Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Emosi Gibran


__ADS_3

"Apa-apaan ini!" hardik Rendi kepada pria yang memukul wajahnya dengan sangat keras itu.


Gibran masih terdiam dan menatap wajah Rendi dengan dingin dan sadis.


"Kak Gibran? Kenapa tiba-tiba memukul wajahku?" Rendi berusaha bangun dan menatap pria itu, berusaha untuk bersikap hangat di hadapan kakak tingkatnya itu.


"Tingkahmu sama sekali tidak menunjukkan sifat seorang pria. Bahkan kau sangat tidak cocok menjadi ketua BEM." Gibran nampak kesal dengan Rendi, namun ia masih berusaha menahan amarahnya itu.


"Apa maksudnya?"


Rendi kembali mengingat bahwa tadi siang, Gibran tengah jalan dengan Nara dan keluar dari kantin.


"Bukannya harusnya aku yang memukulmu?" Rendi pun geram dengan pria itu.


"Kenapa kau yang harus memukulku?" Gibran pura-pura tidak tahu.


Rendi tidak bisa bilang kalau Nara adalah istrinya, dan dia cemburu saat Gibran jalan dengan Nara. Ia mau marah, tapi bingung sendiri.


"Nggak usah ditutupi lagi. Aku udah tahu kalau kamu udah nikah dan punya anak." Gibran mendekati Rendi dengan raut wajah yang nampak kesal.


Sedangkan Rendi yang mendengar ucapan itu langsung terbelalak dan terkejut bukan main. Kenapa pria yang tidak dekat dengannya bisa tahu rahasia besar Rendi?


"Apa maumu?" Rendi berusaha meminta untuk damai, ia tidak ingin ada masalah di antara mereka berdua. Apalagi Gibran mengancam Rendi kalau dia sudah tahu semuanya.


"Kau sudah punya Nara, kenapa harus memberi harapan palsu kepada wanita itu? Sebenarnya aku tidak peduli kepada wanita itu, aku lebih kasihan kepada istri juga anakmu itu." Gibran langsung mulai membicarakan intinya.


"Kenapa kau bisa tahu? Dari mana?" Rendi semakin takut.


"Kau tidak perlu tahu dari mana aku bisa mengetahui rahasiamu itu. Aku tidak akan membocorkan hal ini kepada siapapun, aku tidak akan ikut campur urusan rumah tangga kalian. Namun, memberikan harapan palsu kepada wanita tadi? Kau pasti akan menerimanya ya?" Gibran seakan paham dengan sikap Rendi.

__ADS_1


"Nggak sopan. Lo nguping ya?!" Rendi mulai geram, karena ada yang mendengar percakapannya tadi bersama Adel.


"Bukan nguping sih. Aku yakin ini adalah kebetulan yang luar biasa. Yang melihatmu ditembak oleh wanita tadi ternyata aku. Bukankah itu seperti lubang kematian untukmu? Jika aku tahu semuanya, bukankah hidupmu akan hancur?" Gibran seperti mengancam pria itu dengan lembut.


"Kalau lo tahu kalau gue suaminya Nara, kenapa lo jalan sama Nara tadi?" Rendi mengalihkan pembicaraan dan menyalahkan Gibran atas apa yang ia lakukan.


"Aku melihatmu pergi dengan Adel, apa bedanya dengan aku yang mengajak Nara pergi? Bukankah sama saja? Jika kau menjauh dari Adel, maka aku juga akan menjauh dari Nara. Namun, jika kau makin dekat dengan Nara, aku juga bisa melakukannya. Itu hal yang sangat mudah untukku." Gibran semakin senang dengan situasi ini, ia bisa mengancam Rendi sekarang.


"Gila! Gue nggak pernah ngerasa ada masalah sama lo, kenapa lo jahat sama gue?" Rendi masih berusaha membela dirinya.


Gibran semakin tidak tahan dengan sikap kekanak-kanakkan pria itu, ia langsung menarik kedua kerah milik Rendi dan menatap Rendi dengan tatapan mata yang sinis dan begitu marah.


"Gimana rasanya melihat istrimu kudekati? Sakit, bukan? Bagaimana jika Nara tahu kalau kamu selingkuh?! Apa kau pernah memikirkan perasaannya?!" Gigi Gibran gemeretak karena kesal dengan pria itu dan berusaha untuk tidak memukul untuk yang kedua kalinya.


