
Terlihat Rendi dan Adel sedang makan siang di kantin, Rendi masih terus memikirkan wanita yang menurutnya adalah istrinya, dan sedang jalan bersama dengan Gibran. Namun, dia juga sadar diri, jika ia juga sedang jalan bersama Adel. Entah mengapa dada Rendi terasa panas,
seakan terbakar cemburu.
"Kamu kenapa?" tanya Adel yang sedari tadi melihat pria itu nampak gelisah.
"Nggakpapa kok, kamu mau makan apa? Aku yang bayatin kok. Pesen aja." Rendi menatap Adel dengan senyuman.
Namun, wanita itu justru terus menerus tersenyum seakan malu, kedua kakinya tak henti-hentinya ia gerakkan, karena memang ada hal yang sangat ingin disampaikan oleh Adel.
"Ka–kamu sibuk nggak nanti?" tanya Adel dengan malu-malu.
"Biasa, aku pulang jam 3, kenapa?" Kini, Rendi memfokuskan pandangannya kepada Adel, membuat Adel langsung jadi salah tingkah dan susah berkata-kata.
"Bisa kita ketemu di belakang gedung kampus? Aku mau bicara sesuatu," pinta Adel.
"Mau bicara apa sih? Tinggal bicara di sini kok, kenapa harus tunggu nanti?" Rendi nampak kebingungan dengan sikap wanita itu.
"Ih! Pokoknya ntar aja deh!" Adel berusaha untuk membuka pembicaraan yang lainnya.
"Ha ha ha, ya udah deh ntar aja. Wajah kamu jadi memerah, lucu tau!" Rendi memuji wanita itu dan membuat Adel semakin malu bukan main.
Sedangkan Nara dan Rendi sudah sampai di kelas mereka masing-masing, Nara mengikuti perkuliahan dengan lancar, karena sebentar lagi dia akan menjalankan skripsi, jadi dia harus fokus dan harus bisa mengikuti pelajaran dengan baik.
Perkuliahan berjalan terus sampai jam 3 sore, dan saat jam 3, Nara pun pulang untuk menjemput Syakila lebih dulu. Jujur saja, dia lebih suka kehidupan yang seperti ini, di mana ia bisa menghirup udara segar sebentar. Sendirian, tanpa harus menjaga Syakila. Pergi ke kampus merupakan me time yang ia nanti-nanti.
"Gibran!" panggil Nara saat melihat pria itu turun dari gedung yang sama dan akan pulang juga.
Gibran menoleh ke belakang dan tersenyum saat melihat Nara turun, mereka pun turun bersama-sama.
"Mau balik?" tanya Gibran.
__ADS_1
"Aku mau jemput Syakila dulu. Baru habis itu pulang ke rumah," jawab Nara dengan perasaan yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Ya udah, hati-hati ya. Aku ada urusan dulu nih, kamu kalau mau balik hati-hati di jalan ya." Gibran sebenarnya merasa sedih dan ingin mengantarkan Nara, namun, untuk saat ini dia harus pergi karena harus menjalani satu kegiatan kampus.
"Oh ... ya udah kalau gitu. Aku balik dulu ya?" Nara pun berpisah dengan Gibran dan pergi meninggalkan Gibran.
Mereka pun berpisah di jalan keluar, sedangkan Gibran pergi ke belakang gedung kampus yang memang akan pergi main basket bersama dengan teman-temannya.
Namun, betapa terkejutnya dirinya saat melihat Rendi sedang bersama Adel. Ia langsung bersembunyi dan melihat Rendi dari jauh.
"Kamu mau bicara apa?" tanya Rendi kepada wanita yang ada di hadapannya itu.
Adel yang ada di hadapan Rendi itu seakan terdiam mematung dan tidak bisa berkata apa-apa. Wajahnya memerah karena gugup.
"Kenapa sih? Dari tadi kamu gitu terus deh perasaan?" Rendi memegang dagu Adel dengan lembut dan berusaha melihat wajah wanita itu.
"Aku suka kamu, Rendi!"
