Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Senyum Psikopat


__ADS_3

Setelah Nara mengetahui soal apa yang Rendi lakukan di belakangnya, malam hari setelah menjemput Syakila, terlihat Rendi memberanikan diri untuk pulang dan ia harus menyelesaikan semuanya. Itu pun jam 3 pagi dia baru sampai ke rumah. Ia membuka pintu dan disambut oleh Nara yang terlihat belum tidur, matanya sembab, namun, ia berusaha untuk tegar. Rendi menutup pintu perlahan dan Nara pun hanya bisa terdiam melihat suaminya itu. Nara sama sekali tidak bicara apapun, seakan ingin Rendi bicara lebih dulu.


Sedangkan Rendi nampak gelisah dan bingung apa yang harus dia bicarakan lebih dulu, dia bingung harus bagaimana menjelaskan semuanya. Nara juga sudah menutup pintu kamar, karena Nara memang sudah siap untuk meluangkan waktunya agar bisa bicara dengan Rendi dan menyelesaikan semuanya.


“Boleh aku jelasin lebih dulu?” tanya Rendi dengan mengusap siku tangannya.


“Bicaralah.” Nara nampak marah, sedangkan Rendi baru pertama kali melihat Nara semarah


itu.


Rendi mengajak Nara untuk duduk, mereka saling berhadapan dan menggenggam tangan Nara dengan lembut. Meskipun sebenarnya Nara bisa saja luluh dengan satu kali pelukan dari Rendi, namun, dia ingin melihat juga keseriusan Rendi terhadapnya dan bagaimana pria itu membujuk dirinya.


“Dengerin aku, aku berusaha buat jujur sama kamu, semoga kamu mau denger dulu penjelasanku.” Rendi seakan sudah siap untuk bicara.


Nara pun hanya diam saja dan bersiap mendengarkan penjelasan suaminya itu. Sebelum bicara, Rendi menghela nafas panjang dan jantungnya berdegup dengan sangat kencang.


“Maaf.” Satu kata yang diucapkan oleh Rendi itu langsung membuat Nara sedikit terkejut, karena ia tahu betul jika kata itu sudah mengiyakan apa yang telah dilakukan oleh Rendi.


“Kenapa kamu lakuin itu?” tanya Nara yang sudah tidak sabar mendengar alasannya.


“Aku bukan bermaksud untuk selingkuh, dia itu memang selalu mendekatiku dan tak pernah menjauh dariku. Kamu tahu nggak sih sikap cewek gatel? Pasti gitu kan? Adel itu ngejar aku


terus, sampai aku sendiri juga bosan denger—”


“JANGAN BOHONG!” Nara berucap dengan penuh tekanan.

__ADS_1


Entah mengapa Rendi merasa takut dengan sikap istrinya itu. Seketika, Rendi terdiam dan nampak panik, bahkan bingung harus bicara apa. “Emangnya Tia nggak cerita sama aku Nggak mungkin lah, dia tau kalau kamu selingkuh di belakang aku, cuma dia nggak pernah bilang sama aku,” ucap Nara dengan jantung yang panas karena menahan emosinya.


Rendi terdiam cukup lama, dan berusaha untuk angkat bicara.


“Oke, kalau emang aku selingkuh terus gimana? Kita mau langsung cerai gitu?” Rendi justru nampak mengancam Nara.


“Kenapa kamu mikir sampai situ? Yang aku sendiri bahkan mau berusaha dengerin kamu ngomong,” ujar Nara yang nampak kesal.


“Aku bosen sama kamu, karena kamu kelihatan nggak bisa berubah sama sekali, rumah aja jarang bersihnya. Masak juga jarang, kamu bahkan hampir terus-terusan ngomelin aku,” ucap


Rendi yang nampak menyalahkan Nara. Sedangakan Nara masih tidak mengerti dengan jalan pikiran suaminya itu.


“Kalau bosen, kita bisa bicarain baik-baik kan Terus masalah beresin rumah, kenapa kamu jadi nuntut banyak gitu ke aku? Kamu nyuruh aku ini itu, tapi apa yakin yang kamu lakuin itu udah bener?” Nara membalikkan fakta dari pria itu.


