
Suasana di kampus cukup membuat media heboh, namun, universitas juga berusaha menutupiapa yang sebenarnya terjadi. Dari yang beritanya merupakan alasan mengapa ketua BEM
diminta turun jabatan, jadi demo ricuh. Itu semua pun berkat ayahnya Gibran yang memang merupakan donatur terbesar di universitas itu.
Satu hari setelah kericuhan pun berlalu, Nara semakin penasaran dengan apa yang terjadi dengan Rendi. Dia memang mengkhawatirkan pria itu, tapi dia tidak bermaksud untuk rujuk sama sekali. Setelah Nara, Tia, dan Gibran diamankan, Gibran membawa Tia dan Nara pulang
ke kontrakan mereka masing-masing dan memutuskan untuk menyelesaikan semuanya sendiri.
Gibran tidak ingin Nara turun tangan dan tahu siapa identitas sebenarnya Gibran.
Setelah Gibran sudah senggang, ia datang kontrakan baru Nara dengan wajah yang kelelahan.
Sebenarnya, Nara ingin mengetahui lebih lanjut apa yang terjadi selama Nara berada di rumah, namun, ia memilih untuk membiarkan Gibran istirahat dan juga makan siang lebih dulu.
Sedangkan Syakila sedang tidur siang di kamar.
“Capek ya? Makan dulu ya, habis ini kamu balik lagi ke kampus kah?” tanya Nara yang
berusaha bersabar.
“Besok aku balik lagi. Rendi masih belum sadarkan diri di rumah sakit, orang tua Rendi juga hanya tahu jika Rendi terlibat adanya demo dan terjadi kerusuhan,” urai Gibran sembari mengambil nasi dan berusaha menceritakan keluh kesahnya kepada Nara.
“Ya udah, makan dulu. Kelihatan banget kamu lapar tuh,” ujar Nara sembari duduk di depan Gibran.
Pria itu pun menikmati masakan yang Nara buat, kesehariannya jadi seperti suami Nara. Gibran bahkan menikmati hari-harinya bersama Nara, karena ini yang ia inginkan selama ini. Hingga Gibran pun selesai dengan makannya dan kembali bercengkrama dengan Nara di meja makan.
“Pokoknya, orang tua Rendi sama sekali nggak tahu dengan apa yang terjadi. Kalau kalian
emang berniat pisah, akan jauh lebih baik jika kalian sekeluarga bicarakan ini baik-baik. Namun,
bisa saja masalah Rendi dan Adel ketahuan lebih awal sebelum kalian bicara. Pokoknya
baiknya kalian aja deh gimana,” ujar Gibran yang nampak sudah jauh lebih baik.
“Biar kedua orang tua Rendi tahu semuanya. Karena universitas juga sudah tahu perihal Adel dan juga Rendi. Otomatis mereka juga pasti akan dinikahkan, kampus juga merasa nama baik mereka
__ADS_1
sudah jelek. Pasti beasiswa Rendi langsung dicabut,” urai Nara yang sudah memperkirakan hal
terburuk yang akan terjadi.
“Bisa jadi, Nara. Biarkan saja, ini udah jadi karma buat Rendi karena sudah memperlakukanmu dengan tidak baik. Sekarang, fokus menata kehidupanmu saja sampai semua terungkap dengan sendirinya. Kamu adalah korban di sini, dan kamu nggak perlu bertanggung jawab atas apa yang sudah Rendi lakukan kepadamu.” Gibran memberikan saran lagi kepada Nara karena
takut wanita yang ada di depannya itu gelap mata dan nekad menolong bahkan membela
Rendi.
Nara menghela nafas panjang dan merasa sedikit sedih karena nama baik Rendi harus hancur dengan cara seperti ini. Bodohnya pria itu sampai membuat semuanya menjadi fatal seperti ini.
Melihat wanita yang ada di hadapannya itu nampak gusar, Gibran pun memegang tangan Nara
yang ada di meja dan membuat Nara melihat ke arah Gibran. Gibran pun tersenyum dengan
hangat dan berusaha menenangkan wanita itu.
“Nggakpapa, itu bukan salah kamu kok. Jangan merasa bersalah atau apapun itu. Biarkan dia mempertanggungjawabkan semuanya ya?” ujar Gibran dengan lembut.
rasa sakitnya itu. Gibran pun berpindah dan duduk di sebelah Nara, ia menarik tubuh Nara
dengan lembut ke dalam pelukannya dan memeluk wanita itu sembari mengusap rambutnya
dengan lembut.
