
Satu minggu sejak kejadian acara besar itu, Rendi dan Adel jadi jarang bertemu. Lebih tepatnya, Adel takut dimarahi oleh Rendi. Sedangkan Rendi juga gengsi ingin meminta maaf.
Hingga suatu hari, Rendi menemui Adel di depan kos wanita itu karena mereka jarang bertemu dan Rendi masih menyayangi Adel. Entah mengapa, dia tidak ingin melepaskan wanita itu. Adel menemui Rendi di luar dan menatap ke arah pria itu dengan sinis dan sedikit takut.
"Kamu marah sama aku?" tanya Rendi.
Adel menggelengkan kepalanya dan langsung menarik tangan Rendi, membawa pria itu masuk ke dalam kamarnya. Dengan cepat, wanita itu langsung menyudutkan Rendi dan memeluk pria itu.
"Aku kangen banget sama kamu tau!" Adel memeluk Rendi dengan erat. Rendi sedikit terkejut, namun, ia membalas pelukan wanita itu dengan senyuman.
"Aku juga kangen banget sama kamu."
"Kamu baik-baik aja kan? Siapa cewek kemarin? Terus kamu dimarain dosen ya?" Adel sudah tidak sabar mendengar cerita pria itu.
Namun, Rendi justru mendorong wanita itu perlahan ke kasur dan langsung menatap wanita itu dan tubuhnya yang menggoda.
"Kamu cantik banget, Sayang. Aku kangen." Rendi rindu melakukan hubungan suami istri dengan Adel.
"Ih kamu ini. Aku pengen kamu cerita dulu tau!" Adel nampak tersipu malu.
"Iya aku ceritain, setelah aku menjamah tubuh kamu yang menggoda ini ya."
Rendi pun mulai mengotak-atik tubuh wanita itu dengan perlahan, Adel juga ternyata merindukan sentuhan-sentuhan kecil pria itu. Padahal tidak seharusnya Rendi melakukan hal seperti itu, namun ia sama sekali tidak peduli dan tidak kapok.
Suara Adel yang menggema di kamarnya membuat Rendi semakin menggebu-gebu. Gerakan pria itu nampak terasa nikmat bagi Adel. Hal itu membuat Rendi bisa keluar berkali-kali. Tubuh Nara tidak semenggoda itu, ia selalu merasa tidak puas dengan Nara. Hingga mereka berdua pun sampai pada puncak kenikmatan mereka.
Selesai dengan adegan panas Rendi dengan Adel, mereka berdua pun langsung mengenakan pakaian mereka lagi, dan Adel berada dalam pelukan Rendi. Padahal, hari masih siang, namun, mereka sama sekali tidak takut dengan konsekuensi yang mereka lakukan di siang hari itu.
"Enak, Sayang?" tanya Rendi sembari mengusap lembut rambut Adel.
"Iya, kamu the best pokoknya! Candu banget," ujar Adel yang merasa kenikmatan bersama dengan pria itu.
__ADS_1
"Kamu juga nikmat banget, tau. Maaf ya, aku sempat nyuekin kamu beberapa hari," ujar Rendi yang merasa bersalah.
"Nggakpapa kok. Aku juga minta maaf karena bikin acara sendiri tanpa sepengetahuan kamu. Terus kamu gimana?" Adel nampak penasaran dengan apa yang sudah terjadi.
Rendi sebenarnya bingung harus bilang apa dan bagaimana. Ia mencari alasan untuk berbohong kepada Adel, agar hubungan mereka bisa berjalan lancar.
"Cewek yang nampar aku kemarin itu, namanya Tia. Dia itu kayaknya suka sama aku udah lama banget sih, terus cintanya nggak kesampaian, jadinya gitu deh." Rendi mulai menjelaskan kebohongannya itu.
"Wah! Aku beruntung dong! Terus, cewek yang kemarin sama Kak Gibran itu siapa? Kayaknya deket banget mereka berdua ini," ujar Adel yang sebenarnya sering melihat mereka berduaan di kampus.
"Ah ... cewek itu. Dia mantanku. Kebetulan satu jurusan sama Gibran aja sih, lagian Gibran juga pasti lagi cari temen cewek tuh. Biasa sih cari muka di depan junior!" Rendi justru menjelek-jelekkan Gibran dan tidak menganggap Nara sebagai istrinya.
"Wah, sainganku banyak juga ya? Nggak nyangka ternyata kamu banyak yang ngejar. Aku kesel banget sama si Tia itu! Dia sering banget ikut campur urusan kita deh, heran aku tuh!" Adel nampak kesal dengan wanita yang sedang mereka bahas.
