
"Siapa orang itu!" tanya Rendi yang sudah merasa marah.
"Evi?" kejut Nara yang melihat identitas wanita itu.
"Kalian kenal cewek ini?" tanya Rendi.
"Dia temen KKN gue sama Nara." Gibran menambahkan hal yang semakin membuat Rendi bingung.
"Kok dia bisa tahu hal seperti ini? Kalian engga bersekongkol sama dia?" Pikiran Rendi mulai tidak jernih lagi.
"Kalau kita sekongkol, ngapain kita bantu lo!" ketus Gibran.
Rendi pun terdiam sejenak seakan mengiyakan ucapan pria itu, Rendi sedikit kesal dengan mereka berdua karena ternyata pelakunya adalah orang yang mereka kenal, Rendi merasa jadi korban di sini.
"Evi kok sampai gitu ke Rendi? Tapi kamu nggak kenal dia kan?" tanya Nara.
"Aku baru lihat wajahnya barusan banget loh," imbuh Rendi yang sedikit kesal.
"Kita nggak akan tahu kalau nggak bicara langsung sama orangnya. Haruskah kita ketemu?" tanya Gibran.
__ADS_1
"Ya, aku juga pingin tahu kenapa dia melakukan hal seperti itu, padahak terakhir kita baik-baik aja kan?" ujar Nara.
Namun, Gibran terdiam sejenak dan seakan ingin menyangkal perkataan Nara, namun Gibran sendiri belum tahu mengapa Evi melakukan hal seperti itu. Apakah ada hubungannya dengan Nara dan Rendi? Atau itu hanyalah sebuah rasa kesal saja?
"Aku yang akan menemuinya," ujar Rendi dengan tiba-tiba sembari berdiri dari tempat ia duduk.
"Lo mau ngapain?" tanya Gibran
"Kalau memang dia tahu apa yang sebenarnya gue sembunyikan, gue yang bakal bicara sama dia dan maunya apa. Anggap aja kalian nggak kenal dan paham gue sama sekali." Rendi bertekad dan akan menemui Evi untuk bicara.
"Boleh, gue bakal mempersilakan lo buat nemui Evi. Tapi Nara pergi sama gue." Ucapan Gibran langsung membuat Nara dan Rendi terkejut bersamaan.
"Lo udah nyakitin Nara lagi, dan gue bakal bawa dia dulu. Lagian kalau sampai semua tahu lo tinggal bareng Nara, bukannya semua makin runyam?" Gibran menggunakan kesempatan ini untuk membawa Nara pergi menjauh dari suaminya.
Gibran takut jika amarah Rendi tidak bisa lagi dikendalikan dan membuat Nara atau bahkan Syakila menjadi korbannya.
"Ck!" Rendi nampak tidak suka dengan permintaan Gibran tersebut, namun jika dipikir kembali, yang diucapkan Gibran ada benarnya juga dan bisa membahayakan status mereka. "Baiklah! Terserah kau saja!" ketus Rendi.
Gibran pun tersenyum, sedangkan Nara hanya bisa diam saja dan pasrah dengan perebutan mereka berdua.
__ADS_1
Untuk kali ini, Rendi merasa bahwa dia tidak bisa melakukan banyak hal karena di posisinya saat ini tidaklah bagus. Dia lebih memilih jabatan dan nama baiknya daripada Nara untuk saat ini.
Sedangkan Nara, ia bisa saja tinggal bersama dengan mertuanya, namun, jelas ia lebih memilih pergi bersama Gibran daripada harus tinggal serumah dengan mertuanya.
"Gue bakal bawa Nara sama Syakila ke rumah gue dulu, sampai lo bisa selesaiin semua." Gibran sudah siap pergi dengan Nara, menggunakan motornya.
"Terserah lo aja. Awas aja sampai lo ngapa-ngapain istri gue!" ancam Rendi.
"Nggak bakal."
Nara pun mendekat ke arah Rendi dan memegang tangannya.
"Semoga semuanya cepat selesai ya, Sayang." Nara tersenyum tulus dan membuat Rendi merasa sedikit tenang, namun dibalik semua itu tentu saja ada seseorang yang cemburu bukan main.
"Terima kasih, Nara. Baik-baik di sana ya. Aku janji bakal selesaiin semuanya." Rendi tersenyum balik dan membuat Nara juga merasa bahagia.
Nara pun akhirnya pergi dengan Gibran, dan Rendi mulai berusaha untuk menyelesaikan masalahnya lebih dulu.
"Kok gue kesel ya liat Gibran jalan sama Nara? Padahal gue cuma berniat manfaatin itu cewek" batin Rendi.
__ADS_1