
Nara pun bertahan selama satu hari sampai dia dijemput oleh ayahnya. Hingga keesokan harinya, Rendi terus berada di rumah untuk menunggu ayahnya Nara datang.
"Kamu juga KKN kan? Udah disiapin belum?" tanya Nara yang melihat Rendi begitu santai. Meskipun Nara berusaha untuk cuek, namun sebenarnya dia masih memiliki rasa perhatian kepada suaminya itu. Namun, ia sembunyikan karena tidak ingin terlalu banyak berharap.
"Santai aja sih, cowok tuh nggak seribet cewek barang-barangnya. Kalian bener mau balik sekarang?" Rendi nampak tidak rela.
"Iya. Ayah udah mau jemput, udah di jalan juga. Nggak mungkin aku tunda," ujar Nara.
Rendi terdiam sejenak sembari menonton tv, sesekali juga ia membuka ponselnya. Sedangkan Nara sedang menata pakaian Syakila. Nara sudah tidak peduli lagi dengan apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu. Asalkan dia tidak menyakiti Syakila saja sudah cukup untuk Nara.
Entah mengapa, Rendi sering sekali curi-curi pandang kepada istrinya sendiri. Antara dia merasa bersalah, atau tiba-tiba merasa bahwa Nara semakin cantik, dia sendiri juga tidak tahu perasaan apa yang dia rasakan sekarang.
"Kamu kenapa masih mau bertahan sama aku? Padahal ada banyak cara biar kamu bisa tinggalin aku," ucap Rendi dengan tiba-tiba.
Mendengar hal seperti itu, Nara langsubg melihat ke arah Rendi dan menaikkan satu alisnya. Ia bingung maksud perkataan suaminya.
"Kenapa tiba-tiba tanya gitu? Bukannya kamu nggak perlu jawaban begitu?" Nara nampak kebingungan saat mendengar hal itu.
__ADS_1
"Sesekali penasaran aja sih, gimanapun juga aku juga masih punya rasa sayang sama kamu kan? Jujur aja, aku nggak ngerti sama diriku sendiri." Rendi tiba-tiba menceritakan perihal perasaannya. Sedangkan Nara masih bingung dengan sikap pria itu.
"Kalau suka sama Adel mah pilih aja si Adel. Perasaan itu nggak bisa dipaksakan. Apalagi kamu kelihatan udah nggak cinta sama aku. Mau aku paksa gimanapun udah yakin lah nggak akan bisa." Nara sadar diri dan berusaha perlahan untuk melepaskan pria yang selama ini dia sayangi.
"Menurut kamu, apa aku keterlaluan?" tanya Rendi.
Pertanyaan selanjutnya semakin membuat Nara kebingungan. Entah mengapa Nara merasa bahwa Rendi sedikit berbeda.
"Kamu lagi kenapa?" Nara menatap pria itu dengan tatapan yang bingung.
Dari perkataan Rendi barusan, Nara merasa bahwa Rendi sedang berada dalam masalah. Karena masih ada sayang di hati Nara, ia mendekati suaminya dan terlihat sangat khawatir. Ia berusaha bicara dengan Rendi.
"Rendi, kamu lagi ada masalah ya?" Nara bertanya langsung di hadapan pria itu.
Rendi terdiam sejenak dan membuka ponselnya. Seolah dia sedang baik-baik saja. Padahal tidak sama sekali.
"Di saat kaya gini, aku mikirin kamu banget. Aku bahkan ngerasa bersalah. Nggak tahu kenapa sering tiba-tiba begini." Rendi mencurahkan perasaannya.
__ADS_1
Nara terdiam sesaat dan tidak bisa berkata apa-apa juga. Baru kali ini dia melihat Rendi sesedih ini. Padahal biasanya terlihat ceria, bahkan lebih banyak meledek Nara.
"Cerita aja kalau kamu mau. Emang harusnya aku selalu ada buat kamu kan?" Nara terlihat berusaha memperbaiki hubungan mereka.
Rendi kembali terdiam sejenak dan tak berkata apa-apa lagi.
"Maaf ya, Nara."
Rendi kembali membuat Nara sedikit terkejut karena perkataannya itu. Ia melihat sosok Rendi yang dulu. Namun, dia juga tidak terlalu berharap.
"Maaf Rendi, bukan aku mau cari masalah sama kamu atau apapun itu. Susah bagiku buat maafin dan percaya sama kamu, traumaku sudah terlalu besar. Bahkan rasaku juga perlahan mulai menghilang. Nggak usah bahas itu lagi, rasaku dan rasamu sudah berbeda." Nara seperti berusaha menghindari Rendi.
Saat Nara berbalik badan dan berusaha mengabaikan Rendi, tiba-tiba, Rendi memeluk Nara dari belakang.
Namun, perasaan Nara sudah mulai memudar dan ia hanya memenuhi kewajibannya sebagai istri saja.
"Ubah dulu sikap kamu, Rendi. Kamu pasti lagi ada sesuatu, makanya gni kan?" Nara berusaha untuk tidak terlalu baik dengan pria itu dan membiarkan pria itu menyadar perbuatannya.
__ADS_1