Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Simpati dari Orang Lain


__ADS_3

Tiga bulan pun berlalu, di mana libur mereka sudah usai. Nara sudah harus masuk kuliah juga. Untungnya, Nara mendapatkan kenalan orang yang bisa menjaga Syakila saat Nara kuliah dari tukang pijit yang saat itu memijit Nara.


Saat melihat orangnya, sebenarnya Nara sedikit ragu, karena wanita yang akan merawat Nara sudah cukup tua, namun cukup energik dan juga cerewet. Nara hanya takut jika sesuatu terjadi kepada orang yang merawat Syakila itu.


"Hari ini Syakila di titipin kan?" tanya Rendi kepada Nara yang sedang menyiapkan beberapa keperluan yang dibutuhkan oleh putri kecilnya itu.


"Iya, apa menurutmu semua akan baik-baik saja?" tanya Nara.


"Tenang saja, aku justru lebih percaya dengan orang yang sudah tua, karena dia pasti berpengalaman. Kalau sama yang masih muda, belum tentu dia bisa sabar." Rendi juga nampak tengah bersiap untuk pergi.


Meskipun banyak berdebat, kehidupan pernikahan mereka nampak baik-baik saja. Namun, Nara terus berusaha untuk bersabar dan juga mengalah. Ia masih memikirkan kehidupan Syakila selanjutnya, ia tidak tega jika memiliki keluarga yang broken home. Rendi juga selalu mengatakan bahwa ia tidak ingin anaknya bernasib sama dengan dirinya, sayangnya sikap pria itu cukup susah untuk diubah.


Mereka pun siap untuk berangkat kuliah, Rendi mengantarkan Nara ke tempat Syakila diasuh lebih dulu, baru setelah itu menurunkan Nara di dekat kampus.


Hari pertama ia menitipkan putrinya, rasanya berat sekali, mengingat Syakila selalu berada di sisi Nara. Namun, dia harus berpisah dengan Syakila sebentar karena Nara harus menyelesaikan kuliahnya.


"Aduh, lucunyaa. Nanti anaknya mau dijemput jam berapa?" tanya wanita tua itu kepada Nara dengan senyuman yang begitu tulus saat menggendong Syakila.


"Hari ini saya sampai sore, Mbah. Mungkin jam 4 baru bisa saya jemput, apa nggak papa?" tanya Nara yang sedikit cemas.


"Nggak masalah, yang penting pakaiannya sudah disiapkan. Nggak minum asi kah?"


"Minum, mungkin nanti saya siang ke sini buat menyusui sebentar, Mbah Tik," jawab Nara sembari mengusap pipi putrinya.


"Oh, boleh. Bagus malah, kasihkan kalau full susu formula, masih 3 bulan juga. Biar nggak bengkak juga dada kamu, kalau bengkak malah bahaya." Wanita itu justru memberikan edukasi kepada Nara.


"Eh? Bengkak?" Nara belum mengerti dengan apa yang dikatakan oleh wanita tua itu.


"Nanti pasti kamu ngerasain. Sudah sana berangkat, nanti terlambat! Jangan khawatir sama Syakila, soalnya kalau ibunya khawatir, biasanya anaknya nangis terus." Bak sudah sering merawat bayi, wanita itu banyak sekali memberikan edukasi kepada Nara.

__ADS_1


Nara pun mulai percaya dengan mbah Tik. Wanita tua itu nampak sangat baik. Setelah dari rumah wanita tua itu, Nara langsung pergi ke kampus bersama dengan Rendi. Sebelum sampai kampus, Nara sudah turun dulu di pintu masuk kecil yang berada di dalam gang. Sedangkan Rendi masuk lewat gerbang utama kampus.


"Pulang nanti mau dijemput?" tanya Rendi.


"Nanti aja kalau udah di tempat Mbah Tik. Sekalian bawa pulang Syakila, aku bisa ke tempat beliau sendirian kok, rumahnya dekat." Nara mencium punggung tangan suaminya itu.


"Ya udah, semangat ya!" pungkas Rendi.


Nara pun membalas ucapan pria itu dengan senyuman. Setelah tiga bulan terus menerus bersama Syakila dan Nara bahkan tidak pernah me time sedikitpun, pergi ke kampus adalah me time terbaik untuknya.


Ia masuk ke kelasnya yang ada di gedung lantai 3, saat akan naik, ia bertemu dengan Tia.


"Nara!" panggil Tia yang sedikit terkejut saat melihat Nara. "Kok kamu kurusan sih!" lanjut wanita itu saat sudah berada di sebelah Nara.


"Kamu ngeledek?" tanya Nara.


