Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Acara Besar Penghancur Hubungan


__ADS_3

Satu bulan pun berlalu, di mana acara kampus sudah dimulai. Kegiatan sudah berlangsung dari pagi dan terlihat sangat ramai. Nara juga ikut meramaikan acara tersebut dan datang siang sesuai dengan jadwal fakultasnya akan tampil. Di mana Tia akan tampil di sana dan Gibran sebagai panitia hanya bertugas menjaga lapangan saja dan ikut meramaikan sebagai penonton. Yang sebenarnya dia hanya ingin menemani Nara saja. Gibran terlihat celingak-celinguk mencari seseorang dan gelisah. Hingga ia melihat seorang wanita yang mengenakan dress berwarna biru dan nampak cantik meskipun dari kejauhan. Gibran melambaikan tangannya dan memanggil wanita itu.


"Nara!"


Sadar akan suara yang memanggilnya, Nara mendatangi pria itu dan tersenyum dengan rambutnya yang terurai. Hingga sampailah dia di hadapan Gibran.


"Kamu katanya jadi panitia? Kok di sini?" tanya Nara dengan nada bicara yang cukup keras karena suara sound di panggung yang saat itu sedang menampilkan penampilan dari fakultas lain.


"Aku bertugas ngawasin jalannya acara aja, siapa tahu ada yang rusuh." Gibran tersenyum melihat kecantikan wanita itu.


"Serius nih nggakpapa?" Nara sedikit ragu dengan apa yang dikatakan oleh Gibran.


"Iya, santai aja. Kuylah masuk! Jajan yang banyak juga biar gendut!" ucap Gibran sembari menggandeng tangan Nara secara terang-terangan.


Sedangkan Nara sedikit terkejut saat tangannya digandeng oleh pria itu. Ada rasa sedikit takut, malu, sekaligus bahagia kala tangannya digandeng seperti itu.


Di lapangan terbuka, selain panggung, tentu saja ada banyak stand makanan dan juga beberapa stand pakaian, dan benda-benda lucu lainnya yang memang menjadi sponsor dari acara tahunan tersebut.


Nara tidak berharap bertemu dengan Rendi, karena dia pasti sangat sibuk dan tidak akan bisa dihubungi juga.


"Syakila dijemput jam berapa?" tanya Gibran saat mereka sedang memesan jajanan.


"Nanti sekitar jam 9 malam. Aku udah bilang kalau di kampus lagi ada acara, sekarang juga masih jam 3. Tia tampil jam berapa sih?" tanya Nara yang penasaran dengan penampilan dari sahabatnya itu.


"Dia mah tampil jam 7 malam! Masih lama tau!" ucap Gibran.


"Lah? Terus aku ngapain berangkat jam segini?" tanya Nara yang sepertinya berangkat terlalu awal.

__ADS_1


"Nggakpapa! Nikmatin aja selagi kamu ada di sini. Kan ada banyak mini game juga yang bisa kita mainin dan bisa buat menghabiskan waktu kita di sini." Gibran justru bahagia, seakan siap menemani Nara sampai malam. Tidak ada yang tahu juga jika Nara ini adalah istrinya Rendi, jadi sepertinya akan baik-baik saja jika dia jalan bersama dengan Gibran sekarang.


Nara pun menghabiskan waktu bersenang-senang di sana dan Gibran selalu membelikan apapun yang ia inginkan. Suasana out door saat itu sangatlah ramai, semakin malam, semakin ramai juga penontonnya. Karena ada tiket masuk dan untuk umum juga. Jadi, semakin malam justru semakin ramai.


Hingga sampailah di acara yang ditunggu oleh Nara dan Gibran. Mereka sudah ada di depan panggung dan menanti penampilan Tia. Fakultas mereka merupakan fakultas bahasa dan seni, jadi, mereka menampilkan drama kecil untuk memukau semua orang dan ditampilkan di akhir sebelum guest star, karena kebanyakan semua orang menampilkan bakat menyanyi saja.


Semua penonton kagum dengan drama kecil yang dibuat oleh fakultas bahasa dan seni. Nara dan Rendi juga bangga dengan peran Tia.


Setelah drama selesai, tibalah acara utama dimulai di mana guest star akan tampil. Namun, sebelum itu ada sedikit sambutan dari ketua BEM dan jajarannya sebelum acara terakhir dimulai.


