
Hari minggu pun tiba, di mana sudah waktunya Nara pulang ke rumah. Ia merasa waktu berjalan sangat cepat sekali, dan di rumah ia merasa seperti ratu dan tidak kesepian. Selain ada yang bisa menjaga Syakila, ada juga adiknya Nara yang bisa diajak ngobrol banyak, begitu pun juga kedua orang tua Nara yang merasa bahagia saat Nara pulang bersama putri kecilnya itu.
Hari minggu siang, Nara sudah bersiap pulang dan diantar oleh ayahnya dengan menggunakan mobil, karena kebetulan hari minggu itu ayah dan ibunya sama sekali tidak ada kerjaan. Sekalian membelikan Nara banyak kebutuhan untuk Syakila dan juga untuk di rumah Nara.
"Hati-hati ya, Mbak. Sehat terus sama Syakila juga," ucap Nadia yang merupakan adik kandung Nara dan sebentar lagi akan mengenyam pendidikan di universitas.
"Iya, kamu juga baik-baik ya di rumah. Semangat belajarnya, cari universitas yang bagus dan menjanjikan ya!" pinta Nara.
"Iya, tenang aja, Mbak!"
Sebagai anak pertama, Nara sebenarnya merasa gagal karena dia tidak bisa membantu perekonomian keluarganya dan malah hanya menambah pengeluaran saja.
Siang itu juga, mereka pun pergi ke Semarang untuk mengantarkan Nara, Nara juga sudah bilang kepada Rendi.
Sementara itu Rendi justru sedang jalan bersama dengan Adel. Saat melihat pesan itu, Rendi langsung terkejut bukan main dan langsung melihat jam yang ada di ponselnya, mengira-ngira kapan kedatangan mereka.
"Kenapa, Sayang?" tanya Adel yang sedang menikmati minumannya.
"Oh, nggakpapa. Aku kayaknya jam 4 balik ya? Soalnya mau ada saudara jauh datang nih," dusta Rendi.
"Yaah, aku masih kangen kamu, Sayang." Adel bersandar di bahu Rendi dengan manjanya. Membuat Rendi makin gemas dengan kekasih gelapnya itu.
"Iya, besok kan masih ketemu lagi di kampus. Besok weekend juga bisa kok kita jalan. Tenang aja, Sayang. Aku bakal luangin waktu buat kamu." Rendi mengusap rambut wanita itu dengan senyuman.
Sebenarnya ia masih sedikit takut dengan perselingkuhan yang dia lakukan di belakang Nara itu, karena mau bagaimanapun juga Nara adalah istri sah Rendi. Jika ketahuan orang tua Rendi juga pasti habislah sudah nama baiknya.
"Oh iya! Kamu nggak mau staycation gitu, Yang?" tanya Adel membuka topik baru.
"Hm? Ke mana?" tanya Rendi dengan polosnya.
"Ke Jogja gitu, atau ke luar kota."
__ADS_1
Deg!
Ajakan seperti itu justru semakin membuat Rendi takut, dia tidak ingin menyentuh wanita lain selain istrinya. Kemarin juga merupakan suatu kekhilafan yang dia sendiri tidak sadari.
"Kan ngumpulin uang dulu, Sayang. Aku lagi agak susah akhir-akhir ini nih. Rencana boleh, tapi realisasinya kapan-kapan nggak papa ya?" Rendi berusaha membujuk wanita itu.
"Iya nggakpapa kok sayang. Yang penting sama kamu." Wanita itu semakin menempel dengan Rendi.
Rendi pun merasa nyaman ngobrol bersama wanita itu, hal yang jarang dia lakukan kepada Nara karena merasa Nara tidak seasyik Adel jika diajak bicara. Sekali bicara yang dibahas masalah serius terus dan berujung pertengkaran. Hal itu membuat Rendi sangat malas.
Saat Rendi sedang bermesraan dengan wanita itu, tiba-tiba Gibran datang bersama dengan teman-temannya. Saat sedang memesan, ia melihat Rendi dan Adel yang berada di meja pojok dan terlihat nampak mesra. Bahkan melihat Rendi mencium pipi Adel.
Melihat hal seperti itu, Gibran langsung menurunkan topi yang ia kenakan hingga tak terlihat lagi wajah Gibran.
"Dasar pria brengsek!" batin Gibran dengan kesal.
