
Rendi mengenal wanita yang selalu bersama Nara itu. Tia langsung bangun setelah dia terjatuh dan melihat ke arah Rendi dengan tatapan sinis.
"Lo yang ngapain di sini?" Tia mengangkat dagunya dan berusaha memelankan suaranya.
"A–aku lagi pergi sama temen-temen BEM aku. Kamu tumben ke perpustakaan?" tanya Rendi dengan gugup.
"Gue juga butuh refrensi buat skripsi kali! By the way, lo jadi jarang sama Nara ya? Emang udah putus?" Tia sengaja memancing pembicaraan tersebut.
"Nggak kok! Gue masih sama Nara, bahkan tiap hari kita ketemuan. Hubungan kita juga membaik kok." Rendi memberikan sebuah pernyataan agar Tia tidak tanya-tanya lagi.
"Bagus deh. Seharian ini gue ketemu Nara, dia kayak capek gitu, bahkan kaya mau nangis. Mending lo hubungin dia deh! Lo tau sendiri dia bucin parah sama lo!" ucap Tia sengaja memancing pembicaraan ke arah situ.
"Oh, iya? Nanti biar aku chat deh. Lo dateng sendirian?" Rendi melihat ke arah belakang Tia, seakan takut jika ternyata Tia membawa Nara.
"Iya gue sendirian. Nara udah balik dari tadi, soalnya kayaknya nggak enak badan deh. Dia tadi juga nangis di kelas." Tia sengaja bicara hal itu dan ingin lihat respon Rendi.
"Iya, nanti sepulang dari perpus, aku jengukin kok. Kalau sekarang aku lagi nggak bisa nih, darurat banget urusannya!" Rendi mencari alasan agar dia tidak ketahuan sedang pergi bersama Adel.
Tia makin kesal dengan alasan pria itu dan ingin sekali memukulnya.
"Gue harap, lo bertanggung jawab sebagai cowok. Terus nggak bikin sakit hati cewek lo sendiri." Tia menatap pria itu dengan rasa kesal dan memutuskan untuk pergi dari hadapan Rendi.
Rendi menghela nafas lega karena tidak ketahuan oleh temannya Nara. Meskipun dia sendiri sebenarnya masih takut karena ucapan Tia yang terlihat seperti ancaman untuk Rendi.
Tia pergi dengan perasaan kesal, dia juga tidak bisa berbuat banyak karena itu di dalam perpustakaan.
"Beruntung sekali kau, Rendi!" batin Tia.
Sedangkan Rendi yang baru saja menemui Tia langsung pergi menemui Adel.
"Aku bosen di sini, pergi yuk? Cari makan apa cari jajan gitu," ucap Adel saat Rendi datang menemuinya.
"Ayo, kamu mau jajan apa, Sayang?" tanya Rendi.
__ADS_1
"Apa aja deh."
Adel pun menggandeng Rendi dan pergi dari perpustakaan. Mereka terlihat mesra saat berada di kampus. Rendi juga seakan membiarkan Adel mendekati dirinya.
Rendi merasa lega saat ia sudah pergi dari perpustakaan dan berharap dia tidak bertemu siapapun lagi. Namun, tiba-tiba ponsel Rendi bergetar dan Rendi tahu jika itu telpon dari istrinya. Jantung Rendi sempat berhenti berdetak kala merasakan getar di saku celananya.
"Rendi, Adel!" panggil seorang pria.
Adel yang paham dengan suara tersebut, langsung melihat ke arah pria itu.
"Kak Gibran!" Adel menyapa pria itu dengan senyuman. "Kak Gibran mau ke mana?" tanya wanita itu saat melihat Gibran sudah berada di depannya.
"Aku mau jemput Nara, temanku. Kalian ngapain?" Gibran sengaja melirik ke arah Rendi.
Rendi langsung melihat Rendi dengan tatapan sinis dan terkejut.
"Nara? Kok kaya baru denger, gebetan kakak ya?" Tanpa Adel ketahui, ia semakin mengompori pembicaraan mereka.
"Iya nggak juga sih. Cuma temen doang, kasihan aja punya pacar nggak becus ngejagainnya. Jadi, aku aja deh yang gantiin pacarnya buat jemput," ucap Gibran dengan senyuman liciknya, Rendi yang mendengar hal itu tentu saja langsung geram.