Terlihat Rendi berjalan menaiki panggung dengan jas almamaternya dan sudah terlihat berwibawa. Semua orang bersorak kala pria gagah itu naik ke atas panggung.


Gibran mengajak Nara pergi ke tengah kerumunan penonton karena muak dengan wajah Rendi. Sambutan dari ketua BEM dan jajarannya pun dimulai.


"Kenapa mundur sih?" tanya Nara yang heran dengan sikap Gibran.


"Oh iya juga sih. Ini acara terakhir ya? Apa mending aku balik aja ya?" tanya Nara.


"Bentar lagi lah, kamu mau jajan apa lagi? Aku belikan deh," ucap Gibran yang ingin lebih lama bersama Nara.


"Jajan terus, aku udah banyak jajan dari tadi ih!" ucap Nara yang bingung harus makan apa lagi.


"Ya udah sini aja dengerin suami kamu kultum," ledek Gibran sembari melipat kedua tangannya dan melihat ke arah pria itu.


Namun, tiba-tiba seseorang menghampiri Gibran dan sedikit kesal.


"Kok lo malah jalan-jalan sih! Kan tugas lo jagain jalannya acara!" ucap Tama yang menghampiri mereka berdua.

__ADS_1


"Ya ini gue lagi ngamati jalannya acara! Mata lo di mana?" ledek Gibran dengan terang-terangan.


"Lo jalan sama cewek gini! Mana cantik banget ceweknya!" kagum Tama sembari melihat Nara yang ada di sebelah Gibran.


"Kan gue udah bilang sama lo kalau bakal jalan sama cewek cantik, bentar doang kok, habis ini kan kalau udah kelar, gue balik ke sana lagi," ucap Gibran.


"Iya iya, dasar sultan!" Tama hanya bisa berdecak kesal sembari pergi meninggalkan Nara dan Gibran, tanpa tahu jika Nara adalah istrinya Rendi. "Mbak, hati-hati ya sama cowok ini, dia ganas banget loh!" imbuh Tama.


Nara hanya meladeni pria itu dengan senyuman saja, dan pria itu pergi.


Nara dan Gibran kembali melihat ke panggung dan terlihat ada banyak sekali jajaran ketua BEM di sana, namun, anehnya Gibran seperti tidak mengetahui acara ini, karena sebelumnya tidak ada di rencana acara mereka.


Tiba-tiba, banner yang dipegang oleh semua jajaran BEM yang ada di panggung terbuka dan terlihat tulisan I LOVE YOU RENDI di banner tersebut.


Hal itu membuat Nara juga Gibran membelalakkan matanya. Kini, Adel berada di atas panggung berdua dengan ketua BEM universitas tersebut, terlihat semua mahasiswa bersorak gembira dan menyoraki Rendi juga Adel. Rendi bahkan nampak tidak tahu dengan acara tersebut. Ia menggaruk belakang kepalanya dan masih berusaha tersenyum meskipun sangat kebingungan. Kini, Adel mengambil microfon satunya lagi dan mulai berbicara.


"Biar nggak ada gosip aneh-aneh, aku cuma mau ngumumin kalau aku sama Kak Rendi ini udah resmi pacaran dan hampir setengah tahun. Dia adalah pria yang sangat baik dan juga penyayang, aku sangat mencintai Rendi." Adel memberikan beberapa patah kata yang membuat Nara terkejut bukan main, begitu pula Rendi yang seperti melihat ke arah penonton seolah mencari keberadaan istrinya, dia harus memastikan bahwa istrinya tidak melihat dirinya.


Jantung Nara terasa panas, ia masih tidak menyangka jika suaminya ternyata melakukan hal menjijikkan seperti ini di belakangnya. Gibran melihat ke arah Nara dan mengajak wanita itu pergi.


"Nara, ayo pergi dari sini."


"NGGAK!"


Nara terlihat marah sekaligus kecewa, bahkan teriakannya membuat beberapa penonton melihat ke arahnya. Namun, saat Gibran membujuk Nara pergi, seseorang dengan percaya diri naik ke atas panggung dan menampar Rendi dengan keras.


PLAK!

__ADS_1


__ADS_2