
Suasana di rumah sakit semakin canggung dan Rendi juga semakin bingung dengan apa yang ada di hadapannya sekarang.
“Dia temen Rendi, Ayah, Ibu. Mereka satu jajaran BEM.” Nara pun spontan menjawab
pertanyaan mertuanya yang sebenarnya kurang suka dengan kehadiran Adel yang pakaiannya
juga tidak terlalu sopan.
“Oh, kirain siapa. Salam kenal ya. Terima kasih sudah mau berteman sama anak tante.” Ibunya Rendi nampak ketus dengan wanita itu. Adel tentu saja merasakan aura itu karena dia tahu bagaimana rasanya diabaikan dan dikucilkan.
“Ya udah kalau gitu om, tante, Adel permisi dulu ya? Semoga Rendi cepat sembuh. Ini
temennya Rendi ini juga saya ajak pergi, biar Rendinya bisa istirahat,” ujar Adel sembari
mengajak Nara untuk pergi dari ruangan Rendi.
Namun, ibunya Rendi juga langsung memegang lengan Nara dan menatap Adel dengan sinis.
Di situ Rendi nampak semakin tegang dan takut, namun tidak berani berkata apa-apa.
“Kamu saja yang pergi, Nara biar di sini sama kami. Dia datang dengan kami kok, nanti kami yang antarkan dia pulang,” ujar sang ibu mertua dengan tatapan mata yang sinis.
Adel bahkan langsung terdiam dan juga sedikit ngeri melihat ibu tirinya Rendi yang kelihatannya
galak.
“Ba–baik kalau begitu, saya permisi dulu ya ….” Adel pun melepaskan tangan Nara dan
langsung pergi dari kamar ruang rawat inap milik Rendi.
Saat Adel akan keluar dari ruangan itu,
Nara melihat ke arah Adel dan memberikan lirikan tajam, serta senyuman mengejek kepada
Adel.
Adel pun keluar dengan penuh rasa kesal.
“Ugh! Sialan! Berani-beraninya dia curi perhatian orang tua Rendi! Siapa sih? Kenapa Rendi
nggak pernah cerita sama gue!” ketus Adel sembari pergi meninggalkan rumah sakit dengan
__ADS_1
muka ditekuk dan menggerutu sepanjang lorong rumah sakit.
Sedangkan saat Adel sudah pergi, ibunya Rendi nampak berusaha menenangkan dirinya
karena hampir kelewat emosi.
“Rendi, pokoknya ibu nggak mau ya sampai kamu temenan sama cewek kaya gitu! Dilihat dari gayanya aja dia udah kelihatan nggak sopan! Masa iya sesak banget pakaiannya, celananya juga pendek, ketat pula! Paha kok di umbar-umbar!” ujar ibu mertua yang merasa kesal selepas
melihat Adel.
“Iya, Bu. Dia cuma temen doang kok, dia ikut BEM juga,” jawab Rendi yang tidak bisa
berkata-kata saat ibunya berkata seperti itu.
Setelah membahas pergaulan Rendi, ayahnya Rendi pun mulai membicarakan hal yang bisa membuat Rendi jadi seperti ini.
“Ayah dengar reputasi kamu hampir jelek ya?” ujar sang Ayah sembari menatap Rendi.
Nara belum tahu yang sebenarnya jika Evi mencari Nara, bukan Rendi. Ini semua adalah kesalahan Nara, namun Rendi belum sempat cerita ke Nara.
“Maaf, Ayah. Aku yang lalai, karena kemarin waktu KKN aku terlalu bersemangat, dan aku menceritakan kepada satu temanku jika aku sudah menikah. Namun ternyata hal itu didengar oleh seseorang yang memang ingin membuat reputasiku jatuh.” Rendi berbohong dengan menggunakan alasan yang sama dengan yang dikatakan oleh Evi.
Senyuman yang cukup hangat,
namun di dalamnya terdapat sedikit rasa kesal.
“Jadi begitu … kalau bisa, kamu harus berhati-hati lagi. Karena beasiswa kamu bisa dicabut
kalau univesitas tahu kamu sudah menikah. Jangan sampai teledor, Rendi!” hardik sang ayah
kepada Rendi yang sedikit memelankan suaranya.
