Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Pertama Kali Main Tangan


__ADS_3

"Lo mau ngetes kesetiaan gue ya?"


Mendengar Nara berkata seperti itu, Tia langsung merasa lega dan tertawa kecil. Sahabatnya begitu polos sekali dan membuat Tia semakin tidak tega untuk membicarakan yang sebenarnya terjadi.


"Dahlah, makan aja dulu. Nggak usah dipikirin. Pokoknya gue cuma mau lo bahagia kok." Tia langsung mengambil alat makan dan melahap makanan yang ada di depannya itu.


Sedangkan Nara masih menganggap apa yang dikatakan oleh Tia hanyalah basa-basi saja. Meskipun sebenarnya dia juga ada sedikit kepikiran soal hal itu. Beberapa hari ini, Rendi sering sekali menginap, entah di kampus atau di rumah temannya. Sedangkan Nara juga tidak bisa menahan pria itu untuk pergi. Alhasil dia hanya diam saja. Nara juga sudah sangat jarang sekali melakukan hubungan suami istri dengan Rendi. Biasanya mereka melakukan seminggu tiga kali, sedangkan ini hanya seminggu sekali saja, itu pun karena bujuk rayu Nara yang memang membutuhkan tempat untuk melampiaskan nafsunya.


Setelah selesai makan, Nara pun pulang ke kontrakannya dengan menggunakan gojek. Sedangkan di rumah, dia melihat Rendi sudah berada di rumah. Nara langsung masuk dan disambut oleh suaminya yang nampak terkejut dengan kehadiran Nara.


"Kamu katanya nggak bisa jemput?" tanya Nara sembari menggendong Syakila.


"Eh, iya. Tadi aku nggak tahu kalau kamu udah pulang, ternyata kita keluarnya barengan." Rendi mengusap belakang kepalanya dan nampak gugup.


"Ya kan setiap rabu emang kita keluarnya barengan. Kalau kamu sibuk ya udah sih bilang aja, toh udah telanjur juga," ucap Nara sembari meletakkan Syakila yang tertidur.


Nara pun pergi ke kamar untuk mengganti pakaiannya, dan melihat rak tempat dia menyimpan uang sudah terbuka. Nara langsung memegang lengan Rendi yang akan keluar.


"Tunggu, kamu ambil uang di rak itu?" tanya Nara tanpa basa-basi.


"Iya, emang kenapa? Itu uang juga buat kuliah kita, kan?" Rendi nampak mulai kesal dan mengerti arah pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Itu uang buat Syakila. Pampersnya mau habis loh, besok dia juga harus dititipin. Itu uang terakhir aku sampai kiriman besok," ucap Nara dengan jujur.


"Ya udah tunggu aja besok kan juga pasti dikirim sama orang tua kamu. Aku butuh uang ini buat acara besok. Kamu tahu kan kampus bakal adain acara gede? Aku harus ngurusin itu matang-matang, terus, aku juga udah lihat kerjaan kamu yang ngerjain tugasku. Besok kerjain lagi ya, aku sibuk nih!" ucap Rendi sembari pergi meninggalkan Nara.


Karena saking kesalnya, Nara langsung menarik Rendi masuk ke dalam rumah lagi. Padahal Syakila sedang tidur di hadapan mereka.


"Apa sih kenapa narik-narik!"


"Kamu sadar nggak sih kalau kamu nggak pernah ada waktu buat keluarga?" tanya Nara yang mulai membahas perihal perasaannya.


"Aku ngelakuin ini karena aku juga masih kuliah tau, aku juga bakal kerja ke tempat bapak kalau misal aku senggang kok!" tepis Rendi.


"Bukan gitu, seenggaknya kasihlah aku sama Syakila waktu. Seharian kamu di rumah itu udah cukup, Syakila juga pengen liat papanya loh!" Nara menunjuk Syakila yang tengah tertidur. "Temenku yang anak BEM juga nggak sesibuk ini kok! Dia bahkan sering jalan sama keluarganya!"


PLAK!


Karena emosi yang udah meluap karena pikiran Rendi juga sedang kacau, pria itu justru menampar Nara dengan sangat keras dan membuat Nara langsung terdiam dan memegang pipinya yang memerah karena ditampar Rendi.


