
Hari pertama mereka sampai di tempat KKN. Mereka semua diperkenalkan dengan keadaan desa oleh kepala desa dan beberapa jajarannya.
Di desa tersebut memang penduduknya
sedikit, maka dari itu ada beberapa fasilitas yang tidak digunakan dengan maksimal.
“Desa Krajan ini memang berada di tempat yang cukup terpencil, kalian kalau mau keluar dari
sini, sekedar mencari minimarket atau pasar, memang agak jauh dan harus melewati hutan dan
minim penerangan juga. Jadi, sebisa mungkin jangan keluar sendiri malam-malam, kecuali
kalau bersama-sama saya malah nggak masalah. Jangan lupa juga harus menjaga tata krama
dan juga sopan santun, karena kalian akan tinggal di rumah saya dan tinggal bersama saya
juga istri dan dua anak saya. Jadi, kita juga bisa lebih dekat untuk kedepannya.”
Penjelasan sang kepala desa yang bernama pak Roni itu membuat semua mahasiswa
langsung menganggukkan kepala seakan mengerti dengan semua peraturan yang baru saja
disebutkan.
Sedangkan Nara justru tidak fokus dengan ucapan kepala desa, ia sudah sangat gusar karena
pakaiannya sudah terasa basah, untung dia pakai jaket jadi tidak terlalu tembus ke luar dan
kelihatan basah.
Hingga hari semakin siang, di hari pertama mereka menata barang-barang pribadi mereka, dan
dibagi 4 kamar. 3 kamar diisi oleh para wanita yang berisikan 3 orang, dan satu kamar lagi diisi
oleh para pria yang berjumlah 4 orang.
Nara mendapati satu kamar bersama dengan Evi dan juga satu lagi teman bernama Lies.
Memang mereka belum begitu akrab, namun mereka berusaha mengakrabkan diri karena akan bersama-sama selama 45 hari. Nara juga segera mengganti pakaiannya dan siap sedia dengan kain yang akan digunakan untuk menyumpal dadanya agar tidak cepat bocor. Ia sering sekali merasa kesakitan karena asinya penuh dan tidak bisa memberikannya kepada Syakila.
Hingga malam pun tiba, di mana untuk pertama kalinya mereka semua berkumpul di dalam
ruang tamu yang memang digunakan oleh mereka untuk menjadi tempat mereka berkumpul.
Ada satu pria yang memulai pembicaraan di situ.
“Serius aku yang jadi kormades? Jujur aku nggak percaya diri deh!” ujar pria itu dengan sedikit takut.
__ADS_1
“Nggakpapa, atau kamu punya pilihan lain? Atau barangkali ada yang mau ngajuin diri?” timpal salah satu pria.
“Kalau dia nggak mau, biar gue aja.” Gibran justru mengajukan dirinya sendiri.
Nara hanya mengernyitkan keningnya saja, dia masih tidak menyangka jika dia akan KKN bersama dengan Gibran.
“Eh boleh tuh!” imbuh Evi yang nampak semangat. Nara menoleh ke arah Evi dan sedikit heran, mengapa wanita itu begitu antusias dengan pria
seperti Gibran, pada akhirnya semua setuju dengan pendapat Gibran karena Gibran
merupakan mahasiswa paling tua di sana.
Malam itu, mereka melakukan perkenalan dan membahas apa yang akan mereka lakukan di desa Krajan tersebut selama 45 hari. Ternyata malam hari di sana begitu dingin, tempatnya terlalu terpencil dan masih asri, jadi angin pun masih terasa sejuk dan dingin di malam hari.
Setelah perkenalan selesai, Nara pun kembali ke kamar dan berbicara dengan teman
sekamarnya, mendekatkan diri dengan mereka agar bisa saling bekerja sama.
Saat waktu sudah menunjukka pukul 9 malam, Nara langsung terkejut dan dia lupa jika dia
belum menghubungi ibunya sejak tadi.