"Tenang aja, aku tetep milih kamu kok, Sayang. Kamu cemburu ya?" Rendi menggoda wanita itu.
"Iyalah aku cemburu! Aku sayang banget loh sama kamu!" Adel semakin erat dipeluk oleh Rendi.
"Sabar ya, Sayang. Nggak usah terlalu mikirin kaya gitu. Aku juga sayang sama kamu dan nggak bakal selingkuh kok," ucap Rendi yang berusaha meyakinkan wanita itu.
"Oh iya, belakangan ini Gibran juga sering banget marahin kamu loh! Kalian nggakpapa kan?" Adel membahas perihal Gibran.
Mendengar hal itu, Rendi sedikit tidak terima dengan hubungan Gibran dengan Nara yang meskipun hanya sebatas teman, namun ucapan Gibran yang mengancam Rendi akan merebut Nara terdengar sangat meyakinkan dan serius.
"Ah, tapi nggak mungkin sih bakal rebut Nara. Aku bakal ancam Nara kalau sampai dia berani deketin si Gibran itu," batin Rendi.
"Gibran itu juga katanya kaya banget loh, tapi dia dijauhi soalnya ayahnya salah satu anggota mafia, orang-orang jadi nggak suka sama Gibran." Adel nampak tahu banyak.
"Kamu paham banget soal Gibran ya?" ujar Rendi.
"Rumor itu terkenal banget tau! Nggak ada yang berani sentuh Gibran, soalnya emang dia semengerikan itu tau! Makanya jangan deket-deket sama Gibran deh! Serem! Dia juga katanya gila cewek!" Adel menceritakan banyaknya desas-desus soal Gibran.
__ADS_1
"Iya kah. Aku jarang banget liat dia jalan sama banyak cewek sih." Rendi masih belum bisa percaya.
"Pokoknya banyak banget lah rumor soal si Gibran ini. Aku bahkan ngeri sendiri dengernya! Dia aja belum lulus sampai sekarang, padahal umurnya udah 26!" Adel menceritakan banyak hal yang baru diketahui oleh Rendi.
"Wah, tua juga ya. Kamu jangan terpesona sama cowok kaya gitu ya! Awas aja." Rendi kembali menggoda wanita itu.
"Eh, Sayang. Mau coba tanpa pengaman nggak?" Adel nampak penasaran.
"Loh? Jangan dong! Nanti kalau kamu hamil gimana?" Rendi nampak panik saat mendengar permintaan wanita itu.
"Aku mau kok mengandung anak kamu. Sesekali kita lakuin tanpa pengaman. Aku pengen banget cobain." Adel meminta dengan manja.
Melihat kekasihnya nampak meminta terus menerus, membuat Rendi susah menolaknya, apalagi Adel juga sudah menggoda Rendi dengan memegang benda sakti milik Rendi.
"Serius, kamu mau mengandung anakku?" Rendi terlihat tertarik saat mendengar ucapan itu.
"Iya, Sayang. Plis." Adel masih terus meminta.
Pada akhirnya, Rendi pun luluh dengan kekasihnya itu, karena dia sendiri juga penasaran rasa dari wanita itu. Apakah lebih nikmat dari Nara?
Pada akhirnya, mereka pun melakukan hubungan terlarang lagi untuk yang kedua kalinya, dan kali ini mereka melakukannya tanpa pengaman. Namun, Rendi berniat untuk mengeluarkannya di luar.
Pertama kali dia merasakan milik Adel, pria itu nampak menikmatinya.
"Tuh kan! Punya kamu lebih berasa!" Adel nampak menikmati gerakan pria itu, ia bahkan sesekali menggigit bibir bawahnya karena saking nikmatnya.
"Ohh, iya sayang. Ternyata lebih enak, tapi aku keluarin di luar ya?" ujar Rendi.
"Di dalem aja sekalian, aku pengen rasain." Adel masih penasaran.
"Maaf ya, Sayang. Nggak bisa."
__ADS_1
Mereka pun kembali beradu dalam kenikmatan, baik Adel maupun Rendi merasakan hal yang luar biasa dari sebelumnya.
Semenjak hal itu, Rendi dan Adel jadi sering sekali melakukan hubungan terlarang tanpa pengaman sama sekali. Bahkan Rendi sering mengeluarkannya di dalam tubuh Adel, tanpa memikirkan masa depan dirinya dan juga istrinya di rumah.