
"Maksudnya? Saya nyulik gitu?" Gibran nampak tidak terima dengan tuduhan tersebut.
"Silakan beri keterangan di kantor polisi saja, agar semuanya menjadi makin jelas!" ujar petugas kepolisian dan langsung menyeret Gibran dan Nara pergi.
Namun, Gibran menepiskan tangannya dan menolak untuk dibawa pergi.
"Kenapa justru saya yang dibawa ke kepolisian?! Bapak tahu tidak jika yang bersalah adalah suaminya Nara sendiri!" hardik Rendi berusaha melindungi dan mencegah Nara untuk dibawa.
"Jangan banyak berkilah, jika anda mempersulit, justru akan semakin ketahuan bahwa anda bersalah."
Gibran melihat ke arah Nara, lebih tepatnya dia takut jika Nara kembali ke suaminya dan mengalami kekerasan lagi. Namun, dia belum bisa menggunakan kuasanya.
"Ck!" Gibran berdecak kesal.
"Gibran akan kami bawa ke kantor polisi, bersama dengan Nara. Silakan ambil barang-barang Mbak Nara agar nanti bisa langsung dijemput oleh Pak Rendi." Petugas kepolisan kembali mengeluarkan pernyataannya.
Pada akhirnya Gibran hanya bisa pasrah saja dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia tidak bisa sembarangan menelpon ayahnya. Dengan diantar oleh polisi wanita yang juga ikut datang, Nara pun mengepak barang-barangnya dan lalu pergi meninggalkan rumah Gibran. Mereka masuk ke mobil yang berbeda, membuat Nara semakin resah dan gelisah. Sebelum masuk ke mobil, Nara melihat ke arah Gibran dengan ketakutan, lalu Gibran menganggukkan kepalanya, seakan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Mereka berdua dibawa ke kantor polisi, Nara lebih khawatir dengan Gibran yang nantinya akan dipenjara atas tuduhan yang tidak benar, apalagi Rendi juga bukan orang sembarangan. Orang tuanya juga bisa berkuasa dan mengeluarkan banyak uang jika harus menyangkut perihal putranya. Meskipun Nara sudah mendengar cerita Gibran, namun tetap saja dia merasa takut.
Sampai di kantor poisi, Nara melihat Rendi sudah berada di sana dan raut wajahnya nampak terlihat bahagia saat melihat Nara sampai di sana.
Sedangkan Nara mulai susah menelan salivanya, jantungnya juga berdegup dengan sangat kencang. Akankah dia mengulang hal yang sama lagi?
Sampai di satu ruangan, Gibran langsung dihajar habis-habisan oleh Rendi dan membuat petugas harus turun tangan melerai mereka.
"Beraninya kau culik istriku bahkan lebih dari satu hari! Dasar nggak tahu diri!" Rendi terlihat marah kepada Gibran, sedangkan Gibran hanya diam saja dan pasrah dengan kelakuan Rendi. Nara berusaha untuk tidak melihat hal itu.
__ADS_1
"Bahkan kamu berani melukai istriku? Lihat pak! Itu bekas lebam di pipinya pasti kelakuan si Gibran tuh!" tuduh Rendi di depan para polisi.
"Bohong pak!" teriak Gibran.
"Bukan! Yang melakukan ini adalah Rendi! Saya pergi ke rumah Gibran karena saya berlindung dari pria jahat itu! Saya pergi karena Rendi yang memukul saya dan melakukan KDRT kepada saya!" Nara mulai berani membela dirinya.
"Kamu kenapa bela dia, Sayang? Jelas-jelas dia yang mukulin aku dan bawa aku pergi, aku punya rekamannya loh." Rendi terlihat baik kepada Nara.
"Rekaman?!" Gibran sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Rendi.
Rendi mengeluarkan kamera kecil dari sakunya dan memberikannya kepada para polisi. Ternyata benar, rekaman itu hanya berisi saat Gibran memukul Rendi saja, selebihnya tidak ada lagi. Entah kemana potongan video itu dihapus. Rendi juga memberikan rekaman suara kepada para polisi.
"Itu cuma sebagian aja! Dia menghapus semuanya! Aku yakin dia sengaja melakukan itu biar bisa memperbudak istrinya sendiri!" Gibran mulai tidak bisa sabar dengan ucapan Rendi.