"Bukan urusan lo."


"Kau akan merasakan apa yang Nara rasakan jika sampai kau berani berkhianat di belakang Nara!" tunjuk Gibran ke arah pria itu dan langsung pergi begitu aja dari hadapan Rendi.


Gibran membetulkan kerahnya dan langsung pergi dari tempat itu, sedangkan ada banyak selkali pertanyaan yang ada di dalam Rendi, namun ia tak bisa ungkapkan. Seniornya itu cukup galak dan ngeri, padahal dia tidak terlalu dekat dengan pria itu. Bagaimana dia bisa tahu rahasia Rendi?


Beberapa menit kemudian, datanglah temannya Rendi.


"Rendi!" Panggil temannya itu.


"Oh? Tama? Ngapain di sini?" Rendi yang tadinya kesal berubah menjadi sangat ramah di hadapan temannya itu.


"Lo habis ngapain sama Gibran?"


"Ng-Nggak ngapa-ngapain kok. Emang kenapa? Lo juga kenapa di sini?" Rendi seakan penasaran dengan kedatangan Tama.

__ADS_1


"Gue dateng pas si Gibran pergi. Lo mending jauh-jauh deh dari cowok itu!" Tama membawa Rendi menjauhi tempat itu dan membisikkan sesuatu kepada Rendi.


"Emang kenapa sih?" Rendi seperti tidak tahu cerita soal Gibran.


"Dia itu sering banget terlibat sama preman-preman! Bahkan mafia! Lo nggak lihat tampilannya? Tampilannya aja udah kaya preman loh! Ibunya juga meninggal gara-gara anaknya nggak pernah bener! Belum lagi bapaknya tuh, tukang diktator! Mending lo jangan sampai ada masalah sama dia deh!" Tama memberikan peringatan kepada Rendi.


"Ah! Yang bener aja lo! Jangan cerita yang aneh-aneh deh. Gue yakin itu cuma hoax. Ingat, kampus kita anti hoax loh. Masa mahasiswanya malah sebar hoax?" Rendi tertawa mendengar ucapan pria itu.


"Seriusan deh! Dulu ada juga senior yang mati gara-gara berkelahi sama dia loh!" Rumor semakin aneh, Rendi sebenarnya sedikit takut, namun, ia berusaha untuk tetap tenang.


"Lagian jaman sekarang mana ada mafia sih? Jangan aneh-aneh, bilang aja lo takut karena tampangnya tampang preman." Rendi semakin meledek Tama.


"Ih dasar ketua BEM satu ini! Optimis sekali anda. Kalau sampai ada masalah sama dia, gue nggak bakal nolongin!" Tama sedikit kesal dengan pria itu.


"Loh? Ya jangan gitu dong. Ya udah, maafin ya. Gue percaya kok sama omongan lo." Rendi meminta maaf kepada temannya itu dengan menggodanya.


Sedangkan Tama sudah telanjur kesal. Namun, karena pria itu mudah dibujuk, Tama pun tidak bersunggung-sungguh marah dengan Rendi.


Hari semakin sore, Rendi bahkan lupa jika istrinya tadi menelpon dirinya. Sampai saat ini, Rendi masih tidak menyangka rahasianya terbongkar. Apalagi orang yang mengetahui rahasianya terdengar mengerikan, seperti yang diucapkan oleh Tama tadi. Jika memang itu sungguhan, sepertinya Rendi bisa hancur di tangan pria itu.


Rendi pun pulang ke rumah, namun, di jalan gang perumahan, dia melihat Nara yang sedang berjalan membawa Syakila. Rendi langsung membelalakkan matanya dan berhenti di depan Nara.


"Kamu jalan kaki?!" Rendi nampak kesal dengan tingkah pria itu.


"Kamu baru pulang? Iya aku nggak ada duit, jadi aku pulang jalan kaki, hehe." Nara tersenyum dengan keringat yang bercucuran sembari menggendong Syakila.


"Buruan naik ih! Apaan sih kamu jalan segala, kasihan si Syakila tau!"


Nara pun naik ke motor Rendi dan pulang bersama. Sampai di rumah, Nara meletakkan Syakila seakan perjalanan jauh dari kampus ke rumah begitu dekat. Padahal jaraknya bisa sampai 3 kilo lebih.

__ADS_1


__ADS_2