“Loh, aku nggak nuntut apa-apa dari kamu, kan emang itu kewajiban istri. Lagian kamu tahu sendiri kalau aku ini banyak banget kerjaan di kampus, jadi mana bisa aku nyambi kerja? Kalau kamu nggak mau disepelekan, minimal ya kamu bisa lah ngertiin aku!” Pria itu terlihat membentak Nara.


Mendengar hal seperti itu, jelas saja membuat Rendi marah karena merasa direndahkan, apalagi ia merasa bahwa status suami cukup tinggi martabat baginya.


“Apa menurut kamu, aku nggak capek mentang-mentang kerjaanku cuma satu doang?”


“Nggak lah! Aku yakin kamu nggak capek! Kan udah sampe bisa selingkuh juga!” ledek Nara yang juga tidak tahan dengan intinya. Rendi semakin geram dan ingin sekali menutup mulut wanita itu.


“Kamu yang nggak bisa ngertiin aku, sedangkan Adel selalu ada buat aku. Dia bahkan bisa ngertiin perasaan aku ketimbang kamu, Nara!” bentak Rendi.


“Silakan! Kalau emang dia lebih bisa ngertiin kamu ketimbang aku, silakan pergi saja sama dia! Kalau emang kamu mau cerai, cerailah sekarang!” Kesabaran Nara sudah habis karena hatinya lelah, “Kamu tahu perjuanganku buat bertahan sampai sejauh ini? Yang bahkan aku nggak pernah marah sama sekali kalau kamu nggak nyentuh Syakila, nggak bantuin aku kerjain pekerjaan rumah, kamu nggak ngebelain aku di keluarga kamu juga aku diem aja kan? Bukannya aku nggak pernah ngeluh ke kamu?! Kamu malah seenaknya selingkuh di belakang aku! Apa itu balasan buat aku yang selama ini lebih menderita dibanding kamu, hah!”

__ADS_1


PLAK!


Satu tamparan kembali melayang di pipi Nara dengan sengaja, kali ini Rendi sadar bahwa ia memukul Nara dengan sangat keras. Nara kembali terkejut, ini kedua kalinya Rendi main tangan.


“Kamu dibaikin malah ngelunjak!” Rendi menjambak rambut Nara dengan sangat keras.


“Agh! Lepasin!” pinta Nara.


“Lepasin? Kamu bilang lepasin? Ini balasan kamu ke suami kamu yang udah mau bertanggung jawab nikahin kamu dengan sukarela?! Cewek nggak tahu diri kamu ya Bilang lagi! Jelekin aku lagi! Dasar mulut ini emang harus dikasih pelajaran!” Rendi memukul mulut Nara dan membuat Nara langsung melindungi wajahnya sendiri dengan kedua tangannya dan berusaha menahan pukulan Rendi di tangannya.


“Denger ya, pokoknya, aku nggak bakal cerai dari kamu. Malu lah sama keluargaku! Aku udah bertanggung jawab buat nikahin kamu, udah jujur kalo ngehamilin kamu, sekarang malah kamu yang ngelunjak! Bersyukur woi! Bersyukur!” hardik Rendi.


Nara pun masih berusaha melepaskan dirinya dari cengkeraman tangan Rendi yang cukup kuat.


“Maaf, maaf. Ampun, Rendi, lepasin aku.” Nara meminta karena rambutnya sudah terasa sangat pedas dan sakit sekali.


Rendi yang masih punya sedikit rasa iba, langsung melepaskan tangannya dan menatap Nara. Lebih tepatnya, ia mencari, apakah ada bekas luka pukulan di wajahnya. Ternyata tidak ada.


“Aku nggak mau kamu bicara gitu lagi. Terus, kalau sampai kamu nyebarin statusku ke semua orang di kampus, aku nggak segan ceraikan kamu dan ngasih Syakila ke panti asuhan!” ancam Rendi yang langsung berdiri.


“Putusin Adel! Kamu udah punya istri, Sayang!” ucap Nara. Namun, Rendi tidak menggubris perkataan wanita itu dan masuk ke kamar, ia tidur di sebelah Syakila.


"Ternyata cara begitu ampuh buat bikin Nara diem," batin Rendi dengan senyuman psikopatnya.


Sedangkan Nara yang sudah dua kali mendapatkan perlakuan seperti itu, langsung tediam dan hanya bisa menangis sebentar. Ia ingat, bahwa dirinya harus kuat.

__ADS_1


“Ahh, kenapa Rendi mulai main tangan?” batin Nara.


__ADS_2