"Kau yang memanipulasi semuanya! Pokoknya urus aja dia, Pak! Dia sama sekali bukan orang baik-baik, bahkan dia juga jadi komplotan mafia!" tuduh Rendi.
Alhasil, Gibran lah yang diintrogasi di sana. Saat Rendi melewati Gibran, Rendi tersenyum tipis dan terlihat senang saat ia merasa berhasil balas dendam.
"Ck!" Rendi berdecak kesal, dia lebih kesal karena Nara direbut kembali oleh Rendi dan dia merasa gagal melindungi Nara.
Di kantor polisi, Gibran ditanyai berbagai macam pertanyaan, bahkan tangannya masih diborgol. Benar-benar bak penjahat.
"Apa benar kau merupakan komplotan mafia?" tanya seorang polisi kepada Gibran.
"Tidak, untuk apa saya ikut komplotan mengerikan seperti itu. Saya ini juga masih mahasiswa, sama seperti kedua orang yang tadi bapak lepaskan. Bedanya, Rendi punya banyak uang, dan kalian belum tahu siapa saya," ucap Gibran dengan santai sembari menatap mereka semua dengan tatapan tajam.
"Apa maksud pernyataan anda?!" Salah satu petugas nampak meninggikan suaranya.
__ADS_1
"Hhh, malas sekali menjelaskan kepada kalian semua," gumam Gibran yang menghela nafas panjang dan merasa kesal dengan semua yang sudah terjadi.
"Tolong kerjasamanya ya, kami juga ingin semua ini lekas selesai!" Para petugas mulai naik pitam.
"Kalau begitu, tolong pinjam ponsel kalian dan tolong telpon ke nomor orang yang ada di foto ini." Gibran menatap ke satu foto, di sana ada 4 polisi dan satu orang yang merupakan petinggi mereka.
"Jangan mengada-ada! Dia adalah orang sibuk! Dia atasan kami, kau jangan main-main ya!" Mereka mulai kesal.
"Katanya ingin cepat selesai?" Gibran membalikkan pernyataan mereka.
Semua orang pun langsung terdiam dan dengan merasa kesal, salah satu petugas pun menghubungi petinggi mereka. Setelah tersambung dan diangkat, juga mendapat ijin, petugas mengeraskan suara dan mendekatkan ke arah mulut Gibran.
"Selamat pagi, Pak. Maaf saya ganggu waktu bapak, ini kode 51." Gibran seperti memberikan sebuah kode dan semua orang tidak ada yang paham maksudnya.
"Kode 51?" Pria itu bergeming sejenak. "OH! KENAPA BISA DITANGKAP?! DASAR BODOH! LEPASKAN DIA SEKARANG! KALIAN TIDAK TAHU DIA SIAPA YA?!" bentak atasan mereka dan membuat semua orang langsung terkejut.
"Tapi pak, dia terlibat kasus yang cukup besar." Mereka masih berkilah.
"Daripada kalian dituntut sama orang paling kaya di jawa! Sudah cepat lepaskan dia!" pinta atasannya.
Semua orang langsung bergegas melepaskan borgol Gibran, namun masih belum paham dengan situasi yang tengah terjadi. Sebenarnya ada apa ini.
"Terima kasih ya, Pak. Maaf mengganggu waktunya. Kalau begitu saya pergi dulu." Gibran langsung berpamitan dari kantor polisi dan semua petugas melihat Gibran dengan rasa kesal sekaligus bingung. "Oh iya, sekalian. Asal kalian tahu, Rendi itu pelakunya, saya hanya menolong. Lebih baik kalian selidiki Rendi jika ingin nyawa satu orang tertolong." Gibran memberikan kata-kata terakhir dan langsung pergi dari tempat itu.
"Hadeh, kalian gimana sih. Kalau mau nangkep orang itu, lihat dulu perumahannya mana, bloknya mana, kan udah saya kasih daftar orang-orang pentingnya! Dia itu putranya Pak Bramantya, pengelola gedung kepolisian ini, beliau juga banyak melakukan donasi di sini. Jadi, percuma saja kalian menangkap anaknya! Sudah ah! Lain kali lebih teliti lagi!" ketus petinggi kepolisian itu.
Semua orang langsung semakin tercengang dan masih bingung dengan apa yang terjadi. Ternyata barusan mereka seperti menangkap seekor hiu dan mental mereka baru saja diterkam oleh hiu tersebut.
__ADS_1