
Nara terlihat menikmati waktu-waktu bersama dengan keluarganya, terlebih, jika Syakila rewel atau menangis, ibunya Nara siap untuk membantu menenangkan Syakila. Ia benar-benar merasa menjadi seperti seorang putri di rumahnya sendiri.
Sedangkan Rendi di kontrakan, pagi-pagi sekali dia sudah siap untuk pergi ke kampus, karena memang ada beberapa hal yang harus dibicarakan oleh semua pengurus BEM.
Rendi sudah nampak rapi dengan kemejanya, ia bahkan mengenakan wewangian dan membayangkan hari ini akan menjadi hari yang sangat indah untuknya. Saat jam menunjukkan pukul 8 pagi, Rendi pergi ke kos-kosan Adel lebih dulu dan menjemputnya. Mereka sudah janjian untuk bertemu lebih dulu, dan Rendi menjemput Adel.
Sampai di kos-kosan yang berada di dalam gang kecil dan cukup terpencil, Adel sudah menunggu Rendi di depan gerbang.
"Mau masuk dulu nggak?" tanya Adel.
"Hah? Emang boleh masuk?" Rendi sedikit terkejut saat ditawari seperti itu oleh seorang wanita yang menyukainya.
"Boleh kok, kos-kosanku mah bebas bawa siapa aja." Adel mengedipkan sebelah matanya ke arah Rendi, membuat Rendi sedikit susah menelan salivanya dan merasa sedikit gerah.
"Ng-nggak deh. Langsung aja yuk? Kita pasti udah ditunggu sama mereka," ucap Rendi mengajak Adel untuk pergi.
"Ya udah, ayo."
Adel pun naik ke motor Rendi dan langsung memeluk Rendi dengan erat. Rendi bahkan tidak mencegah hal itu sama sekali.
"Kalau ketahuan anak-anak gimana?" tanya Adel.
"Ketahuan apa sih? Aku jemput temen sendiri emang merupakan hal yang aneh ya?"
Ucapan Rendi itu justru membuat Adel kesal, namun, wanita itu masih sangat bersabar dan membiarkan Rendi berucap seperti itu.
Sampai di parkiran motor, Rendi masuk bersama dengan Adel ke dalam kawasan kampus hingga sampailah mereka ke gazebo kampus, tempat mereka berkumpul. Semua orang jelas curiga dengan sikap Adel dan juga Rendi yang nampak jalan berdua dari arah parkiran.
"Ciye ada pasangan baru nih!" ucap Tama sembari memprovokasi teman-teman Rendi agar ikut berpikiran yang sama dengan Tama.
Di situ, Adel langsung tersenyum saja dan terlihat malu-malu kucing, sedangkan Rendi juga hanya diam saja. Mereka pun mengadakan rapat sebentar dan selesai jam 1 siang. Karena Rendi berangkat bersama dengan Adel, pulang pun bersama dengan Adel. Mereka sudah tidak peduli lagi apa kata teman-temannya.
__ADS_1
Sampai di kos-kosan Adel, terlihat Adel nampak sempoyongan dan bahkan hampir terjatuh.
"Eh? Kamu kenapa?!" Rendi terlihat mulai panik dan langsung menangkap tubuh ringkih wanita itu.
"Pusing banget serius, mungkin belum minum obat sih. Boleh minta tolong anter sampai kamarku nggak?" tanya Adel dengan lemas.
"Ya udah aku anterin, ayo."
Rendi langsung turun dari motornya dan segera pergi memapah Adel yang terlihat lemas dan masuk ke dalam kos-kosan Adel.
Sampai di dalam kos yang cukup banyak kamar di dalamnya, dan terlihat pintu yang berjajar di lorong, Rendi membawa Adel masuk ke dalam kamar yang bertuliskan nomor 10 dan berada di ujung ruangan juga.
Adel membuka pintu dan Rendi pun baru pertama kali ini melihat kamar seorang wanita selain Nara. Kamar Adel nampak rapi dan sederhana, serta banyak hiasan di kamarnya, dan juga bau wangi khas Adel.
Rendi meletakkan Adel di kasur dan Adel langsung terbaring di ranjang dan menghela nafas panjang.
"Kamu baik-baik aja? Mau aku ambilin minum? Atau apa?" Rendi nampak khawatir dengan wanita itu.
