusaha tersenyum untuk menghadapi semua rasa sakit itu.


Gibran yang mendengar hal itu pun ada rasa senang, dan juga sedih. Karena Nara sepertinya jadi tidak bisa menerima cinta yang baru lagi karena hatinya benar-benar sudah mati. Namun, Gibran percaya akan ada hari di mana Gibran bisa mendapatkan Nara.


“Aku bakal bantu. Lalu setelah ini, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Gibran.


“Aku akan mengantarkan Rendi ke rumah kedua orang tuanya dulu, karena dia belum sehat sepenuhnya dan harus ada yang merawat. Setelah itu, aku akan bilang jika aku harus pulang ke rumah. Tolong carikan aku kontrakan atau kos yang bisa kutinggali dengan Syakila,” ujar


Nara sembari memikirkan berbagai macam cara untuk meninggalkan pria itu.


“Oke, aku bakal cariin buat kamu. Kamu yakin mau urus surat cerai kamu?” tanya Gibran.


“Iya, aku bakal cerai sama Rendi. Biar kedua orang tuanya tahu setelah surat cerainya turun


saja, untuk saat ini mereka tidak perlu tahu,” ujar Nara yang sebenarnya tidak tega jika harus


jujur dengan mertuanya yang selama ini cukup baik kepada Nara.


“Baiklah kalau begitu, semangat ya, Nara. Kalau ada apa-apa kabari aku saja, jangan patah semangat ya!” sahut Gibran sembari mengusap kepala Nara dengan lembut.


“Iya, Gibran, terima kasih banyak ya? Kamu selalu dukung aku di saat seperti ini, kamu baik


banget sama aku. Mulai sekarang, aku bakal berusaha untuk membalas semua kebaikan kamu


dan berusaha lepas dari Rendi.” Nara tersenyum di hadapan pria itu, membuat Gibran sedikit lega karena bisa melihat senyumnya lagi.


Saat mereka akan pergi meninggalkan tempat itu, tiba-tiba Adel kembali datang dan


menggebrak meja mereka berdua.


BRAKK!


“Aku yakin kamu pasti puas sekali saat melihat ini.”


Adel membuka telapak tangannya dan melihat adanya testpack di sana. Nara mengambil benda kecil itu dan terlihat adanya dua garis merah di sana.


Sedikit shock melihat kejadian itu,


Nara terdiam sejenak dan dadanya semakin sakit. Gibran langsung berdiri dan mendorong Adel


perlahan.


“Cukup, Adel! Kamu terlalu kejam sama Nara! Kamu nggak mikirin perasaannya? Emang ya kamu sama sekali nggak punya—”


Gibran menghentikan ucapannya saat Nara menggenggam tangan pria itu. Nara juga ikut berdiri dan kini berada di sebelah Gibran.

__ADS_1


“Selamat ya …” Nara berucap seperti itu dengan senyuman. Justru membuat Adel merasa


sangat kesal dan ingin sekali memukul wajah wanita itu. Namun, ternyata Nara belum selesai dengan perkataannya itu. “Selamat datang di neraka.”


Adel mendengar ucapan seperti itu langsung shock dan kesal, bahkan langsung menampar Nara, namun dicegah oleh Gibran.


“Cukup, Adel. Sikapmu sudah keterlaluan dengan Nara.” Gibran menepis tangan wanita itu dan langsung mengajak Nara pergi karena beberapa orang sudah melihat ke arah mereka dengan penasaran. Lagipula tidak sopan jika mereka bertengkar di rumah sakit.


“Kenapa sih dia terus yang dibela! Padahal kan aku juga pacarnya Rendi, harusnya aku korban dong di sini karena Rendi udah jahat sama aku!” teriak Adel.


Gibran dan Nara pun lalu pergi meninggalkan Adel di sana, Gibran bahkan menutup telinga


Nara agar tidak lagi mendengar celotehan dari Adel yang sangat mengganggu. Ia berusaha melindungi wanita itu apapun yang terjadi, sudah banyak sekali penderitaan yang ia lewati, sepertinya ini puncak dari segalanya. Batas kesabaran Nara sudah habis.


Gibran pun mengantarkan Nara sampai ke dekat kamar Rendi.


“Ya sudah ya, aku masih harus ada di sini semalam lagi, besok baru bisa pulang. Tolong bantuannya ya, Gibran,” pinta Nara sembari sedikit membungkukkan badannya.


“Iya, kalau kamu butuh aku, telpon aja ya? Aku ada di sini juga kok malam ini,” ucap Gibran dengan sedikit khawatir.


“Terima kasih, Gibran.”


