Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Suasana Haru


__ADS_3

Semenjak terakhir jalan bersama Gibran, akhirnya mereka pun menjalin hubungan yang resmi dan malam itu juga mereka mulai berpacaran.


Sebenarnya, Nara masih tidak tahu apa yang sedang ia rasakan saat ini, antara senang, takut, dan juga beberapa hal lain lagi.


Apakah boleh dia sebahagia ini? Sedangkan mantan suaminya begitu menderita saat ini. Di satu sisi lain, Nara masih sering memikirkan Rendi. Bukan karena dia masih mencintai pria itu, melainkan dia masih peduli kepada pria itu. Mereka sudah menjalin hubungan sangat lama sekali, meskipun akhirnya harus kandas di tengah jalan.


Setelah pulang ke kontrakan masing-masing, Nara bahkan tidak bisa tidur sama sekali karena memikirkan apa yang Gibran lakukan kepadanya.


Hingga Nara pun berhasil tertidur karena memang kelelahan.


Di pagi harinya, Nara sudah bersiap lagi untuk pergi ke rumah mantan suaminya dan akan membicarakan perihal hubungan mereka yang sebaiknya usai saja.


Gibran mengantarkan Nara ke rumah orang tua Rendi dan menunggu di tempat yang agak jauh sampai mereka selesai berbicara, Gibran tidak boleh mencampuri urusan mereka berdua karena itu bukan ranah Gibran.

__ADS_1


Tepat jam 8 pagi, mereka sampai di rumah Rendi, dan Gibran nampak khawatir dengan Nara.


"Sayang, aku tunggu di sini ya? Kamu yakin nggak mau ditemenin?" tanya Gibran.


"Nggak papa, Gibran. Aku bisa sendiri kok. Lagian mereka nantinya jadi mikir yang aneh-aneh kalau kamu ikut. Aku turun dulu ya?" ucap Nara sembari pamit pergi meninggalkan Gibran.


Nara pun berjalan sebentar sembari menggendong Syakila menuju ke rumah Rendi. Rumah yang selama ini sebenarnya sudah Nara anggap sebagai rumahnya sendiri. Orang tua Rendi juga sebenarnya sangat baik, namun, Nara tidak bisa jika harus menjalin hubungan dengan pria toxic seperti Rendi.


Ia sampai di depan rumah, dan terlihat kedua orang tua Rendi langsung keluar menyambut Nara dengan hangat. Mengajak wanita itu untuk masuk, ayah mertua Nara menggendong Syakila, sedangkan ibunya Rendi langsung memeluk Nara dengan sangat erat sekali sembari menangis.


Raut wajah Rendi nampak bersedih, sebenarnya Nara semakin tidak tega dengan kondisi pria itu. Ia pun menghela nafas panjang dan mulai berbicara.


"Maaf, Bu, Pak. Sepertinya Rendi sudah memberitahukan semuanya kepada kalian. Maafkan saya jika saya mungkin terlalu cepat mengambil keputusan ini. Semua ini saya lakukan karena saya takut dalam pernikahan kami berdua sudah tak ada lagi rasa cinta lagi," urai Nara sembari menahan air matanya.

__ADS_1


"Nak, kenapa harus cerai? Kalian tidak bisa bicara baik-baik?" tanya ibunya Rendi.


"Maaf, Bu. Aku sudah berusaha berkali-kali memaafkan, namun Rendi sama sekali tidak bisa berubah."


"Tapi, Nak. Kami sudah menolak menikahi Adel agar Rendi bisa memperbaiki semuanya, kamu yakin nggak kasih kesempatan untuk Rendi lagi, Nak?" tanya sang ibu lagi.


Sedabgkan Nara langsung menghela nafas panjang dan lalu berucap, "Maaf, Bu. Keputusan Nara sudah sangat bulat dan tidak bisa diganggu gugat lagi."


Ayahnya Rendi sangat menyayangkan hal itu.


"Rendi ... Kenapa kamu sampai menghamili anak orang lain pas kamu udah punya Nara sih? Sebenarnya mau kamu itu apa?!" tanya sang ibu dengan isak tangis yang membuat semua orang merasa haru mendengarnya.


Sedangkan Rendi hanya bisa diam saja dan terus menerus merasa bersalah. Suasana menjadi semakin menyedihkan dan membuat Nara juga susah menahan air matanya.

__ADS_1


"Apa satu wanita saja tidak cukup untuk kamu, Rendi?!" hardik sang ibu tiri yg merasa gagal mendidik putra sambungnya itu.


__ADS_2