"Nggak kok, serius! Aku bahkan tadi ragu loh kalau yang aku panggil itu kamu, ternyata pas disamperin beneran kamu. Diet?" tanya Tia.


Sepertinya efek dari melahirkan dan menyusui, tubuh Nara jadi mengecil, namun, Nara sama sekali tidak menyadari hal itu.


Nara pun mengikuti dua mata kuliah, dari jam 8 sampai 10, lalu jam 10 sampai jam 12. Sepanjang Nara kuliah, ia sedikit mencemaskan Syakila, baru pertama kali ini dia meninggalkan Syakila cukup lama.


Setelah pukul 12 siang, terlihat dada Nara membengkak dan penuh dengan asi. Rasanya sakit sekali jika tersentuh sedikit.


"Ugh, ternyata ini yang dimaksud oleh Mbah Tik tadi," ujar Nara yang baru paham perkataan wanita tua tadi. Ia tidak mengeluarkan asinya sama sekali, alhasil menjadi bengkak dan penuh dengan asi. Rasanya luar biasa nyeri dan sakit.


"Habis ini mau ke mana lo?" tanya Tia.


"A-aku mau balik dulu sebentar nih. Kuliah lagi jam 2 kan?" tanya Nara.

__ADS_1


"Serius mau balik?" tanya Tia.


"Iya, aku lupa bawa buku buat nanti nih!" dusta Nara.


Karena Tia juga tidak berhak mencegah, ia pun membiarkan Nara pulang dulu. Nara pun bergegas pergi ke tempat Syakila di titipkan. Ia memang sengaja menitipkan di rumah Mbah Tik, karena mau bagaimanapun juga Nara adalah orang yang membutuhkan jasa wanita tua itu, jadi, dia harus bisa mengerti jika wanita tua itu tidak bisa meninggalkan rumahnya karena di rumah beliau masih banyak yang harus dikerjakan dan diurus, termasuk merawat suami dan juga putrinya sendiri.


Sampai di tempat mbah Tik, terlihat Syakila sedang menonton tv bersama dengan beliau, ia terlihat anteng dan juga begitu lucu. Ternyata Syakila nampak bahagia.


"Oh? Udah balik, Nak?" sambut wanita tua itu.


"Sudah, nanti habis dhuhur balik lagi ke kampus, Mbah."


Nara langsung mengangkat putrinya dan meletakannya di pangkuan Nara, bersiap untuk menyusui putrinya itu.


"Tuh, bengkak, kan? Sebelum dikasih ke anak, di kocok dulu sebentar, soalnya kalau nggak dikocok, asinya jadi bening dan kurang sehat," pungkas wanita tua itu.


Sedangkan Nara sedikit takut ingin mengusap dadanya sendiri, disentuh sedikit saja terasa keras dan sakit, apalagi jika harus dikocok, atau dipijit. Tidak Mau anaknya kenapa-kenapa, Nara pun berusaha menahan sakitnya dan berhasil menyusui anaknya. Ia merasa sangat lega.


"Kamu nggak pakai kain lagi? Biar baju kamu nggak basah," ucap wanita tua itu mengambilkan popok kain untuk Nara. "Pakai ini, Nak. Disumpel aja di bh kamu biar baju kamu nggak basah, terus biar nggak netes waktu kamu lagi menyusui sebelah."


Nara baru tahu hal itu, dan langsung mengambil kain pemberian mbah Tik dan menempelkannya di dada yang satunya. Setelah yang kiri diminum Syakila, ia pun memindahkan Syakila ke dada kanan Nara. Rasanya sangat lega, dan semua sakitnya langsung menghilang begitu saja. Ia seperti membawa batu yang berat di dadanya.


"Emang nggak ada yang kasih tahu kamu, Nak?" tanya mbah Tik kepada Nara.


"Nggak ada, soalnya saya merawat Syakila sendirian," pungkas Nara.


"Astaga, kasihan sekali. Nanti kalau kamu nggak tahu harus bagaimana, boleh tanya mbah ya. Soalnya ibu sama anak itu harus sehat, apalagi makan dan cara merawatnya. Apalagi seorang ibu, itu harus serba bisa," urai wanita tua itu sembari melihat Nara yang sedang menyusui Syakila.


"Terima kasih, Mbah. Saya belajar banyak dari mbah." Syakila nampak bersyukur sekali bertemu dengan pengasuh seperti beliau.

__ADS_1


"Yang sabar ya, Nak. Harus semangat!" ujar mbah Tik sembari mengusap punggung Nara dengan lembut.


Nara pun terharu mendengar ucapan beliau, ternyata orang asing justru lebih peduli kepada Nara dibandingkan dengan mertua atau kerabatnya Rendi yang merupakan keluarga Nara saat ini.


__ADS_2