
Pertemuan Rendi dan Adel pun menjadi sebuah hal yang cukup membuat Rendi semakin
mantap untuk merubah dirinya menjadi lebih baik. Setelah dia pergi ke rumah Adel, ia pun
beristirahat di kontrakannya. Ia ingin mengingat kembali banyaknya kesalahan yang sudah ia
lakukan kepada Nara, hingga membuat dirinya menjadi seperti ini sekarang.
Saat melangkahkan kakinya ke dalam rumah kecil itu, Rendi langsung melihat ke arah samping,
di mana Nara biasa menunggu Rendi pulang dengan senyuman hangatnya. Terkadang, senyumannya menjadi sangat lebar saat Nara dibawakan sesuatu oleh Rendi.
Pria itu menghela nafas panjang dan sedikit bersedih karena kali ini ia benar-benar merasa sangat kehilangan.
Masih teringat jelas senyuman Nara yang begitu tulus saat ia berkata semuanya tidak apa-apa saat Rendi sama sekali tidak mempunyai uang. Terlebih, ia juga teringat dengan tawa dan juga tangis Syakila. Tadinya ia menganggap itu adalah beban untuknya, namun, saat ini Rendi justru sangat merindukan tawa dan tangis putri kecilnya itu.
Rendi pun masuk ke dalam kamar dan duduk di kasur yang hanya bisa ditiduri oleh Syakila
saja, Nara dan Rendi selalu tidur di lantai yang beralaskan tikar dan juga selimut agar hangat. Di situ, ia juga teringat bagaimana Nara selalu memperlakukan dirinya dengan baik saat ia merasa sangat lelah. Rendi kehilangan semuanya dalam kurun waktu yang sangat dekat.
“Maaf ya, Nara. Aku sama sekali tidak bisa menjadi suami yang baik,” ucap Rendi dengan lirih,
lalu air mata keluar dari pipinya. Entah mengapa penyesalan ini sangatlah menyakitkan untuk
Rendi. Jika bisa, ia ingin mengulang semuanya dari awal.
“Kalau aku diberi kesempatan sekali lagi, maka aku berjanji akan berusaha untuk membahagiakan kamu,” ujar Rendi.
Namun, saat Rendi berkata seperti itu, seorang wanita menjawab apa yang dikatakan oleh
Rendi.
“Benarkah itu?” ujar wanita itu.
Rendi yang tadinya sedang tertunduk sedih, langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arah wanita itu. Matanya terbelalak dan air matanya langsung jatuh seketika saat ia melihat Nara berada di depan pintu kamar.
“Nara? Kamu benar Nara kan? Aku nggak halu kan?” pria itu merangkak mendekati Nara dan berusaha meraih kaki Nara.
Nara pun duduk dan menyambut pria itu dengan hangat, Rendi langsung memeluk Nara
__ADS_1
dengan erat dan juga tangis yang tak bisa ia bendung lagi. Namun, Nara sama sekali tidak
membalas pelukan Rendi itu. Ia hanya diam saja.
“Nara, kamu kembali buat aku kan?” tanya Rendi. Nara pun menghembuskan nafasnya, lalu tersenyum kecil.
“Ya, aku kembali untuk menemui kamu. Tapi bukan untuk kembali, Rendi.” Nara berucap dengan hangat dan sopan.
Rendi menggenggam tangan Nara dengan erat.
“Kenapa Nara? Kenapa kamu nggak mau kembali kepadaku?” tanya Rendi dengan air mata yang mengalir di pipinya terus menerus.
“Ada luka yang belum ditutup, Rendi. Luka itu bahkan sulit sekali untuk menutup dan menyembuhkannya. Ada rasa trauma juga di dalam hatiku. Kalau kamu bertanya, apakah masih ada rasa untukmu, jawabannya masih.”
“Lalu, kenapa nggak kembali?”
“Karena aku sudah tidak bisa kembali kepadamu lagi, Rendi. Aku ingin kamu berubah jadi lebih baik, mungkin pernikahan kita terlalu dini, sampai pada akhirnya kita semua terjebak dalam
situasi seperti ini,” lanjut Nara sembari mengusap air mata pria itu. Pertama kalinya Nara
mengusap air mata Rendi.