“Duh! Aku telpon dulu ya? Aku lupa belum telpon ibuku, mana di kamar nggak ada sinyal ih!”
keluh Nara sembari mengangkat tangannya mencari sinyal.
“Ya udah ke samping aja atau ke luar tuh. Tadi kata Pak Roni di samping ada sinyal tuh,” imbuh Evi.
“Mau ke mana, Nduk?” tanya Pak Roni.
“Mau telpon ibu dulu pak, di kamar nggak ada sinyal soalnya. Di depan juga sinyalnya sedikit,”
ucap Nara.
“Oh ya udah sini aja, bapak juga kebetulan mau pengajian dulu. Kamu di sini sendiri
nggakpapa? Udah malam nih?” ucap Pak Roni sedikit khawatir.
“Nggakpapa kok pak.” Nara membalas dengan senyuman.
Pak Roni pun pergi meninggalkan Nara karena ada pengajian malam yang harus didatangi.
Nara langsung duduk di sofa yang ada di samping rumah, dan menikmati dinginnya malam
serta terdengar jelas suara jangkrik, saking sepinya desa tersebut. Ia mulai menelpon ibunya
dan bahkan video call.
__ADS_1
Nara senang sekali bisa menghubungi ibunya, dan ibunya juga terlihat sangat senang
dihubungi oleh putrinya, Nara melihat keadaan Syakila yang sedang bermain bersama dengan
adiknya Nara dan nampak tidak rewel. Nara nampak lega melihat putrinya tidak rewel jika tidak
bersama Nara.
[“Asi kamu gimana, Nak?”] tanya sang ibu yang sepertinya mengerti dengan situasi dan
keadaan Nara.
“Nggak tahu bu, aku kalau mandi juga mau nggak mau aku pijit sendiri dan mengibiarin asinya keluar sendiri. Kalau nggak gitu sakit, Bu.” Nara nampak mengeluhkan rasa sakitnya itu.
[“Ya udah, yang penting jangan sampai gumpal. Justru malah bahaya buat kamu nantinya.”] Ibunya Nara memberikan saran kepada putrinya.
“Iya Bu. Syakila nggak rewel kan?” Nara nampak khawatir.
[“Nggak dong, cucu ibu ini memang pintar kok. Dia paham betul kalau ibunya lagi nggak bisa
ada di sebelahnya.”]
“Syukurlah kalau begitu.”
[“Ya sudah kalau gitu, kamu istirahat ya, Nara? Pasti capek banget hari pertama di sana, besok telpon ibu lagi ya kalau kamu sempat,”] pinta sang ibu.
“Iya, Bu. Selamat tidur, Bu.” Nara tersenyum dan melambaikan tangannya kepada sang ibu dan sang anak lewat video call.
Hingga panggilan itu pun berakhir dan Nara menghela nafas panjang.
“Nggak bisa jauh dari orang tua ya?” ujar seseorang yang tiba-tiba datang dan sudah ada di
pintu samping. Membuat Nara hampir berteriak karena terkejut, dia terlalu fokus dengan ponselnya sampai tidak sadar jika ada orang di sana.
“Haish! Kenapa sih harus kamu? Kenapa dari semua orang yang ada di kampus, harus kamu yang satu KKN sama aku?” ujar Nara yang masih sedikit heran.
“Terus maunya sama siapa? Sama suami kamu?” Gibran nampak menyindir Nara.
Nara bahkan baru ingat jika dia seharian ini tidak menghubungi Rendi sama sekali, Nara
bahkan merasa seperti tidak punya suami.
“Ya bukan gitu juga sih,” lirih Nara.
“Aku boleh duduk sini?” tanya Gibran kepada Nara.
Nara pun menghela nafas panjang, dia sebenarnya tidak enak jika berduaan seperti ini di rumah orang.
__ADS_1
“Jangan lama-lama. Aku nggak mau kita dicap jelek di KKN ini,” pinta Nara.
“Iya, aku juga kormades di sini. Aku harus tahu diri dan sadar diri kan?” imbuh Gibran yang langsung duduk di sebelah Nara dan tersenyum.