Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Mengakhiri Hidup


__ADS_3

Malam pun tiba, Nara pergi ke rumah Gibran lebih dulu karena Nara nampak frustasi dengan apa yang sudah terjadi.


"Kamu tidur di rumahku dulu ya? Nggakpapa kan?" Gibran berusaha mengajak bicara Nara. Karena sepanjang jalan, Nara hanya diam saja dan melihat ke arah jendela luar.


"Iya, kayaknya aku juga lagi butuh temen," jawab Nara dengan lemas.


Gibran pun turun dari mobilnya dan membawakan barang-barang Nara masuk ke dalam rumahnya. Bahkan Gibran membukakan pintu mobilnya agar Nara bisa langsung turun.


"Maaf ya, aku jadi repotin kamu," ucap Nara sembari merasa sungkan masuk ke dalam rumah Gibran.


"Nggak papa. Aku nggak mau kamu tinggal bersama dengan pria seperti itu. Kuharap dia tidak menggunakan kesempatannya dengan baik, agar bisa pisah denganmu." Gibran meletakkan barang Nara di kamar tamu yang sudah dibersihkan dan dirapikan.


Nara meletakkan Syakila yang terbangun, untungnya putri kecil Nara itu tidak rewel sama sekali. Gibran mengambil air es dan merawat luka Nara yang nampak lebam dan berubah warna menjadi ungu.


"Sakit? Dikompres dulu ya? Biar besok nggak begitu sakit dan nyeri," ujar Gibran sembari menempelkan kain dingin di beberapa wajah dan tangan Nara.


"Kamu juga sampai berdarah, kamu nggakpapa?" tanya Nara yang juga sama khawatirnya.


"Aku ini cowok, aku udah biasa dengan luka seperti ini." Gibran nampak sedang bermain dengan Syakila dan membiarkan wanita itu untuk menyembuhkan dirinya dulu.


Di tengah Nara sedang mengompres lukanya, ia mengingat kembali perkataan suaminya, lalu berhenti mengompres lukanya.


"Gibran, aku nggak habis pikir sama sikap suamiku. Kenapa dia gitu ke aku ya?" Nara mulai membahas hal yang tadi.

__ADS_1


Gibran yang sedang bermain dengan Syakila, melihat ke arah Nara dengan raut wajah yang iba.


"Dia itu kurang bersyukur, Nara. Kalau bisa, kamu jangan kasih dia kesempatan lagi ke dia. Dia nggak bakal berubah, dan aku yakin, waktu ditinggal kamu pun dia pasti bakal tetep pergi sama si Adel itu." Gibran berusaha menguatkan wanita itu. "Kamu istirahat aja dulu ya? Syakila biar sama aku, aku bisa ngurus bayi kok." Gibran menginginkan Nara untuk istirahat, dia sudah melewati hari yang sangat berat sekali.


"Boleh? Aku ngantuk banget, capek juga. Sebenernya Syakila pingin aku titipin aja." Nara sedikit sungkan, namun, pikirannya juga tidak jernih sama sekali dan itu berbahaya untuk mentalnya.


"Nggak, Syakila sama aku aja. Kamu rehat ya?" Gibran menggenggam tangan Nara.


Nara pun tersenyum dan tidur di sebelah Syakila yang sedang bermain dengan Gibran. Padahal dia sebenarnya tidak enak hati dengan Gibran karena tidak tahu diri dan hanya bisa merepotkan pria itu saja.


Karena lelah dan tubuhnya terasa sakit semua, Nara pun tertidur di sebelah Syakila. Gibran yang melihat itu pun merasa iba dan sangat sedih sekali. Mata pria itu bahkan bisa berkaca-kaca saat melihat keadaan Nara yang sedang memburuk.


"Nara ... kenapa harus kamu yang ngalami semua kepahitan ini? Padahal kamu orang yang baik banget." Gibran mengusap rambut Nara.


Gibran berusaha untuk tidak mengganggu tidur Nara. Hingga Syakila pun sudah merasa bosan dan mulai sering merengek. Ia meminta susu.