“Nggak, Rendi. Aku kembali kepadamu pun, aku akan tetap menjadi istri rahasiamu, bukan?” ucap Nara.
Rendi pun terdiam sejenak, dia memang belum ingin membocorkan jika Nara adalah istrinya selama ini, karena saat ini sudah pasti akan bahaya juga untuk Nara dan juga Syakila jika Rendi jujur kepada semua orang.
“Selain itu, aku juga tidak ingin kembali merasakan penderitaan. Kamu mungkin tidak akan tahu
rasa penderitaanku selama ini, aku juga tidak berharap kamu tahu dan mau mengerti. Maka
dari itu, lebih baik kita berpisah. Ini jalan yang terbaik buat kamu, buat aku juga.” Nara berusaha
meyakinkan pria itu.
“Kenapa bisa jadi jalan terbaik untuk kita?” Rendi masih tidak mengerti.
“Seperti yang selalu dikatakan Gibran kepadamu, kamu bisa menggunakan ini untuk introspeksi diri. Memperbaiki semuanya, dan masa depan kamu masih sangatlah panjang. Begitupun denganku, aku akan merawat Syakila sampai besar dan bekerja untuk menghidupinya. Kamu tidak perlu lagi mendengar tangisan Syakila.” Nara berucap seperti itu dengan senyuman.
Namun, Rendi justru semakin menangis saat Nara berucap seperti itu, penyesalan benar-benar datang kepada Rendi, mau tidak mau dia harus mengakhiri semuanya.
__ADS_1
Saat Rendi sedang tertunduk sedih, Nara menyodorkan surat cerai kepada Rendi.
Hal itu membuat Rendi langsung semakin down dan merasa sangat kehilangan.
“Aku harus menemui kedua orang tuamu, aku datang baik-baik ke sini, dan aku juga akan pergi baik-baik dari hidup kalian,” ujar Nara.
“Tidak, Nara. Janganlah seperti ini kumohon,” pinta Rendi sembari berdiri dan berusaha mengejar Nara.
“Aku akan datang ke rumah keluarga kamu besok. Kuharap kamu bisa bilang dengan mereka.
Besok jam 8 pagi,” kata Nara sembari pergi keluar kamar.
Namun, saat Rendi mengikuti Nara ke luar kamar, ia sangat terkejut karena terdapat Gibran
yang tengah menggendong Syakila di depan rumah dan sedang berada di dekat mobil milik
Gibran.
Rendi tak bisa berkata apa-apa lagi saat Nara ternyata pergi bersama Gibran. Tangannya mengepal, namun ia sama sekali tak bisa melampiaskan kemarahannya. Seakan amarahnya
sudah reda karena air mata yang terus-menerus membanjiri pipinya.
“Sampai jumpa besok,” ujar Gibran yang lalu masuk ke dalam mobil, lalu memberikan Syakila kepada ibunya. Hingga pada akhirnya, Rendi tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Ia bahkan tidak bisa menghentikan wanita yang ada di depannya itu. Surat cerai sudah berada di tangan Rendi, tangannya bergetar dan ia semakin sedih saat ia tidak bisa memperbaiki
semuanya.
Baru kali ini Rendi merasakan sakit di dadanya yang begitu menyesakkan, bahkan ingin
rasanya dia pergi saja dari dunia ini, karena tujuan hidupnya seperti sudah usai tanpa adanya
Nara.
“Ugh! Mengapa aku begitu bodoh, membiarkan wanita sebaik Nara pergi dari hidupku?” gumam Rendi yang merasa kesal dengan dirinya sendiri.
Selama ini, Rendi baru sadar jika ia sudah menyia-nyiakan wanita yang paling tulus dalam hidupnya. Padahal ia menolak Adel dengan harapan Nara akan kembali kepadanya, namun, ternyata tidak semudah itu.
Sayangnya, waktu tidak bisa diputar kembali, mau tidak mau Rendi pun harus menerima surat perceraian itu.
__ADS_1
Kini, mereka sudah sah bercerai.