Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Sering Bersama Gibran


__ADS_3

Di malam yang cukup dingin, terlihat Nara sedang duduk di sebelah Gibran dan mereka terdiam cukup lama karena suasana yang cukup cangguung. Nara sedikit takut jika ada yang memergoki mereka dan berbicara buruk soal mereka berdua.


“Gimana kamu sama Rendi? Jadi ngasih waktu buat dia?” tanya Gibran dengan blak-blakkan.


“Iya, aku jadi kasih Rendi kesempatan sekali lagi, aku sebenarnya udah nggak terlalu peduli sih. Aku cuma kasihan aja sama Syakila, masih bayi tapi ayahnya begitu.” Nara menundukkan kepalanya dan sedikit bersedih. Dalam lubuk hati yang paling dalam, sebenarnya dia masih mengharapkan Rendi. “Kamu sendiri, kenapa bisa lolos dari kantor polisi waktu itu?” tanya Nara yang tiba-tiba penasaran.


“Kamu pasti tahu sendiri mengapa aku bisa keluar dari sana dengan mudah.” Gibran menyandarkan tubuhnya dan tersenyum kecil.


“Baiklah, aku tidak akan bertanya kepada pria tajir ini.” Nara nampak pasrah dan sudah tidak


ingin jawaban apa-apa lagi perihal pria yang punya kuasa itu.


“Ha ha ha, di matamu aku sehebat itu ya?” Gibran semakin bangga dengan dirinya sendiri.


“Terserah kau saja, apapun itu, aku senang kamu baik-baik saja. Maafkan aku karena sempat merepotkan kamu saat itu.” Nara merasa bersalah kepada pria itu.


“Tidak masalah, jangan berpikir seperti itu. Bukan salah kamu juga kok.” Gibran seakan tidak ingin membahas hal itu.


“Kalau gitu, aku masuk dulu ya? Nggak enak kalau ada yang lihat kita berduaan malem-malem


gini.” Nara beranjak dari sofa dan bersiap pergi meninggalkan Gibran, namun, saat Nara lewat


di hadapan pria itu, Gibran justru menahan tangan Nara dan tidak membiarkan wanita itu pergi begitu saja.


“Tunggu, Nara.”


DEG!


Dipegang seperti itu saja sudah langsung membuat jantung Nara berdegup dengan sangat kencang. Apalagi selama ini Nara selalu salah tingkah dengan sikap dan kehangatan yang diberikan oleh Gibran.


“Kenapa?” tanya Nara.


“Semangat ya. Jangan sungkan minta bantuan dariku, abaikan ucapan dari mereka nantinya. Kamu harus mentingin diri kamu sendiri. Aku bakal selalu ada buat kamu.” Gibran berucap lirih, hingga suaranya terdengar sangat indah sekali didengar. Nara yang mendapat perkataan


seperti itu langsung tersipu malu dan salah tingkah. Namun, ia berusaha menahan semua itu.


“Nggak tahu ya, lihat situasi besok. Aku juga perlu adaptasi. Sudah ya! Aku ngantuk.” Nara


berusaha melepaskan genggaman tangan Gibran itu dan langsung masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


“Selamat malam, Nara,” ujar Gibran saat Nara masuk ke dalam rumah.


Nara terlihat diam saja dan terus masuk ke dalam rumah, hingga sampai di dekat kamar, Nara tersenyum kecil dan merasakan jantungnya tidak karuan rasanya.


“Sekarang aku paham kenapa banyak cewek yang suka sama Gibran.” Nara berucap dalam


hati sembari tersenyum kecil. Lalu bergumam lirih, “Selamat malam, Gibran.”


Nara pun masuk ke dalam kamarnya, dan terlihat teman satu kamarnya sudah tidur semua


dengan lampu yang dimatikan.


Nara langsung tidur di kasur dan berusaha untuk tidur. Namun, ini adalah tempat baru untuk


Nara, jadi dia sedikit susah untuk tidur. Selain merindukan Syakila, dadanya juga masih terasa sakit. Ia bisa merasakan dadanya yang semakin membengkak, dan jika tersenggol terasa perih.


Pagi hari pun tiba….