Mereka pun memesan minuman dan juga makanan, lalu mencari meja yang cukup jauh, namun bisa menjangkau mereka berdua. Sepanjang nongkrong bersama teman-temannya, Gibran berusaha fokus dengan Adel dan juga Rendi.
"By the way, kemarin gue kayaknya lihat lo jalan sama adik tingkat deh," celetuk salah satu temannya Gibran sembari mencolek Gibran dan membuat ia sedikit terkejut.
"Lah serius! Motor lo kan khas banget itu modelnya, mana mungkin gue salah orang! Tapi dia cantik banget loh, kok bisa sih lo deket sama dia!" goda temannya Gibran.
"Yeee, liat cewek cantik aja jelalatan mata lo!" ujar Gibran sembari memukul kepala temannya dengan buku.
"Gue juga pernah mergokin lo ngejar cewek loh, nungguin mulu di tangga kampus. Kirain nunggu dosen yak, ternyata nungguin cewek tuh." Teman Gibran yang lain pun menambahkan.
"Syirik ya kalian." Gibran pun meladeni perkataan mereka dan menganggap hal itu adalah hal yang biasa saja. Sepertinya temannya melihat Gibran jalan dengan Nara saat pulang dari kampus, jadi mereka tidak melihat Syakila yang dibawa oleh Nara saat pulang dari rumah tempat Syakila dititipkan.
Setelah cukup lama berada di cafe, Rendi pun terlihat beranjak dari tempat mereka duduk dan keluar tanpa menyadari jika ada Rendi dan teman-temannya. Saat itu juga, Gibran juga langsung pamitan dan pergi meninggalkan teman-temannya dengan alasan ada urusan lain.
Gibran mengikuti mereka berdua yang ternyata masih mau membeli jajanan di sekitar situ, Gibran terus mengikuti mereka berdua dengan perasaan kesal. Ia sempat membuka pesan dari Nara dan berkata bahwa Nara akan pulang ke Semarang.
__ADS_1
"Udah kuduga sih, pasti dia jalan sama cewek itu. Apalagi Nara pulang kampung, ya keasyikan lah dianya!" gumam Gibran dengan penuh emosi.
Terlihat mereka mesra sekali saat duduk di taman dan membuat Gibran semakin kesal. Ia pun sempat mengambil foto mereka berdua untuk dijadikan bukti, jikalau suatu saat nanti dibutuhkan oleh dirinya untuk diberikan kepada Nara.
Sepanjang mengikuti mereka, Gibran terus merasa kesal dan tidak habis pikir dengan sikap pria itu yang sama sekali tidak bisa menghargai Nara yang merupakan istri sahnya.
Tiba-tiba, Gibran memiliki ide yang setidaknya bisa membuat pria itu terkejut dan kapok.
Gibran membeli minuman dan lewat di hadapan mereka berdua, ia melepas topinya dan sengaja lewat di hadapan mereka, hingga Adel pun sadar dan memanggil Gibran.
"Kak Gibran!" panggil wanita itu dan membuat Rendi langsung terkejut.
Gibran langsung menyapa mereka dan mendekati mereka berdua.
"Hei! Lagi nongkrong nih?" tanya Gibran dengan raut wajah yang hangat.
"Iya, Kak! Kakak juga lagi jajan?" tanya Adel dengan ramah.
"Iya, aku sering ke sini. Kalian berduaan aja? Nggak ada yang lain?" tanya Gibran sengaja memancing pertanyaan.
"Kita berdua aja, Kak. Hehe."
"Waaaah." Gibran menatap ke arah Rendi dengan tatapan yang licik, membuat Rendi langsung merasa tidak nyaman dan sedikit ketakutan. "Heran banget, kadang yang sah nggak dianggap, justru belain pelakornya." Gibran menyindir Rendi.
Rendi yang mengerti maksudnya langsung mengepalkan tangannya dan keluar keringat dingin.
"Eh? Maksudnya gimana, Kak?" Adel justru tidak mengerti.
"Nggakpapa! Ha ha ha, ya udah aku balik dulu ya! Have fun kalian berdua!"
Gibran menatap sinis Rendi dan pergi meninggalkan mereka berdua, tentu saja Rendi merasa kesal dengan pria itu.
__ADS_1
"Sayang, balik yuk? Aku ternyata mau pergi juga nanti," ucap Adel seakan baru ingat sesuatu.
"Oh! Iya ayo! Aku sampai lupa kalau aku juga ada acara!" Rendi langsung beranjak dari taman dan menggandeng tangan Adel, lalu mengantarkan Adel ke kos-kosan.