Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Perkara Baju Lungsuran


__ADS_3

Saat weekend tiba, Nara pun membersihkan rumahnya dan mencari kegiatan di rumah, karena dia di rumah sendirian sejak Rendi ijin untuk pergi menginap. Sesekali Nara menghela nafas panjang karena pekerjaannya begitu banyak, untungnya Syakila bukanlah anak yang rewel, ketika ibunya sedang membersihkan rumah dan Syakila berada di depan tv yang menyala, anak itu hanya melihat saja dan sesekali tersenyum saat Nara menggoda putrinya itu. Semakin Syakila besar, Nara merasa jauh lebih baik, karena putrinya ternyata begitu pengertian.


Saat rumah sudah bersih dan Nara akan duduk untuk beristirahat, tantenya Rendi dan juga mertua Nara tiba-tiba datang ke kontrakan Nara. Melihat tantenya saja sudah membuat Nara malas. Namun, dia harus tetap bersikap baik di depan semua keluarga Rendi. Saat mereka berdua sudah masuk ke dalam rumah, Adel mencium tangan mereka berdua. Tante Irma terlihat sedang memperhatikan ke beberapa sudut rumah. Setelah Adel mencium tangan mertuanya, terlihat pria itu langsung menggendong Syakila dan gemas dengan cucunya sendiri.


"Rendi di mana, Nak?" tanya ayah mertua Nara.


"Rendi lagi ada acara di kampus, Pak. Mungkin sebentar lagi pulang," jawab Nara yang padahal dia tidak tahu kapan suaminya akan pulang ke rumah.


"Owalah, Syakila bapak bawa ke luar ya. Udara pagi jam 8 masih bagus buat bayi. Sinar mataharinya juga," ujar ayah mertua Nara. Nara hanya menganggukkan kepalanya saja.


Kini, Nara berada di dalam bersama dengan Tante Irma. Ia mengeluarkan kantung plastik besar dan mengeluarkan beberapa pakaian di dalamnya.


"Ini, dikasih sama tante Umi, adikku yang sekarang tinggal di yogyakarta. Dia punya beberapa baju lungsuran buat Syakila," ucap wanita itu sembari mengeluarkan pakaian bayi dari dalam kantung plastik tersebut.


Pakaian yang dikeluarkan memang terlihat masih bisa digunakan, namun warnanya sudah agak memudar. Nara berusaha untuk tersenyum bahagia seakan mendapatkan baju baru. Yang padahal dia ingin sekali menolak pemberian tante-tantenya itu.


"Terima kasih, Bulik." Nara berusaha tersenyum.


Namun, wanita itu tiba-tiba melihat beberapa set pakaian hadiah dari Gibran, Tia, dan beberapa juga Nara beli sendiri, masih terbungkus rapi di dalam plastik. Memang sengaja belum Nara buka karena dia akan beristirahat dulu sebelum merapikan pakaiannya.

__ADS_1


"Kamu kenapa beli baju baru? Boros tau. Berumah tangga itu pengeluarannya besar, jangan sampai uang kamu itu habis gara-gara beli baju. Padahal baju lungsuran dari bulik-bulik kamu itu masih bisa dipakai." Omelan itu membuat Nara langsung terdiam dan ingin sekali memprotes. Namun, ada ayah mertuanya di sana, lebih baik dia diam saja dan mengiyakan apa yang dikatakan oleh tantenya itu.


"Besok jangan boros-boros, pake aja baju yang ini. Baju bayi semuanya masih bagus!" ucap Tante Irma.


Beberapa menit kemudian, terlihat Rendi baru pulang, dan ia sedikit terkejut saat melihat bapaknya ada di sana. Rendi langsung mencium tangan bapaknya, lalu masuk dan mencium tangan tantenya itu.


Namun, baru selesai cium tangan, tante Irma langsung heboh sendiri.


"Pas banget kamu pulang, Rendi! Lihat tuh istri kamu! Masa iya beli baju bayinya banyak banget! Ini bulik kan masih punya baju lungsuran dari ponakan kamu. Kalian berdua jangan boros-boros deh, ekonomi kalian masih belum tetap. Diirit-irit!" ucap tante Irma dengan penuh semangat menyalahkan Nara.


