Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Tempat Berkeluh Kesah


__ADS_3

"Kamu tahu? Setelah menikah, kukira hidupku akan semakin bahagia, ternyata ... aku malah mendapat banyak pekerjaan di rumah, yang dulunya juga sama sekali tidak pernah kukerjakan sendiri." Nara mulai menceritakan keluh kesahnya itu.


Gibran terdiam sejenak dan mendengarkan cerita dari wanita itu. Ia tahu, jika ia membutuhkan teman untuk bercerita. Saat ini, Nara tidak bisa cerita dengan temannya, karena Tia saja tidak tahu soal Syakila. Meskipun Nara sudah menolak Gibran dengan terang-terangan tanpa belum memulai apa-apa, namun, perasaan Gibran tidak pernah luntur sama sekali. Ia belum menemukan wanita sebaik Nara, dan ingin sekali melindungi Nara apapun yang terjadi.


"Belakangan ini, Rendi terlihat semakin peduli kepadaku. Aku harus bersyukur dengan apa yang kudapatkan ini, bukan?" Nara menatap wajah Gibran dengan senyuman, namun, matanya berkaca.


"Dia tidak tahu seberapa sakitnya jahitan bekas melahirkan Syakila, bangun dengan tubuh yang hampir hancur, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, menenenagkan Syakila yang rewel, nggak punya pemasukan tetap, masih bergantung orang tua." Nara masih melanjutkan perkataannya itu.


"Tidak apa, lanjutkan saja." Gibran meminta Nara untuk melanjutkan ceritanya itu.


"Dia nggak tahu seberapa sakitnya saat aku menyusui Syakila, lecet di dadaku, darah keluar banyak banget sampai tembus ke celana, tapi nggak ada yang bisa bantu aku selain diriku sendiri. Aku berjuang sendiri, dan Rendi berani seenaknya sama aku. Apakah emang semua itu tugasku? Atau hukuman untukku?" Nara mulai menitihkan air matanya. Untungnya tidak banyak orang di kantin saat itu.


"Nggak, Nara. Gibran belum sadar atas pengorbanan kamu. Nanti, kalau dia udah sadar, pasti bakal langsung bantu semua pekerjaan rumah kamu itu. Dia juga bakal ngerti semua penderitaan kamu dan meringankan beban kamu," jawab Gibran.


"Dia belum menyandang status bekerja loh. Udah kaya gini. Gimana kalau udah kerja? Apa dia nggak semakin semena-mena sama aku?" tanya Nara. Terlihat Nara makin marah.


"Ah, wanita ini minta didengar rupanya," batin Gibran.


"Dia jaga Syakila sebentar aja udah langsung bingung, denger Syakila nangis di malam hari pun nggak bangun. Dia kaya nggak peduli gitu, mau Syakila bangun atau nggak, mau aku tidur dengan posisi kancing baju terbuka sampai pagi, aku bangun tengah malam, kayaknya dia nggak peduli. Aku berusaha buat bersikap biasa aja waktu sikap dia begitu ke aku. Aku berusaha untuk tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Meskipun rasanya, dadaku sakit." Air mata terus keluar dari mata wanita itu.


Nara tidak bisa memprotes apa yang dilakukan oleh suaminya itu, ia memilih diam saja karena tidak ingin berdebat dengan hal yang menurut Nara kurang pas di hati Nara. Ia memilih menjalankan semua seperti biasa, seperti tidak terjadi apa-apa sama sekali.


Wanita itu masih sesenggukan dan berusaha untuk mengusap air matanya. Gibran menghela nafas panjang mendengar ceritanya Nara itu.

__ADS_1


"Sudah ya. Semua baik-baik aja kok. Kamu harus kuat menghadapi semua ini, meskipun memang ini tidak adil." Gibran mengusap kepala Nara dengan lembut, berharap pikiran wanita itu menjadi lebih baik.


"Kalau boleh, aku bahkan pingin banget pulang ke rumah orang tuaku. Aku pingin banget diperlakukan seperti putri di rumah." Nara mulai kembali berkeluh kesah.