Jantung Rendi berdegup dengan kencang kala ia seperti terjebak di dalam ruangan itu dan tidak bisa keluar sama sekali. Ia langsung berusaha mencari cara untuk keluar dari sana, karena akal sehatnya masih berjalan dan masih ingat jika ia adalah suami sahnya Nara.
"Ya udah, aku balik ya? Soalnya aku ada acara lain nih," ucap Rendi mencari-cari alasan.
Namun, Adel menahan kepergian pria itu dengan menarik lengan tangan pria itu.
"Tunggu, aku mau bicara sama kamu," ucap Adel.
"Hm? Kenapa?" Rendi memberikan senyuman hangat kepada wanita itu.
"Kamu belum jawab soal perasaanku kan? Aku nggak bisa digantungin kaya gini," ucap Adel dengan raut wajah yang bersedih. Membuat Rendi semakin bingung dengan situasinya saat itu.
Rendi terdiam sejenak dan melihat ke arah wanita itu. Jika dilihat lebih lama lagi, ternyata tubuh Adel begitu seksi dan juga dadanya cukup besar. Membuat Rendi sedikit susah menelan salivanya dan sedikit gugup.
__ADS_1
"Ugh ... sudah kuduga dia seksi banget," batin Rendi yang selama ini berusaha untuk tidak melihat ke arah tubuh Adel terlalu lama.
"Aku udah nggak bisa nunggu lagi, Rendi. Kalau kamu mau nolak aku, tolak aja sekarang, biar sekalian aku tanggung rasa sakit ini." Adel sudah semakin berkaca-kaca dan mendesak Rendi untuk bicara.
Rendi menghela nafas panjang dan terlihat gugup. Ia bahkan tidak menyiapkan jawaban untuk hal mendesak seperti ini.
"Adel, sebenarnya aku juga punya perasaan sama kamu. Tapi aku takut mengecewakan kamu dan membuat kamu sakit hati. Apalagi aku minta buat kita nggak pacaran di kampus, kan? Apa itu nggak masalah buat kamu?" tanya Rendi sembari memberikan harapan palsu kepada Adel.
"Itu tidak masalah untukku. Aku mau menerima kamu apa adanya dan bakal jadi cewek yang baik buat kamu!" Adel seperti berusaha untuk membuat Rendi percaya kepadanya.
"Baiklah, aku mau jadi pacar kamu."
"Yes! Makasih, Sayang!"
Adel langsung memeluk Rendi dengan erat, seakan yang tadinya lemas karena sakit sudah langsung sembuh karena perkataan pria itu.
"Ja-jangan terlalu dekat, Adel. Nanti ada yang lihat gimana?" Rendi nampak panik karena pintu kamar yang terbuka. Namun, dengan cepat Adel langsung mendekatkan wajahnya ke arah Rendi dan mencium pria itu denga lembut.
Gerakan lidahnya itu membuat Rendi terpancing oleh birahinya dan membalas permainan silat lidah wanita itu. Beberapa kali suara kecil Adel terdengar dan nafas Rendi juga semakin memburu.
Tanpa sadar, jari jemari Rendi sudah sampai di dada besar milik wanita itu dan meremasnya perlahan. Bahkan Adel hannya diam saja diperlakukan seperti itu selama beberapa menit. Nafas mereka semakin memburu, terutama Rendi yang biasanya langsung bermain di atas ranjang bersama Nara.
Namun, Rendi pun tersadar dan langsung melepaskan Adel karena mendengar ada orang yang lewat. Adel pun juga menyadarinya dan sedikit menjauh dari Rendi.
"Adel, jangan sekarang ya? Boleh aku pulang dulu hari ini? Keluargaku udah nunggu," ucap Rendi dengan alasannya itu.
"Baiklah. Mulai sekarang kita pacaran, kan?" tanya Adel yang memastikan kembali.
"Iya, kita pacaran kok." Rendi tersenyum kecil dan membuat Adel semakin bahagia.
Rendi langsung pergi meninggalkan Adel setelah berpamitan, hingga sampai di luar, Rendi mengacak-acak rambutnya di atas motor.
__ADS_1
"Gila! Gila! Inget Rendi! Lo udah nikah! Kenapa bisa jadi pacaran sama Adel sih?!" maki Rendi kepada dirinya sendiri.