
Nara memejamkan matanya dan membiarkan Gibran melakukan apa yang pria itu mau.
Cup!
Terasa tangan Gibran berada di bibir Nara dan membuat Nara langsung membuka matanya. Ia melihat tangan Gibran ada di bibir Nara, dan ciuman mereka terhalang oleh tangan Gibran. Di situ, Gibran justru mencium tangannya sendiri.
Pria itu menjauhkan wajahnya dari Nara dan tersenyum manis.
"Maaf ya, aku nggak berani. Kamu masih suami orang. Maaf juga karena aku masih sayang sama kamu meskipun kamu udah punya suami," ujar Gibran di hadapan Nara.
Nara yang mendengar hal itu langsung terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Baru kali ini Nara bertemu dengan pria segila Gibran, yang bisa menyukai istri orang.
"Ta–tapi, Tia suka sama kamu, Gibran." Nara menundukkan kepalanya dan sedikit merasa bersalah.
"Iya kalau dia suka sama aku biarin aja, jujur aku nggak suka sama Tia. Aku udah pernah bilang sama Tia kalau aku masih suka sama orang lain," urai Gibran dengan penuh kejujuran.
"Orang lain itu ...." Nara sedikit penasaran dengan perkataan Gibran.
"Orang lain itu ya kamu, Nara." Gibran jujur kepada wanita itu.
Di rumah itu hanya ada mereka berdua, dan juga Syakila. Jantung Nara berdegup dengan sangat kencang saat mereka hanya berdua di rumah itu.
"A–aku ke kamar mandi dong," ucap Nara yang merasa sakit perut.
"Itu, kamu lurus aja ke sana, di antara dua kamar itu ada kamar mandi, di situ aja." Gibran menunjuk ke arah pintu yang ada di antara 2 kamar.
"Iya, aku titip Syakila sebentar ya?" Nara pun langsung berlari ke kamar mandi.
Sebenarnya dia tidak terlalu nyaman jika harus numpang di kamar mandi orang lain, apalagi menitipkan Syakila kepada orang lain. Biasanya jika Nara hanya sendirian, Syakila bisa ditinggal dengan keadaan tv yang menyala.
Saat Nara sedang cemas, benar saja, dia mendengar suara Syakila yang terbangun dan menangis.
"Gibran?! Syakila bangun ya?" panggil Nara dari dalam kamar mandi.
"Iya! Kamu kelarin dulu aja nggakpapa! Aku jagain Syakila kok!" jawab Gibran dari luar.
"Susunya ada di tas, itu masih baru kok!" Nara mengarahkan Gibran untuk memberikan susu formula milik Syakila. Lalu, pria itu tak menjawab apa-apa lagi.
__ADS_1
Bagaimana bisa tenang saat mendengar Syakila menangis dan hanya ada Gibran di sana. Nara takut merepotkan Gibran. Namun, tidak disangka, bayi yang tadinya menangis dengan sangat kencang itu, perlahan terdiam saat Gibran menggendongnya.
Nara yang tadinya cemas, langsung sedikit terkejut dan merasa sedikit tenang. Dia tidak pernah dapat bantuan dari suaminya sedikitpun, jadi, saat mendengar Syakila terdiam dalam gendongan orang lain, ia sedikit heran. Ia pun langsung berusaha menuntaskan di kamar mandi dan langsung keluar menghampiri putrinya yang masih ada di dalam gendongan Gibran.
"Syakila nggak rewel?" tanya Nara.
"Nggak tuh, dia ngeliatin aku terus sambil minum susu." Gibran melihat ke arah bayi itu dan tersenyum.
Nara yang melihat kejadian itu di hadapannya hanya bisa tersenyum saja dan entah mengapa, Nara langsung terpesona melihat sikap Gibran yang berbakat menjadi seorang ayah.
"Eh, tolong gorengin nugget lagi dong. Aku laper nih, boleh? Syakila biar aku yang gendong," ucap Gibran dengan senyuman.
"Lah? Serius? Nggakpapa nih Syakila sama kamu?" tanya Nara sembari melihat Syakila.
"Nggakpapa, mumpung dia lagi anteng." Gibran tersenyum dan meminta tolong kepada Nara.
Karena dia juga tamu di situ, Nara pun mengiyakan apa yang dikatakan oleh pemilik rumah. Nara membantu Gibran menggorengkan nugget, sedangkan Gibran menggendong Syakila dan bercanda dengan bayinya itu.
Nara langsung membandingkan rumah tangganya sendiri dengan kejadian hari ini. Mengapa Rendi tidak seperti Gibran yang selalu siap siaga menjaga Syakila saat dia rewel? Saat berada di dapur, terkadang Syakila rewel dan Nara harus menenangkannya sendiri, bahkan membawa Syakila masak di dapur yang berada di luar rumah.
"Betah banget sama Syakila." Nara tersenyum kepada Gibran.