Pagi-pagi buta, Nara sudah terbangun dan ia berpikir jika ia harus bangun pagi hari agar mandinya tidak antre. Mengingat hanya ada satu kamar mandi saja di sana. Nara mandi


dengan air yang sangat dingin dan disaat semuanya belum bangun.


Sebenarnya, dia akan memijat dadanya dan membiarkan asinya keluar. Membuangnya di kamar mandi. Karena jika tidak dikeluarkan, dada Nara terasa sakit dan setiap hari bisa saja dia merasa basah di bajunya.


Hingga dadanya sudah tidak terasa sakit lagi dan ia pun langsung membersihkan dirinya lalu


keluar dari kamar mandi. Setelah mandi, dia pun langsung tidur lagi karena tidak tahu juga mau apa. Hari itu, mereka berniat untuk berkeliling ke desa dan melihat ke sekitar desa. Jadi,


sepertinya Nara bisa bersantai lebih dulu sampai nanti.


Hingga waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi, Nara dan kelompoknya bersiap untuk keliling di desa tersebut. Sebenarnya, dia tahu jika desa tersebut sangat kecil jangkauannya. Namun, untuk mengakrabkan diri, mereka tetap melakukan hal tersebut.


Saat sedang jalan bersama-sama, terlihat Nara sedang ngobrol bersama dengan Evi dan Lies.


“Nara, kok kamu bisa kenal sama si Gibran sih? Kamu nggak takut sama dia?” bisik Evi.


“Hah? Nggak lah, ngapain juga takut. Dia juga orang baik kok. Nanti kalian bakal kenal dia lebih jauh.” Nara tersenyum sembari berjalan bersama mereka berdua.


“Kalian kayaknya udah deket banget, aku jadi iri,” bisik Lies kepada Nara.

__ADS_1


Nara pun hanya tersenyum kecil saja menanggapi kedua temannya yang masih penasaran


dengan sosok Gibran ini.


Nara melihat Gibran yang sedikit jauh berada di depannya, ia terlihat mudah berbaur dengan teman-teman yang baru saja dia kenal. Nara tersenyum saat melihat pria itu. Ternyata tidak ada


salahnya juga dia satu KKN dengan Gibran, entah mengapa perasaannya bahagia terus. Mereka juga mengunjungi mata air yang ada di sana, tempatnya juga cukup gelap dan rimbun.


Di sana mereka mengambil beberapa foto. Mereka juga menyusuri sawah dan benar-benar


menikmati perjalanan mereka. Hingga saat semua orang sedang berfoto di tengah sawah, Nara


menunggu di pinggir karena tidak begitu tertarik.


“Capek?” ujar pria yang tiba-tiba berada di belakang Nara.


Seperti biasa, Gibran selalu saja mengagetkan Nara.


“Ah! Kamu bisa nggak sih jangan muncul mendadak gitu!” keluh Nara.


“Maaf-maaf. Gimana keadaan kamu? Aman? Yakin bisa jalan jauh?” Gibran nampak khawatir dengan Nara.


“Iya, aku masih bisa kok.” Nara sedikit berdusta, karena nyatanya ia merasakan nyeri di


dadanya.


Gibran yang paham betul dengan wanita itu langsung mengernyitkan keningnya dan merasa bahwa wanita itu sedang berbohong.


“Jangan memaksakan diri. Aku tahu dada kamu sering bengkak.” Gibran mengusap kepala


Nara di saat semua orang sedang berada di sawah. Nara langsung menjauh dan panik saat


disentuh seperti itu.


“Jangan gitu! Nanti kalau mereka lihat gimana!’ keluh Nara.


Gibran justru menjulurkan lidahnya seakan sengaja menggoda wanita itu.


“Kamu kebanyakan mikirin omongan orang lain tau!” ledek Gibran.

__ADS_1


Nara menajamkan matanya ke arah pria itu seakan marah dengan Gibran. Namun, tiba-tiba ponsel Nara bergetar dan terlihat nama yang ada di layar ponselnya. Ia sedikit terkejut dan tidak menyangka saat melihat namanya.


“Hah? Tumben banget Rendi telpon?” batin Nara.


__ADS_2