
Dari jauh, Gibran melihat Nara mendekat ke arah mobil dengan raut wajah yang terlihat sedih. Gibran langsung membuka pintu mobil saat Nara hampir sampai di mobil. Nara pun masuk dan sedikit kesal dengan apa yang terjadi. Gibran menggendong Syakila dan membiarkan Nara tenang lebih dulu.
"Kenapa? Semua baik-baik aja kan?" tanya Gibran yang sudah penasaran.
Ia membawa Syakila karena takut nantinya Syakila akan menjadi pelampiasan amarah dan kesedihan Nara. Terlebih dia baru saja menemui Rendi dan Gibran tidak tahu apa yang terjadi selama Nara berada di dalam.
"Aku dan keluarga Rendi memang baik-baik saja. Jujur kami berpisah baik-baik, namun buliknya Rendi yang emang dari awal nggak suka sama aku tuh merusuh! Dia tiba-tiba datang dan ngatain aku pembawa sial lah, apalah! Dia sadar nggak sih kalau aku ini korban?!" keluh Nara yang merasa kesal dengan tantenya Rendi.
Air mata tak sanggup lagi ia tahan, karena dari awal pernikahan mereka sampai akhir pernikahan mereka, tantenya Rendi tak pernah menyukai Nara, entah apa salah Nara sampai tantenya sangat membenci Rendi. Padahal jelas-jelas Nara adalah korban.
Gibran masih terus mendengar keluh kesah kekasihnya itu dan berusaha juga untuk menenangkannya. Sepanjang Nara cerita Gibran tetap setia mendengarkan, bahkan sampai Nara terlihat sangat meluap-luap emosinya karena kesal.
"Kukira di akhir, bulik bakal minta maaf ke aku. Nyatanya nggak sama sekali, malah makin menjadi-jadi!" Nara melipat kedua tangannya sembari menatap lurus ke depan.
Nara menghapus air matanya yang mengalir di pipi. Amarahnya seakan mencair dan berubah menjadi air mata.
__ADS_1
"Yang sabar ya. Semua juga udah berakhir kok. Kamu nggak akan ketemu mereka lagi," ucap Gibran sembari mengusap rambut Nara dengan lembut dan perlahan. Nara menjadi jauh lebih tenang saat pria itu menyentuh Nara. Emosinya seketika mereda dan ia menghela nafas panjang untuk melepaskan segala amarahnya.
"Terima kasih ya, Gibran. Kamu selalu baik banget sama aku," tutur Nara dengan senyuman.
Gibran juga membalas senyuman wanita itu dengan hangat, di mata Nara, Gibran menjadi lebih tampan. Atau karena dulu dia masih mencintai Rendi dan tidak merasakan apa-apa kepada Gibran? Sekarang jantung Nara bahkan berdegup dengan kencang tak karuan saat dekat dengan Gibran.
"Sama-sama. Di sini tugasku emang buat bahagiain kamu, kan?" jawab Gibran yang masih menggendong Syakila.
"Sini aku gendong lagi, sekarang Syakila udah susah anteng. Selalu protes kalau nggak duduk," ucap Nara sembari mengambil Syakila dari tangan Gibran.
"Syukurlah Syakila tumbuh dengan sehat. Mau makan nggak? Kamu pasti lapar, kan?" tanya Gibran.
Gibran pun bersiap pergi dari tempat itu dan pergi untuk mencari makan bersama dengan Nara dan juga Syakila. Gibran bahkan tidak malu sama sekali jika jalan bersama dengan Syakila, ia justru senang dan merasa bahagia karena memiliki kekasih seperti Nara dan Syakila.
Saat di mobil, Nara sedikit penasaran dan melihat ke arah Gibran yang sedang menyetir.
__ADS_1
"Kamu seriusan nggak malu ngajakin aku sama Syakila? Padahal kamu bukan bapaknya loh," ucap Nara dengan blak-blakkan.
"Ha ha, tenang aja. Aku nggak pernah keberatan kok, aku bahkan seneng banget bisa jalan sama kalian berdua. Entah kenapa aku juga sayang banget sama Syakila, udah seperti anakku sendiri yang padahal aku masih bujang nih." Gibran tersenyum kecil saat berkata seperti itu.
Nara juga ikut tertawa saat Gibran berkata seperti itu.
"Jujur, aku seneng banget bisa jalan sama kamu sekarang. Apa kamu bakal memperlakukan aku seperti Rendi memeperlakukanku?" tanya Nara.
"Hm? Yang mana?" Gibran sedikit bingung dengan pernyataan Nara.
"Hmmm." Nara terdiam sejenak dan berfikir, bagaimana kata yang tepat untuk mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.
"Aku nggak bakal nyembunyiin hubungan kita. Aku bakal kasih tahu sama semua orang kalau kita pacaran. Tapi mungkin kalau tentang Syakila, masih bakal aku sembunyikan. Nggakpapa, 'kan?" tanya Gibran yang memastikan hal tersebut kepada Nara.
Nara semakin merasa bahwa ia sangat dihargai di tangan Gibran, sepertinya ia mengerti kali ini. Ia akan dihargai di tangan orang yang tepat, dan orang itu adalah Gibran.
__ADS_1
Gibran menggenggam tangan Nara di mobil dan tersenyum ke arah wanita itu. Selama ini dia tak sadar, jika ada orang yang jauh lebih mencintainya ketimbang Rendi yang bahkan tak bisa menghargai keberadaan Nara. Yang ada di pikiran Nara saat ini adalah, bagaimana ia bisa melangkah dan menatap lurus ke depan tanpa melihat ke belakang, bagaimana dia harus bicara kepada keluarganya, dan bagaimana dia akan menghidupi Syakila kelak.
Kini, tinggal bagaimana kegiatan Rendi dan juga Nara setelah perceraian mereka dan pencopotan gelar ketua BEM Rendi. Apakah kehidupan kampus mereka akan seperti biasa? Atau justru semakin memburuk?