
Hari KKN pun tiba, di mana Nara sudah menyiapkan semuanya. Ia juga sudah harus meninggalkan putri kesayangannya itu bersama dengan keluarganya di rumah. Namun, meski begitu, Nara merasa tidak terlalu berat meninggalkan Syakila, karena putrinya sudah pasti
diasuh oleh orang yang tepat. Beda cerita jika Nara menitipkannya kepada mertuanya sendiri,
sudah pasti hatinya tidak akan tenang.
“Nak, jaga diri kamu baik-baik ya. Kalau bisa kamu pulang seminggu sekali, jengukin anak
kamu, kasihan dia pasti bakal kangen ibunya. Apalagi kamu masih menyusui, ibu lebih khawatir
kamu kesakitan nahan asi kamu itu sih.” Ibunya Nara menggendong Syakila dan memberikan tas ransel Nara yang akan ia bawa.
“Iya bu, Nara juga niatnya mau balik seminggu sekali. Aku pasti kangen banget sama Syakila.
Ibu jangan terlalu khawatir juga, aku bakal selalu hubungin ibu kok, mau aku lagi sibuk atau
engga, aku bakal kabarin ibu selalu.” Nara tersenyum dan mencium punggung tangan ibunya,
bersiap untuk pergi. Nara akan pergi ke desa KKN nya sendiri dengan menggunakan motor,
karena semua timnya akan bertemu di sana. Barang-barang besar milik Nara juga sudah
dibawa ke mobil yang mereka sewa.
“Ya udah sana berangkat, nggak ada yang ketinggalan kan? Ini uang peganga buat kamu ya sayang.” Ibunya memberikan uang sebesar 300 ribu untuk hidup Nara di tempat dia KKN.
“Nanti tiap minggu ibu transfer ya,” lanjut sang ibu yang sudah khawatir dengan putrinya.
“Iya bu, terima kasih ya. Aku titip Syakila ya, bu.” Nara mencium kening putrinya dan ia pun
bersiap pergi dan naik motornya sendiri untuk pergi ke desa KKN. "Jangan nakal ya, Sayang," gumam Nara kepada putrinya.
__ADS_1
Setelah sudah siap semua, Nara pun langsung pergi meninggalkan Syakila bersama dengan kedua orang tuanya itu. Hati Nara cukup campur aduk saat pertama kali ia meninggalkan
Syakila. Ia ingin sekali menangis, hatinya juga sedikit resah dan gelisah. Namun, demi
melanjutkan pendidikannya, dia harus bisa kuat.
Nara menempuh 2 jam perjalanan untuk sampai ke desanya itu, menurutnya 2 jam adalah
waktu yang sangat singkat. Perjalanan ke desa KKNnya cukup masuk ke daerah yang terpencil
dan juga minim perumahan warga, bahkan harus melewati hutan dan juga kebun agar sampai
ke desa tersebut. Nara bahkan membayangkan, jika malam hari di sana, pasti tidak ada
penerangan sama sekali saat menuju ke desanya.
Hingga sampailah dia ke sebuah balai desa, dan beberapa anak KKN yang satu kelompok
saja.
Nara yang tadinya cukup anti sosial, pada akhirnya harus berusaha untuk bersosialisasi dengan semua teman yang sama sekali tidak dia kenal itu.
“Ah! Kamu Nara ya?” sambut salah satu wanita yang bernama Evi, dia sering sekali
memberikan pesan kepada Nara agar mereka jadi dekat lebih cepat.
“Iya, masih ada yang belum datang?” tanya Nara sembari melihat ke sekitar, dari 14 orang,
terlihat baru ada 13 orang termasuk Nara yang datang ke tempat itu.
“Kurang satu orang sih, dia kakak kelas yang itu loh! Lagi banyak diomongin orang.” Evi seperti memulai bahan perghibahan dengan Nara.
__ADS_1
Namun, Nara sudah mengetahui informasi itu dari Gibran, jadi, dia tidak terlalu kaget dan hanya berusaha terkejut saja saat berada di sebelah Evi, pura-pura tidak tahu saja.
“Memangnya dia terkenal seperti itu ya?” tanya Nara yang sedikit penasaran.
“Iya! Tapi meski begitu, dia tuh banyak fansnya loh! Biasa cewek-cewek kan suka yang bad boy gitu!” Evi tersenyum kepada Nara dan sedikit tersipu malu.
“Kamu juga salah satunya?” Nara menggoda wanita itu. Mereka sudah seperti teman akrab saja.
Evi hanya tersenyum dan makin malu saat ditanya seperti itu. Mereka menunggu satu pria itu
cukup lama, sampai dada Nara rasanya sakit karena penuh dengan asi, bahkan ia merasa pakaiannya sedikit basah karena asinya bocor.
Beberapa menit kemudian, setelah mereka membicarakan pria yang akan datang, tibalah pria
tersebut dengan motor vixionnya dan langsung memarkirkan motornya, lalu melepas helmnya.
Di saat itu pula, banyak wanita yang langsung jatuh cinta dan sedikit histeris dengan pria itu,
kecuali Nara.
“Dih, sombongnya pria itu. Sengaja biar banyak yang lirik ya?” batin Nara.
Pria itu pun turun dari motor dan melihat ke arah Nara, mendekati Nara yang sedang berpaling
dan melipat kedua tangannya, Nara seakan muak melihat wajah pria itu. Kini, mereka saling berhadapan, dan Evi yang ada di sebelah Nara juga sampai kagum dan terkejut bukan main. Pria yang ia puja ada di depan kawannya yang dekat dengan dia.
“Kamu udah sampai dari tadi?” tanya pria itu.
“Iyalah! Kamu kelamaan, GIbran! Kasian tuh yang nungguin kamu dari tadi!” ketus Nara.
Semua orang pun sedikit heran, karena Nara kenal dengan Gibran yang cukup terkenal dengan desas-desusnya. Mereka memang pernah bertemu sekali, namun saat itu Gibran tidak hadir dan Nara juga cukup kudet bahkan belum paham cara cek siapa saja yang satu tim dengannya. Nara baru tahu jika Gibran satu desa dengannya, saat Gibran memberitahu Nara kemarin.
__ADS_1
“Aduh, kenapa harus satu kelompok dengan Gibran sih? Kayaknya bahaya nggak sih?” batin Nara yang cukup cemas.