"Iya, lucu banget dia. Makanya aku nggak mau sampai kamu terus menerus sama pria busuk itu! Dia bisa aja lampiasin ke Syakila loh." Gibran kembali mengungkit perihal kekerasan rumah tangga. Nara pun baru menyadarinya.
"Aku nggak bakal biarin itu terjadi kok, aku selalu jaga Syakila apapun yang terjadi. Biar aku aja yang terluka, asal nggak sentuh anakku." Nara meniriskan nugget yang sudah selesai digoreng lalu berbalik badan dan menggendong Syakila. "Syakila mau makan dulu, kamu juga makan dulu ya? Jangan ngintip!" Nara menjauh dari Gibran dan kembali ke ruang tamu.
Gibran pun baru sadar apa yang dimaksud Nara makan adalah memberi ASI kepada Syakila.
"Oh iya! Syakila masih minum asi ya!" gumam Gibran sembari menepuk jidatnya.
Nara pun membawa Syakila ke ruang tamu dan membelakangi Gibran untuk memberikan asi kepada Syakila. Sedangkan Gibran ada di meja makan yang ada di dapur. Ia sedikit gelisah dan canggung saat Nara tengah menyusui Syakila. Mau bagaimanapun dia juga pria.
"Aduh Gibran! Jangan mikir aneh-aneh!" Gibran berusaha menyadarkan dirinya sendiri.
Nara pun selesai memberikan asi kepada Syakila dan sedang membuat Syakila bersendawa dengan menggendongnya. Gibran pun sudah selesai makan dan menghampiri wanita itu.
"Udah selesai makannya? Kamu juga udah selesai bicara sama aku kan?" tanya Nara.
__ADS_1
"Iya, udah selesai kok. Janji ya, pokoknya setelah KKN kalau dia masih mukul kamu, langsung ceraiin dia!" pinta Gibran.
"Iya, Gibran." Meskipun Nara mengiyakan hal itu, sebenarnya dia masih bimbang dengan keputusannya sendiri.
"Kamu ada tugas nggak? Kalau ada, kerjain dulu gih, aku bantu jaga Syakila. Nanti sampai rumah kamu bisa tinggal istirahat," ucap Gibran.
Nara berpikir sejenak, ini masih jam 2 siang, dan masih ada waktu sampai jam 5 sore sebelum Rendi pulang.
"Iya deh, aku nitip Syakila bentar ya?" ucap Nara.
Sebelum pulang, Nara mengijinkan Gibran untuk bermain dengan Syakila dulu. Mulai dari mengajak bicara, ajak bercanda, dan lain-lain. Gibran juga dengan senang hati menjaga anak itu seperti putrinya sendiri. Ternyata Nara berulang kali gagal fokus karena melihat pesona Gibran.
Hingga waktu menunjukkan pukul 4 sore, Nara selesai dengan kerjaannya dan meminta pulang.
"Udah selesai?" tanya Gibran yang nampak masih ingin main dengan Syakila.
"Udah kok, pulang yuk. Aku takut Rendi marah," ucap Nara.
"Halah! Kenapa takut sama cowok brengsek gitu sih! Aku nggak ngerti sama jalan pikiran kamu deh, Nara." Gibran membantu Nara membereskan barang Syakila dan bersiap untuk mengantar Nara.
"He he, maaf ya, Gibran. Soalnya aku anggep pernikahan itu sakral banget, yang kalau bisa sekali seumur hidup. Maaf ya kalau aku keras kepala. Kasih aku waktu sebentar aja," ucap Nara yang masih percaya diri dengan hubungannya.
"Dasar keras kepala. Pokoknya langsung bilang sama aku kalau dia ngapa-ngapain kamu! Chat aku random aja, aku bakal langsung dateng," ucap Gibran.
"Iya. Baik banget kamu ih." Nara tersenyum dan menggendong Syakila, ia bersiap untuk pulang ke rumah yang sudah seperti neraka baginya. Namun, dia harus bertahan karena percaya Rendi akan berubah.
Gibran pun mengantarkan Nara pulang sampai di dekat rumah. Nara tidak mengizinkan Gibran mengantar sampai ke depan rumah, dia takut jika Rendi sudah pulang.
"Ya udah, hati-hati ya? Inget pesenku!" pinta Gibran sembari mengusap rambut Nara.
"Iya. Makasih ya, aku balik dulu." Nara pun pergi meninggalkan Gibran di pinggir jalan dan pulang dengan jalan kaki.
Gibran pun menunggu sampai Nara menghilang di pertigaan depan, ia takut terjadi apa-apa lagi dengan Nara.
Sedangkan Nara berjalan sampai ke rumah dan membuka pintu rumahnya, untungnya Rendi belum sampai di rumah. Namun, dia kembali merasa sendiri lagi di rumah kecil itu.
"Hmmm, ternyata sepi ya kalau nggak ada Gibran," gumam Nara sembari tersenyum kecil.
__ADS_1