"Nggak usah banyak bicara kamu. Masih beruntung aku kasih kamu nafkah dari pada nggak sama sekali. Jadi istri tu bersyukur, jangan banyak ngeluh!" protes Rendi dengan nada bicara yang cukup tinggi dan membentak Nara.


Nara tidak bisa berkata apa-apa lagi dan ini kali pertama dia dibentak oleh suaminya sendiri. Kekasih yang sudah lama ia kenal, ternyata sikap aslinya tidak seperti yang dia bayangkan.

__ADS_1


Suasana saat itu menjadi cukup awkward dan membuat mereka berdua terdiam sejenak, tiba-tiba Rendi tersadar jika ia telah melukai istrinya dengan menamparnya. Jika sampai ketahuan dia melakukan kekerasan maka sudah pasti penjara akhirnya.


"Nara ... maaf, aku nggak sadar ngelakuin itu ke kamu," ucap Rendi sembari berusaha menyentuh Nara. Namun, Nara menjauh dan tidak ingin disentuh oleh pria itu.


"Kamu ada urusan kan? Pergi aja, aku nggakpapa kok." Nara berusaha untuk tidak melihat ke arah pria itu, namun hatinya hancur saat suaminya menggunakan kekerasan.


"Maaf, serius aku minta maaf. Aku lagi banyak banget pikiran dan nggak tahu harus gimana. Aku butuh waktu untuk nyelesaiin kerjaanku satu persatu, dan itu pasti bakal lama. Event ini cukup berarti buat aku yang baru diangkat jadi ketua BEM dan—"


"Terus menurut kamu, aku sama Syakila ini nggak penting buat kamu, hah?!" hardik Nara yang langsung menatap Rendi dengan bengkak di pipinya juga air mata yang terbendung.


"Bukan gitu, Nara. Aku janji, setelah ini selesai aku bakal balik ke kamu dan Syakila. Aku bakal nyenengin kalian berdua, aku bakal ngelakuin apapun yang kalian mau. Please, maaf ya." Rendi memegang tangan Nara dan merasa bersalah karena telah menyakiti Nara.


"Aku cuma butuh waktu kamu, Rendi. Aku nggak pernah minta uang ke kamu kan? Aku juga nggak pernah nuntut kamu kerja, dan kamu mau kemanapun nggak pernah larang. Ini perlakuan kamu ke aku?" Nara berusaha memelankan suaranya karena putrinya tengah tertidur lelap.


"Iya oke. Aku salah, maafin aku ya. Please kasih aku waktu buat nyelesaiin semua ini. Setelah ini, aku janji bakal balik ke kamu dan bakal mentingin kalian berdua. Maaf, Sayang." Rendi menyentuh pipi Nara, lalu memeluk wanita itu dengan penuh rasa bersalah.


Nara berusaha untuk tidak menangis, karena dia harus menjadi wanita yang kuat dan juga tegar. Dia sudah jadi ibu, dia tidak boleh lemah. Nara pun melepaskan pelukan suaminya itu.


"Ya udah ya, aku pergi dulu. Aku ditunggu banyak orang. Maaf ya, Sayang." Rendi mengusap rambut Nara dan mencium kening wanita itu, lalu pergi meninggalkan Nara dan Syakila.


Saat itu juga, air mata Nara mengalir dengan derasnya, namun, ia tidak menangis terisak, hanya air mata saja yang keluar dan sesekali ia menyekanya.

__ADS_1


"Ayo, Nara. Kamu harus kuat, biasain tanpa Rendi. Kamu pasti bisa sendiri dan nggak manja sama orang yang udah nggak peduli sama kamu," gumam Nara sembari menguatkan dirinya sendiri.


Ia sadar, kehadiran Nara dan Syakila dalam hidup Rendi jelas mengubah segalanya. Nara berusaha untuk mengerti itu dan bertekad untuk berjuang membesarkan Syakila tanpa campur tangan Rendi. Mau bantu silakan, nggak juga silakan. Nara berusaha untuk berjuang sendiri.


__ADS_2