“Baik, Ayah. Maafkan aku, aku akan lebih berhati-hati,” ujar Rendi dengan senyuman.
“Tadi Nara datang ke rumah dengan raut wajah yang panik waktu dengar kamu masuk rumah sakit, kami bahkan menitipkan Syakila ke bulik kamu saking paniknya. Kita juga nggak mungkin bawa Syakila, bukan?” ujar sang ibu sembari mengusap punggung Nara dengan lembut.
“Terima kasih, Nara. Maaf sudah membuatmu cemas,” ucap Rendi.
“Iya, kamu pulang kapan?” tanya Nara.
“Tadi bapak ketemu dokter, katanya bisa pulang sekitar 2 hari lagi sampai luka jahitnya sembuh. Sementara, Syakila biar di rumah sama ibu saja ya? Bapak sudah membicarakan ini bersama ibu tadi, kasihan Syakila kalau terus-terusan diitipin ke orang yang bukan keluarganya. Kali ini,
__ADS_1
biar Ibu yang mengurus semuanya,” ujar sang ayah mertua.
“Tapi, nanti jadi ngerepotin ibu sama bapak. Nanti Nara bawa ke sini aja nggakpapa kok.” Nara nampak tidak enak hati kepada mertuanya.
“Nggak ngerepotin sayang. Ibu juga masih kangen sama Syakila karena sudah lama tidak bertemu dengan dia. Kamu siapkan saja barang-barang Syakila, habis itu ibu akan mengurus
Syakila sampai Rendi keluar dari rumah sakit,” ujar sang ibu mertua.
Sebenarnya Nara tidak ingin jika Syakila diasuh oleh siapapun dari keluarga Rendi, namun sepertinya kali ini adalah keadaan darurat dan tidak ada cara lain lagi.
“Terima kasih banyak, Bu. Maaf ya, Nara jadi ngerepotin,” ujar Nara yang merasa tidak enak hati.
“Nggakpapa. Kamu di sini aja ya sama Rendi. Anggap aja kalian jadi punya waktu buat berduaan meski di rumah sakit,” goda sang ibu kepada menantunya.
Dari semua keluarga Rendi, orang tua Rendi sangatlah baik kepada Nara, berbeda dengan tantenya Rendi dan sering sekali menyalahkan Nara atas segala yang ia lakukan.
Hari sudah semakin malam, setelah membelikan beberapa makanan untuk Nara dan mengurus administrasi, Nara pun pulang sebentar untuk mengambil beberapa barang milik Syakila yang akan dibawa ke rumah mertuanya. Setelah itu ia kembali lagi ke rumah sakit, dan setelah itu
orang tua Rendi pun meninggalkan Nara dan juga Rendi di rumah sakit.
Kini, hanya tinggal mereka berdua di kamar tersebut. Nara duduk di sofa yang ada di pinggir jendela dan berada di samping Rendi.
Rendi melihat ke arah wanita itu yang sedang mengerjakan beberapa laporan, ia melihat Nara semakin kurus, namun semakin cantik dan putih juga. Mengapa hal ini baru saja dia sadari?
Terkadang, Rendi bisa melihat Nara berbeda, kadang cantik, kadang biasa saja.
“Nara …,” panggil Rendi.
Nara pun langsung menaruh laptopnya dan melihat ke arah Rendi.
“Kenapa Rendi? Kamu mau makan? Atau mau minum?” tanya Nara yang langsung siap sedia saat dipanggil suaminya.
Rendi tersenyum hangat kepada Nara dan merasa wanita itu memang sedari dulu sangat menyayangi Rendi, namun Rendi saja yang tidak bisa menghargai Nara.
“Duduk sini boleh?” tanya Rendi sembari mengajak Nara duduk di kursi yang ada di sebelah
kasur milik Rendi.
“Kenapa sayang?” Nara pun nampak penasaran dengan apa yang ingin dikatakan oleh
suaminya itu. Ia merasa akan ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh Rendi.
__ADS_1