"Pulang aja, Nara. Kamu boleh kok pulang waktu kamu lagi libur kuliah. Jumat juga kamu jam 10 udah balik kan? Bisa kamu langsung pulang terus di sana sampai hari minggu, senin atau minggu sore baru balik lagi," tandas Gibran sembari mengusap rambut Nara dan mengelus-elus wajahnya dengan lembut dan penuh dengan kasih sayang.


"Apa Rendi mau nganterin? Kayaknya nggak mau deh," ucap Nara.


"Harus mau. Dia suami kamu, dia aja bisa ketemu orang tuanya setiap hari, masa kamu nggak boleh sebulan sekali?" Gibran tersenyum dan mengusap kedua pipi wanita itu.


Nara terdiam sejenak, ia berusaha mencerna ucapan pria itu dan merasa yang diucapkan oleh Gibran itu memang benar adanya. Nara berhak pulang dan Rendi harus bertanggung jawab akan hal itu.


"Yang kuat ya! Kamu sekarang udah jadi ibu, sekaligus mahasiswa, sekaligus istri, bahkan menantu. Kamu harus lebih kuat menghadapi pilihan kamu. Kelahiran Syakila itu bukan salah siapapun, itu adalah pilihan kalian berdua." Gibran kembali tersenyum dan mencubit sedikit pipi Nara.


"Iya, melahirkan Syakila merupakan pilihanku. Harusnya aku lebih menjaga Syakila dengan baik," tutur Nara.


"Kamu sudah melakukan yang terbaik, Nara. Jangan memaksakan diri kamu untuk jadi orang lain, jadilah diri sendiri." Gibran menyeruput minuman yang ada di hadapannya itu dan merasa lega karena Nara sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Terima kasih, Gibran. Aku tidak tahu harus cerita kepada siapa. Aku akhirnya bisa meluapkan semuanya, meski tidak di hadapan suamiku sendiri." Nara terlihat sudah jauh lebih tenang lagi.


"Kamu bisa cerita apapun kepadaku, Nara. Jangan malu-malu ya? Aku akan mendengarkan apa yang kamu ceritakan kok."


Nara tersenyum kala Gibran berkata seperti itu, membuat Nara merasa aman dan tenang, karena dia memiliki teman yang bisa ia ajak ngobrol kapanpun. Bahkan Nara tidak segan-segan menceritakan semua masalahnya kepada Gibran.

__ADS_1


Setelah sudah jam masuk kuliah, Nara dan Gibran pun masuk ke dalam gedung yang sama. Di saat yang sama, Gibran tiba-tiba melihat Rendi tengah merangkul Adel dengan penuh percaya diri dan menuju ke kantin. Gibran melihat Nara masih membayar makanannya.


"Ck! Berandal satu itu benar-benar sudah kelewatan!" geram Gibran kala melihat Rendi yang bersikap seperti itu.


"Kamu di gedung G juga, kan?" Nara sudah selesai membayar makanannya.


"Iya! Ayo lewat sini aja! Akan kutunjukkan kucing yang sering kuberi makan saat aku lewat jalan itu!" Gibran pun merangkul Nara dan berusaha menjauhi Rendi. Ia pergi ke arah yang berlawanan dari Rendi agar Nara tidak melihat hal itu.


"Apaan sih? Ntar telat masuknya!" protes Nara.


"Halah! Jalannya sama aja kok, di sana lebih bagus tau!" Gibran berusaha untuk membuat Nara benar-benar tak melihat hal itu.


"Jangan lama-lama loh. Aku ini terkenal tepat waktu loh!"


"Iya, tenang aja. Masih 20 menit lagi yaelah."


Saat Gibran dan Nara menjauh, Rendi justru melihat Gibran yang merangkul Nara dan membuat Rendi langsung naik pitam.


"Bukannya itu Nara?" batin Rendi.


"Kenapa deket banget gitu sama si Gibran dah!" gumam Rendi secara spontan. Membuat Adel yang melihat hal itu langsung memanggil Rendi.


"Kak! Lihat apa sih!" panggil wanita itu.

__ADS_1


"Oh, nggakpapa kok! Ayo kita makan siang dulu!" ajak Rendi kepada wanita itu.


__ADS_2