Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Bukan Nara yang Dulu Lagi


__ADS_3

"Tuh lihat! Sudah aku bilang kalau cewek itu pembawa sial!" teriak tantenya Rendi yang memang dari awal tidak suka dengan hubungan mereka.


Terlihat wanita itu berlagak seperti orang yang selalu merawat dan melindungi Rendi. Padahal Rendi sebenarnya juga tidak begitu menyukai sifat tantenya sendiri. Rendi berusaha membela Nara sebisa mungkin, karena di sana Rendi yang sepenuhnya salah.


"Jaga ucapan bulik! Kalau nggak tahu masalahnya, lebih baik bulik diam saja!" hardik Rendi.


"Tuh, lihat! Rendi jadi pembangkang semenjak mengenali wanita itu! Sekarang kalian akan bercerai karena merasa Rendi tidak becus? Hei Nara! Mana ada menikah itu manis selamanya! Mikir lah! Mungkin saja kalian masih berada di masa percobaan dalam berumah tangga!" Wanita itu berusaha ditenangkan oleh ayahnya Rendi, namun tak juga mereda justru semakin menjadi-jadi.


Sedangkan di sana Nara nampak kesal, Rendi pun juga sudah sangat kesal karena wanita itu selalu saja ikut campur urusan yang tidak seharusnya ia campuri.


"Dibentak dikit minta cerai! Anak jaman sekarang gampang banget baperan sih! Heran deh!" ledek wanita itu.


Nara mengepalkan kedua tangannya dan maju menghadapi wanita itu, dia sudah tidak takut lagi karena sekarang Nara bukan keluarga Rendi lagi. Dia tidak peduli namanya kan jelek di mata keluarga Rendi, sudah cukup harga dirinya diinjak-injak oleh tantenya Rendi.


"Bulik, apa bulik tahu apa yang sudah Rendi lakukan sampai saya melakukan hal seperti ini?" Nara tak gentar dan mendekati wanita itu. Sedangkan tantenya Rendi melihat sorot mata Nara saja sudah ketakutan setengah mati.

__ADS_1


Ia berbeda dengan Nara yang dulu.


"Nggak usah paling merasa bener deh! Kamu aja nggak becus ngurusin Rendi, kamu cerai sama Rendi karena hal sepele kan? Udah bela-belain nikahin kamu, malah kamunya begitu.


Rendi sengaja membiarkan mereka berdua berdebat, ia membiarkan Nara menjelek-jelekkan Rendi di depan keluarganya sendiri.


"Ponakan tante itu sudah melakukan KDRT dan perselingkuhan!" gertak Nara.


Gertakan itu membuat tantenya Rendi hanya bisa diam saja dan merasa malu, karena ternyata ponakannya melakukan dosa besar.


"Saya melihatnya langsung dengan mata kepala saya sendiri. Mau lihat bukti KDRT dari ponakan tante?!" hardik Nara.


Dengan cepat, Nara membuka kaos lengan tangannya dan memperlihatkan adanya bekas luka di tangannya. Spontan hal tersebut membuat semua yang ada di rumah langsung shock.


Tantenya Rendi pun tak bisa berkata apa-apa lagi.

__ADS_1


"Sekarang bulik sudah paham? Masih mau ikut campur hal yang sama sekali nggak bulik tahu?" Nara nampak lebih berani dari sebelumnya.


Terlihat tantenya Rendi sudah terdiam dan tak bisa berkata apa-apa lagi karena malu. Sedangkan Nara merasa puas bisa mengakhiri semuanya dengan mudah.


"Lain kali, jika ingin ikut campur urusan orang lain, minimal tahu apa masalahnya, jadi nggak sok tahu seperti ini!" ledek Nara.


"Dasar wanita sialan! Jangan mentang-mentang paling benar kamu ya! Minimal bisalah jaga nama baik kedua orang tua Rendi!" Wanita itu masih tidak mau mengalah.


Nara pun mengambil Syakila dari gendongan mantan ibu mertuanya. Beliau langsung menitihkan air mata dan mengusap pipi Nara dengan lembut.


"Sehat selalu ya, Sayang. Jangan dengerin apa yang dikatakan oleh buliknya Rendi," ujar sang ibu mertua.


Nara tersenyum, karena ia masih dibela sampai di detik terakhir. Nara meninggalkan rumah tersebut dan mereka semua menangisi kepergian wanita itu dan kecewa dengan sikap Rendi.


Nara keluar dan menemui Gibran yang bersembunyi dan menunggu hasil dari keputusan Nara barusan.

__ADS_1


'


__ADS_2