"Ja–jangan bercanda deh! Nggak lucu ah!" Rendi masih berusaha untuk mengelak ucapan wanita itu.
Dia memang sering sekali jalan bersama dengan Adel dan sedikit menyukai wanita itu, karena ia begitu cantik, bak primadona di kampus.
"Aku nggak bercanda, Rendi! Aku serius banget. Udah lama banget aku punya rasa sama kamu, bahkan sebelum kamu jadi ketua BEM dan aku selalu memperhatikan kamu! Kamu pasti nggak pernah sadar, kan?" Adel mulai mencurahkan isi hatinya itu.
Sedangkan Rendi masih berusaha untuk tetap tenang, karena sejujurnya dia juga tidak bisa mengkhianati Nara. Yang jelas, dia tidak tega dengan Nara dan masih menganggap Nara adalah istrinya.
"Kalau nanti ketahuan sama anak-anak gimana?" tanya Rendi yang berusaha memikirkan cara untuk menolak wanita itu.
"Emang kenapa kalau mereka tahu? Kamu malu punya pacar kaya aku?" Adel mulai merasa bahwa dirinya akan ditolak.
"Aku yang harusnya tanya sama kamu, kamu nggak malu kalau punya cowok kaya aku? Aku sibuk di kampus, dan mungkin jarang bisa jalan sama kamu. Kamu yakin hubungan kita akan baik-baik saja?" Rendi pun mencari celah agar wanita itu tidak terus menyukai dirinya. Sehingga Adel langsung mundur dari pria itu dan menjauhi Rendi tanpa Rendi harus menolaknya.
__ADS_1
"Nggak masalah kok! Aku setiap hari ketemu kamu di kampus, jalani kegiatan BEM sama kamu, itu udah cukup buat aku. Aku nggak minta muluk-muluk kok!" Adel terus menerus mendesak untuk meminta diterima.
"Astaga! Gimana ini!" batin Rendi yang penuh gejolak.
"Aku pastikan bahwa aku nggak akan mengganggu kamu dalam kuliah kamu, aku tahu beasiswa kamu bisa dicabut kalau kamu melakukan hal yang aneh-aneh, jadi aku berusaha untuk tidak seperti itu. Kamu mau menerimaku, bukan?"
Rendi semakin tidak tega melihat wanita itu yang memohon untuk diterima cintanya. Hati Rendi semakin gelisah dan pikirannya tidak bisa berpikir jernih. Bahkan, saat itu juga ponsel Rendi bergetar. Pasti Nara meminta untuk dijemput, hal itu membuat Rendi semakin goyah dan bingung. Alhasil, ia mengabaikan panggilan istrinya itu.
"Beri aku waktu."
"Apa?" kejut Gibran yang sedang bersembunyi, tangan pria itu mengepal dan bergetar hebat.
"Waktu untuk?" tanya Adel seakan tidak mengerti maksud Rendi.
"Beri aku waktu sebentar saja untuk memikirkan. Aku bukan nggak suka sama kamu, aku juga ada rasa sama kamu, tapi kasih aku waktu sedikit untuk berpikir, karena kamu mendadak mengungkapkan perasaan kamu, pikiranku jadi tidak jernih." Rendi mengusap belakang kepalanya itu dan memberikan jawaban yang menggantung kepada Adel.
Adel pun terdiam dan berpikir sejenak.
"Kalau begitu ...."
Tiba-tiba, Adel semakin dekat ke arah Rendi dan dengan cepat langsung mengecup bibir pria itu dengan lembut, lalu berlari meninggalkan Rendi dengan sangat cepat.
Sedangkan Rendi masih diam mematung di tempat dan membelalakkan matanya, sembari melihat wanita itu pergi menjauh.
"Uwah! Dia memang luar biasa! Aku tidak menyangka dia begitu agesif. Bahkan dia duluan yang menyatakan perasaannya kepadaku." Rendi masih kagum dengan wanita itu.
Saat Rendi tengah melihat ponselnya, tiba-tiba satu pukulan keras mengarah ke wajah Rendi dan membuat Rendi terjatuh.
BUAKH!
"Ugh!"
__ADS_1