Nara pun pergi meninggalkan pria itu dan masuk ke dalam kamar Rendi lagi, sejujurnya ia sangatlah sedih dan kecewa dengan semua yang terjadi. Namun, sepertinya air mata Nara


sudah habis, saat melihat ke arah Rendi dan menyambut Nara dengan senyuman hangat, hati Nara jadi semakin sakit.


“Udah kok, aku malah nggak bisa tidur karena khawatir sama kamu,” Rendi melihat istrinya itu berjalan mendekati sofa dan duduk di sana dengan rasa lelah.


Rendi sedikit menyadari hal itu dan langsung bertanya kepada Nara.


“Kamu kenapa? Capek?” tanya Rendi sembari melihat wanita itu.


“Iya, aku capek banget. Aku tidur sebentar ya sayang,” ujar Nara sembari tidur di sofa karena batinnya sudah sangat lelah.


Saat itu, Rendi pun tidak protes dengan sikap Nara dan bahkan hanya tersenyum saja melihat wanita itu tertidur. Rendi pun sudah bisa membuka ponselnya karena tangannya sudah sembuh. Ia melihat beberapa chat dari teman-temannya dan juga Adel tentunya yang banyak


mengirimi Rendi pesan.


Rendi mengernyitkan keningnya saat melihat banyaknya pesan dari Adel, lalu melihat ke arah Nara yang sedang tertidur. Hatinya tak tergerak untuk membalas pesan Adel sama sekali.


Rendi merasa tenang saat bersama dengan Nara. Akhirnya, Rendi justru mengabaikan pesan itu dan memilih untuk membalas pesan dari teman-temannya.


Di mata Rendi, Adel hanyalah pelampiasan saja, karena bagi Rendi, wanita


yang tulus hanyalah Nara saja, Adel belum tahu buruknya Rendi selama ini, namun Nara sudah


tahu semuanya. Ia semakin merasa bersalah.

__ADS_1


Hingga malam pun tiba, Nara baru saja terbangun dan tubuhnya sudah jauh lebih baik.


Ternyata ia bisa menenangkan pikirannya dengan tidur sebentar, meskipun setelah itu hatinya


kembali bergejolak lagi dan merasa sakit.


“Udah bangun, Sayang?” sapa Rendi.


Nara tersenyum dan meregangkan otot-ototnya. Nara langsung membuka laptopnya dan mengerjakan beberapa tugas yang masih terbengkalai. Ia juga sudah mulai menyusun skripsi


karena ingin segera lulus. Nara sering bertemu dosen pembimbingnya agar dibimbing menyusun skripsi sampai lulus. Ia tidak peduli dengan Rendi yang masih belum memikirkan skripsi atau apapun itu.


“Kamu marah sama aku?”


DEG!


Nara sedikit terkejut dengan pertanyaan Rendi itu. Ia pun kembali menutup laptopnya dan mendekati Rendi dengan senyuman.


“Engga kok, kenapa sih? Kamu mikir apa?” tanya Nara.


“Bukan hal yang penting sih. Aku takut kalau kamu marah.”


“Nggak kok. Mulai saat ini, kamu harus berusaha sampai lulus kuliah ya, Rendi. Nggak usah mementingkan hal-hal yang nggak ada manfaatnya buat masa depan kamu. Kaya nongkrong


sama temen-temen kamu, karena mereka itu cuma sementara di dalam hidup kamu. Gunakan


waktu kuliah kamu dengan baik,” ujar Nara sembari menggenggam tangan suaminya dan


tersenyum.


“Hah? Maksud kamu apa sih? Kok ngomongnya gitu?” tanya Rendi yang bingung dengan sikap istrinya.


“Nggakpapa, aku takut aja nggak bisa selalu ada di sisi kamu. Lalu, kalau itu terjadi aku nggak


mau sampai kamu terpuruk dan bahkan melakukan hal yang nggak penting! Kamu dipilih


sebagai ketua BEM karena kelebihan kamu. Jadi, jaga diri baik-baik ya, Sayang.” Nara


mencium punggung tangan suaminya itu dengan lembut.


Rendi semakin heran dengan perkataan wanita itu, namun, ia tidak bisa memikirkan apa yang sedang terjadi sampai Nara bisa berucap seperti itu karena ia merasa semua baik-baik saja.


“Aku bakal berusaha, Nara. Terima kasih ya, kamu mau ngingetin aku.” Rendi mengusap kepala


Nara dengan lembut.


Hingga percakapan mereka pun berakhir karena ada panggilan video dari mertua Nara. Rendi merasa sedikit ganjal dengan Nara, namun dia tidak bisa memikirkan apapun untuk saat ini. Karena saat bersama Nara, hatinya benar-benar tenang, tanpa tahu jika ini adalah malam

__ADS_1


terakhir Rendi bersama Nara.


__ADS_2