Dengan cekatan, Gibran langsung paham dan pergi ke kamar untuk mengambil susu formula dan membuatkan untuk Syakila. Nara yang mendengar putrinya merengek, langsung terbangun dan setengah sadar mencari putrinya.


"Eh? Eh? Mana anakku?" tanya Nara yang terkejut saat melihat anaknya sudah tidak ada di sebelahnya.


"Syakila di depan. Udah kamu istirahat aja! Aku bisa kok urus Syakila." Gibran pergi ke dapur untuk membuat susu, dan langsung memberikannya kepada Syakila, membuat bayi kecil itu langsung terdiam.


"Pinternya anaknya mama Nara. Ngantuk ya? Makanya mau minum susu?" Gibran bicara dengan Syakila yang matanya langsung sedikit berat setelah diberikan susu.

__ADS_1


Nara yang sudah telanjur terbangun di kasur pun langsung berandar sebentar di tembok sembari mengumpulkan nyawanya. Ia sedikit terharu karena melihat Gibran yang begitu baik terhadap Nara.


Setelah bangun, bukannya sembuh, ia justru semakin tidak siap menghadapi kenyataan yang ada. Pikirannya kacau dan saat pulang ke rumah nanti, dia harus bilang apa?


Perselingkuhan ini tidak bisa diterima oleh Nara, karena sang suami sudah menyentuh tubuh wanita lain yang bahkan bukan istrinya. Ia termenung sejenak dan terus menyalahkan dirinya sendiri.


"Mungkin, aku yang nggak becus jadi istri ya? Makannya suamiku sendiri bersikap begitu kepadaku." Nara menghela nafas panjang dan menitihkan air matanya.


Di meja dekat kasur, Nara melihat adanya silet kecil nan tajam. Ia merasa bahwa hidupnya sudah tidak berguna lagi, dan akan lebih baik lagi jika dia mati saja. Nara mengambil ponselnya dan membuka galeri fotonya.


"Ya Allah, seburuk itu kah aku di mata suamiku? Sampai suamiku sendiri berani menyetubuhi wanita lain? Apakah aku ini kurang di matanya?" tanya Nara sembari melihat ke ponselnya yang sudah mengambil beberapa bukti kuat bahwa Rendi selingkuh dan sudah bersetubuh dengan wanita lain.


Ia semakin hancur kala melihat foto ayah dan ibunya saat Rendi dan Nara menikah secara sah. Di sana mereka nampak bahagia, meskipun sebenarnya hati mereka hancur melihat putrinya sudah rusak.


"Maaf ya, Ayah, ibu. Nara belum bisa jadi anak yang baik." Perkataan lirih keluar dari mulut wanita yang hatinya tengah hancur itu. Dia merasa bahwa hidupnya sudah tidak berguna lagi, dan sudah hancur berkeping-keping.


Kepalanya sakit, jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya, ada rasa ingin marah, namun dia sendiri tahu bahwa penyebab suaminya selingkuh pasti karena Nara yang tidak becus. Ia terus menyalahkan dirinya sendiri.


Hingga Nara mengambil silet di meja dan tangannya bergetar saat memegang benda kecil nan tajam itu. Nara siap menggoreskan benda itu ke nadinya, karena dia merasa bahwa hidupnya sudah tidak berarti lagi di dunia ini.


"Bagaimana raut wajahku nanti saat bertemu dengan kedua orang tuaku? Atau bahkan kedua orang tua Rendi? Aku bahkan tidak siap melihat mereka menangis menderita karena melihat rumah tanggaku yang hancur," gumam wanita itu perlahan.


Air mata terus membanjiri pipinya, meskipun tangannya bergetar hebat, Nara terus mengarahkan silet itu ke nadi kirinya. Dia bahkan tak merasa takut atau segan.

__ADS_1


"Maaf, Gibran. Aku sudah tidak ingin hidup lagi dengan masalah yang serumit ini."


__ADS_2