"Iya, nanti aku bilang sama Nara. Lagian kenapa repot-repot bawa baju lungsuran? Baju Syakila udah banyak." Rendi mengusap belakang kepalanya, antara sedikit kesal karena langsung kena omel, dan juga bingung.


"Loh? Gimana sih kamu, ini dari bulik Umi. Dia kan jauh rumahnya dan belum bisa nengok Syakila! Jadi dia mau kasih baju lungsuran ini buat Syakila, bajunya juga masih bagus-bagus nih ... nih! Bisa buat umur 1 tahun juga, 6 bulan, 7 bulan, gausah beli!" Tante Irma mengeluarkan beberapa pakaian lagi dan menunjukkan ke Rendi.


"Tapi ini namanya pemborosan, Mas!" Wanita itu masih saja protes.


"Mereka juga pasti bakal bisa pelan-pelan atur ekonomi mereka sendiri. Jadi kamu nggak usah ikut campur, tenang aja loh! Ayo pulang, aku mau ke pasar!" ajak ayahnya Rendi. Lalu memberikan amplop ke tangan Nara sembari berucap, "Disimpen nggih, Nduk."


"Makasih, Pak." Nara tersenyum kala pria yang sudah seperti ayahnya itu berkata begitu.

__ADS_1


Dengan perasaan kesal, Tante Irma pun pulang bersama dengan ayahnya Rendi. Membuat Nara merasa lega dengan kepergian wanita yang membuat mental Nara selalu turun itu.


"Kenapa sih?" tanya Rendi saat ayahnya sudah menjauh dari kontrakan.


"Biasa bulik kamu, apa-apa diributin." Nara meletakkan Syakila dan membereskan baju lungsuran yang tadi berantakan karena beberapa dikeluarkan dan tidak dilipat lagi.


"Kamu juga ngapain sih beli baju baru sebanyak itu? Boros tau!" Nara langsung melihat ke arah Rendi dengan perasaan sedikit kesal.


"Emang kenapa? Aku kan juga pengen anak aku pakai baju baru. Baju yang dari bulik kamu emang bagus, Rendi. Tapi lihat to, ini ada yang bolong, ada yang udah kotor, ada yang warnanya pudar. Aku kan juga pengen Syakila pakai baju bagus." Nara berusaha memberitahu keinginannya itu.


"Ya tapi ingetlah kondisi ekonomi kita lagi kaya gini! Kalau kamu boros terus menerus, kita makan apa? Makan baju?" Rendi justru membela buliknya sendiri.


"Astaga, aku cuma beli sedikit lho, Rendi. Syakila juga anak aku, ya suka-suka aku lah." Nara semakin kesal dengan sikap suaminya.


"Kamu bisa nggak sih? Kalau ada orang ngasih saran tuh dengerin! Jangan mbantah terus! Heran aku sama kamu ya, nggak mau ngalah sama sekali!" Rendi terlihat kesal dengan istrinya itu. "Dahlah! Dengerin kamu ngomong juga nggak ada habisnya! Nyangkal terus! Aku capek, mau istirahat!" Rendi masuk ke dalam kamar dan langsung menutup pintu kamar dengan cukup keras.


Mata Nara berkaca karena melihat suaminya bersikap seperti itu, bahkan dia tidak membela Nara sama sekali. Ia merasa sedang hidup sendiri dan tanpa ada suami. Dia hanya ingin suaminya membela Nara.


Nara kembali melihat Syakila dan tersenyum kala melihat wajah putrinya yang lucu. Nara juga membuka amplop yang diberikan kepada Nara secara diam-diam tadi. Ternyata di dalamnya ada uang sebesar 500 ribu. Sepertinya memang khusus untuk Syakila, karena mertuanya tidak mengijinkan untuk memberitahukannya kepada Rendi.

__ADS_1


Ia pun tersenyum saat membuka isinya, setidaknya dia bisa bertahan hidup dengan uang tambahan itu. Juga bisa memasak makanan yang sehat untuk suaminya juga.


"Untung bapak selalu baik sama aku," gumam Nara dengan senyuman.


__ADS_2