
Nara, Gibran, dan Syakila terlihat sangat menikmati suasana di sana. Nara meletakkan Syakila di gazebo yang sudah dialaskan dengan selimut milik Syakila.
"Setelah dengar ceritaku, apa pandanganmu berubah?" tanya Gibran dengan tiba-tiba sembari memegang tangan kecil Syakila.
"Hmm, nggak lah. Emang berteman memandang masa lalu? Aku senang bisa dengar cerita tentang kamu juga." Nara tersenyum saat melihat Gibran sedang bermain dengan putrinya.
"Seandainya suamiku sehangat Gibran," batin Nara.
"Besok kamu balik ke rumah kan?" tanya Gibran.
"Iya, aku udah bilang orang tuaku dan mereka juga setuju." Nara membuka ponselnya dan baru saja membahas kepulangannya.
"Kalau gitu hati-hati ya. Kabarin aku kalau kamu udah di sana." Gibran menatap Nara dengan lembut.
"Iya, besok aku kabarin."
Gibran menatap Syakila dengan tatapan yang gemas, membuat Nara menjadi berulangkali salting dan merasa bahwa Gibran jauh lebih baik daripada suaminya.
"Syakila lucu banget sih. Aku boleh gendong?" tanya Gibran.
"Bisa?" Nara nampak meragukan pria itu.
"Bisa dong. Aku juga punya ponakan sekecil ini." Gibran bersiap-siap untuk menggendong Syakila.
Nara pun mengambil Syakila dan memberikannya ke pangkuan Gibran. Anak itu sama sekali tidak protes atau apapun itu, bahkan menangis pun tidak. Syakila bahkan terus tertawa saat bersama dengan Gibran.
"Menurut kamu, sebagai ibu Syakila sekaligus anak kuliahan, aku harus malu atau tetap pada kehidupan biasanya?" tanya Nara dengan tiba-tiba.
"Kenapa malu? Syakila anak yang lucu, umur kamu juga harusnya udah 22 kan? Usia 22 itu usia yang wajar kalau udah nikah dan punya anak. Abaikan kata orang-orang, sayangi anak kamu aja." Gibran memberikan solusi kepada wanita itu.
"Aku masih pingin main seperti teman-temanku yang lain. Kadang kalau mereka ajak aku main, aku sering nolak karena harus jemput Syakila dan harus segera pulang. Aku juga nggak bisa kalau nggak nyusuin Syakila, pasti sakit rasanya." Nara menatap Syakila dengan air mata yang hampir mengalir di pipinya.
__ADS_1
"Kamu jalan sama aku gini, bukan termasuk main?"
"Eh?" Pikiran Nara pun terbuka dan ia membenarkan apa yang diucapkan oleh Gibran.
"Jangan terlalu peduli ucapan mereka, ditanya ya dijawab, kalau nggak bisa jawab ya udah nggak usah jawab. Bilang aja kepo! Atau apalah, alihkan ke hal lain. Kamu cuma belum siap aja kalau Syakila ketahuan publik. Bisa mengancam beasiswa Rendi juga, kan?" Gibran mengerti apa yang dirasakan oleh Nara.
Mendengar Gibran berucap seperti itu, Nara tidak bisa berkilah lagi, karena memang yang diucapkan oleh pria itu benar adanya. Ini hanya soal waktu saja, di mana ia belum bisa menerima semuanya. Ia ingin lepas dari Syakila dan bebas dengan dirinya sendiri. Namun, itu terlihat sangat egois.
Gibran melihat ke arah Nara dan memegang kepalanya dengan lembut.
"Jangan kebanyakan mikir. Sekarang, kamu fokus besarin Syakila aja. Sama urus tubuh kamu sendiri. Kecil banget sekarang, kelihatan banget kalau lagi setres." Gibran meledek wanita itu.
"Ih! Biarin lah, kan aku lagi masa menyusui, apa yang aku makan ya ujung-ujungnya ke Syakila juga," protes Nara kepada pria itu.
Gibran tertawa kecil mendengar ucapan wanita itu yang nampak kesal. Wajah Nara semakin manis di matanya.
"Mau makan? Aku yang traktir deh," ajak Gibran.
"Iya, aku lagi baik karena seneng bisa lihat Syakila." Gibran nampak semakin gemas dengan putrinya Nara itu.