"Pasti sakit banget rasanya ya?" ujar Gibran dengan lembut.
"Banget, Gibran. Aku udah bertahun-tahun sama Rendi, Rendi berubah juga pasti karena ada alasan yang dia sendiri nggak sadari. Kisah cinta yang kukira akan indah, ternyata bisa sehancur ini." Isak tangis pun memenuhi rumah kecil itu.
Gibran mengerti mengapa Nara begitu sedih, meskipun Rendi terus bersikap jahat kepada Nara, namun, sebuah kenangan indah pasti akan terus terpaku di dalam ingatan. Dari yang indah menjadi hancur lebur, tidak ada satu orang pun yang mau kenangan indahnya rusak di masa depan. Namun, hal itu justru terjadi kepada Nara dan Rendi.
"Yang sabar ya, Nara. Kamu harus ikhlas, jangan kembali lagi. Aku yakin dia akan mengulangi kesalahan yang sama. Beri diri kamu ruang, beri dia ruang, lebih baik jika kalian mengakhiri semuanya dan mencari kebahagiaan lain." Gibran kembali memberikan saran.
"Aku akan berusaha mengikhlaskan pernikahan ini, Gibran."
__ADS_1
Pada akhirnya, Nara tetap bertekad untuk mengakhiri semuanya dan mencari kebahagiaan yang baru.
Sedangkan, Gibran melihat adanya sebuah peluang untuk dirinya bisa masuk ke dalam kehidupan Nara. Gibran hanya perlu sedikit bersabar, karena ia juga tidak bisa memaksa Nara untuk segera move on dan sembuh dari luka lamanya terhadap sebuah pernikahan yang sudah terjadi karena nafsu mereka berdua saja.
Setelah dirasa Nara sudah tenang, mereka berdua pun kembali membicarakan hal-hal yang cukup penting dan juga masa depan Nara juga Syakila.
Namun, Nara kepikiran akan sesuatu yang terjadi kemarin.
"Ngomong-ngomong, kemarin kamu manggil siapa sih? Beneran manggil brimob buat nenangin mereka semua?" tanya Nara.
"Iya. Aku meminta tolong supirku untuk memanggil mereka." Namun, Gibran nampak sadar akan perkataannya itu dan sedikit terkejut.
"Supir?" Nara terpancing dengan apa yang dikatakan oleh Gibran. "Kamu punya supir? Kok aku nggak pernah tahu sih?!" imbuh Nara.
"Iya karena aku nggak pernah cerita juga sih. Aku kadang malas membicarakan semuanya kepada orang lain." Gibran berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.
"Jadi, aku orang lain di mata kamu?" Nara memicingkan matanya dan terlihat marah.
Gibran pun merasa bahwa ia salah bicara.
"Bu–bukan gitu kok! Kalau kamu itu spesial buat aku kok." Gibran pun mulai membujuk wanita itu.
Nara nampak sedikit marah dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Gibran menghela nafas panjang dan kembali menggenggam kedua tangan Nara.
"Tau nggak?" ujar Gibran yang ingin bicara serius.
"Nggak!" jawab Nara dengan bercanda. Gibran langsung menggelitik pinggang Nara dan membuat Nara langsung fokus lagi.
"Ih makanya dengerin!" gemas Gibran.
Nara pun berusaha mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Gibran.
"Dari awal, rasaku ke kamu nggak pernah berubah, Nara. Masih sama, meskipun kamu sering nolak aku dan cuma anggap aku sahabat, tapi aku selalu anggap kamu lebih." Gibran mengusap pipi kanan wanita itu dengan lembut. "Nyatanya, sampai sekarang aku masih tetap mencintai kamu, Nara."
Perkataan itu membuat Nara langsung terdiam beribu bahasa dan sedikit salah tingkah. Ia berusaha memasang wajah acuh meskipun sebenarnya jantung Nara berdegup dengan sangat kencang. Ternyata, perasaan Gibran tidak peramh berubah sedikitpun, Nara pun akhirnya berusaha membuka hati untuk Gibran.
__ADS_1
"Mungkin, memang sudah waktunya aku ikhlas...."