"Rendi! Kamu ngapain?!" Adel berusaha melerai mereka.
"Lo didiemin malah makin ngelunjak ya!" lirih Rendi sembari menatap Gibran dengan tatapan tajam.
"Kenapa? Lo bisa main di belakang Nara, bisa jalan sama cewek lain, kenapa gue nggak boleh ajak Nara jalan? Lo nggak kasihan dia nungguin lo sekarang?" jawab Gibran yang masih tetap tenang.
"Kenapa lo suka banget ikut campur urusan orang lain! Lo tau kan kalau ini bukan ranah lo buat ikut campur urusan rumah tangga orang lain?!" Rendi makin geram kepada kakak tingkatnya itu.
"Lo yang buka celah buat gue biar bisa deket sama Nara. Jangan salahin gue lah. Gue cuma manfaatin kesempatan yang lo kasih!" Gibran melepaskan cengkeraman tangan Rendi dan menjauh dari pria itu.
"Kalian kenapa sih?!" Adel tidak mengerti dengan masalah mereka.
Gibran membetulkan kerahnya dan menatap Rendi dengan sinis.
__ADS_1
"Biasa. Bukan cowok namanya kalau nggak rebutan dan nggak ada pertikaian," ucap Gibran seakan sengaja memanas-manasi Rendi.
Gibran pun pergi dari hadapan Rendi dan juga Adel. Karena Rendi sama sekali tidak mementingkan istrinya, Gibran pun langsung bertindak untuk menjemput Nara. Dia tidak peduli lagi jika dicap pengambil istri orang.
Namun, saat Gibran sudah sedikit jauh, Rendi justru menghampiri Gibran dan langsung memukul pria itu dengan keras.
BUAKH!
"Lo selalu ikut campur urusan gue! Kenapa nggak mikirin diri lo sendiri! Kenapa lo selalu mengganggu hubungan gue dengan Nara!"
Gibran menahan pukulan Rendi dan langsung memukul balik Rendi.
"Lo yang brengsek! Udah punya istri tapi masih jalan sama cewek lain! Jangan salahkan gue kalau gue berhasil dapetin istri lo! Sadar woi! Sadar!" ucap Gibran yang membalas pukulan pria itu.
"Lo nggak pernah tahu alasan gue gini kan! Lo nggak pernah mikirin rasanya jadi gue!" protes Rendi.
"Persetan!"
Gibran pun melancarkan pukulan terakhir ke wajah Rendi dan membuat Rendi terjatuh. Sedangkan nafas Gibran terlihat terengah-engah dan menatap Rendi dengan tatapan sinis, bibirnya berdarah karena pukulan dari Rendi.
"Aku bakal nemenin Nara sampai dia nemuin kebahagiaan!" ucap Gibran.
Rendi pun berdecak kesal dan langsung berlari melewati Gibran dan memutuskan untuk menjemput Nara. Entah mengapa, dia tidak rela jika Gibran mendekati Nara. Adel pun baru sampai dan menghampiri Gibran.
"Rendi mana?" tanya Adel dengan nafas terengah-engah dan mencari Rendi.
"Dia ada urusan keluarga. Lebih baik kamu jangan ikut campur urusan dia. Ada baiknya kalau kamu nggak deket-deket sama Rendi di kampus," ucap Gibran.
"Kenapa?"
Adel tentu saja tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Gibran. Namun, tanpa memberi jawaban sedikitpun, Gibran langsung pergi dari hadapan Adel dan menjauh dari wanita itu.
"Ck! Sebenernya mereka kenapa sih! Ngomongin apa? Kenapa kayak nggak mau aku tahu?! Nyebeljn banget sih!" ketus Adel yang tidak tahu apa-apa soal masalah mereka berdua sampai mereka bertengkar hebat.
__ADS_1
Pada akhirnya, Rendi pun menjemput Nara karena tidak ikhlas jika Gibran yang menjemput. Meskipun ia sedikit kesal karena dia sedang jalan bersama Adel, tapi harus dihadapkan dengan situasi seperti ini.