"Ya udah sini, terserah kamu mau makan apa, yang penting enak dan cocok buat aku. Masih ada waktu 1 jam nih!" Nara mengambil Syakila dari dalam pelukan Gibran dan menata kembali barang-barang Syakila. Gibran pun membantu Nara, dan mereka pun pergi dari tempat itu.
Terlihat beberapa orang justru membicarakan mereka di belakang, menatap Nara dan Gibran dengan tatapan yang sinis, ada juga yang kasihan. Namun, di belakang tetap membicarakan.
"Kasihan, mana masih muda." Ucapan itu terdengar sampai ke telinga Nara.
"Biasakan buat jangan didengerin ya. Abaikan aja, yang penting kamu bahagia." Gibran mengusap punggung Nara, seakan memberikannya kekuatan untuk Nara.
Mereka pun pergi ke sebuah kedai ramen yang tidak cukup ramai, namun selalu jadi langganan Gibran. Ia juga memastikan agar Rendi tidak sampai ke daerah ini, jadi dia mengajak Nara ke tempat yang jarang orang-orang kampus ketahui bahkan datangi.
Terlihat kedai itu bernuansakan jejepangan dan begitu tenang, Gibran memesankan makanan untuk Nara dan memilih tempat lesehan agar Nara bisa menidurkan Syakila di sebelahnya.
__ADS_1
Hingga makanan datang dan mereka berdua menyantap makanan dengan lahap.
"Habisin, biar Syakila seneng bisa ngerasain makanan yang enak!" Gibran nampak senang saat melihat Nara juga menikmati makanannya.
"Gibran ... kalau ibu kamu udah nggak ada, kamu tinggal dengan siapa?" Nara masih nampak penasaran dengan kehidupan Gibran.
"Papaku bekerja jadi direktur sebuah perusahaan. Biasanya, kalau cewek-cewek udah tahu pekerjaan papa pasti langsung minta banyak hal kepadaku. Menganggap bahwa aku ini adalah ATM berjalan mereka. Makanya sampai sekarang aku nggak pernah mau punya pacar lagi." Gibran menceritakan kekesalannya terhadap para wanita di masa lalunya.
"Hmm, pantesan gampang banget ngebayarin. Kok kamu pergi sama aku malah hambur-hamburin duit?" tanya Nara.
Gibran baru sadar, jika dia seakan rela mengeluarkan berapapun untuk Syakila dan juga Nara. Sampai Nara bahkan menyadari hal seperti itu.
"Aku gemes sama Syakila. Jadi mau nggak mau aku harus ngajak kamu juga biar kita bisa pergi lama." Gibran nampak memberikan pernyataan yang membuat Nara langsung tertawa.
"Astaga ... ngeri banget ada om-om di depanku." Nara menggoda pria itu.
Hingga saat mereka sedang asyik bercanda, Syakila pun merengek dan menangis. Gibran langsung dengan cepat menggendong Syakila dan menenangkan anak itu.
"Udah kamu makan dulu, habis ini disusuin!" ucap Gibran sembari menggendong Syakila.
Nara pun tersenyum melihat tingkah pria itu, ia langsung menghabiskan makanannya dan saat sudah habis. Nara langsung menggendong Syakila dan membuka kancing bajunya, bersiap menyusui Syakila.
"Hehh!" Gibran berteriak kala melihat Syakila membuka kancing bajunya.
"Kenapa? Kan nggak ada orang di sini?" ucap Nara sembari menyusui Syakila dan menutup dadanya dengan gendongan.
"Aku kamu anggap apa? Setan?" ucap Gibran dengan gugup.
"He he, iyaa aku tutupin nih. Buruan dihabisin ih! Udah mau sore nih, nanti dimarahin Rendi akunya," pinta Nara.
Gibran pun langsung menghabiskan makanannya dan berusaha fokus, bagaimana bisa dia fokus dengan apa yang ada di hadapannya? Berulang kali dada Nara yang putih bening itu terlihat di mata Gibran dan membuat wajah Gibran memerah.
__ADS_1
"Aduh ... Kenapa Nara berani nyusuin Syakila di depanku sih?! Aku kan juga cowok!" racau Gibran dalam hati, dan langsung mengalihkan pandangan ke arah lain saat makanannya sudah habis.