
"Hai, Sayang. Aku mau ketemu Syakila," ujar Rendi tanpa merasa bersalah sama sekali.
Tiba-tiba terdengar dari dalam rumah suara ibunya Nara yang mengintip keluar.
"Siapa, Nak?" tanya sang ibu. Nara ingin sekali mengusir pria itu dari rumah Nara, namun sepertinya hal itu akan membuat kecurigaan tersendiri bagi ibunya. "Oh! Nak Rendi! Sini masuk, sini." Ibunya Nara telanjur melihat Rendi.
Dengan langkah yang percaya diri, Rendi masuk ke dalam rumah Nara dan melewati wanita itu dengan senyuman. Nara sampai tak berkutik sama sekali menghadapi pria itu.
Nara menghela nafas panjang saat pria itu masuk ke dalam rumah. Ia tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Saat Rendi sudah masuk, ia melihat Rendi sedang bermain dengan Syakila, terlihat pria itu begitu menyayangi Syakila di depan ibu, padahal saat sedang tinggal berdua, Rendi sama sekali tidak pernah menyentuh Syakila sedikitpun. Pria itu mudah sekali bersandiwara.
Nara melihat ke arah Rendi yang nampak menyayangi putrinya, padahal tengah bersandiwara.
Ia merasa sangat kesal sekali dengan pria itu, namun ia juga tak bisa mengutarakan perasaannya sekarang karena ibunya berada di sana. Ia hanya bisa pasrah saja.
Hingga malam pun tiba, Rendi tidur satu kamar dengan Nara dan juga Syakila di kamar Nara
yang memang tidak pernah diubah sama sekali dan tetap dijadikan kamar untuk mereka berdua sekarang bersama dengan Syakila.
Di kamar, Nara merasa sangat tidak nyaman karena ia bersama dengan pria yang sudah membuatnya sakit hati, Nara berusaha untuk tidak terlalu banyak berinteraksi dengan Rendi.
“Kamu marah sama aku?” tanya Rendi.
Nara yang ditanya seperti itu sangat kesal sekali karena sudah sangat jelas jika ia pasti marah
saat tahu bahwa suaminya sedang jalan bersama dengan wanita lain. Nara memilih diam dan mengabaikan ucapan Rendi.
“Maaf, Nara. Aku nggak bermaksud duain kamu apalagi bikin kamu sampai kaya gini. Aku udah bilang kan kalau aku nggak mau nyakitin kamu dan berusaha buat dapetin perasaan kamu lagi,” ujar Rendi.
“Nggak perlu, Rendi. Aku sudah tidak butuh jawaban itu lagi, karena aku juga jujur saja sudah tidak peduli lagi,” ujar Nara sembari membelakangi Rendi dan juga putrinya, Syakila ada di
tengah-tengah mereka sekarang.
“Jangan gitu dong, aku pengen banget kamu balik ke Semarang, Sayang. Aku kesepian di kontrakan sendiri, kamu tega sama aku?” tanya Rendi yang nada bicaranya terlihat memelas.
“Aku selalu di kontrakan sendirian juga biasa aja kok,” ucap Nara yang berusaha mengelak ucapan pria itu.
“Kamu kan masih istri aku, Nara. Masa kamu ninggalin suami kamu sendirian. Lagian kemarin itu aku jalan sama adel soalnya kita lagi ada urusan, terus soal skandal itu juga kamu tahu sendiri kan aku sering banget difitnah? Jadi jangan terlalu percaya sama rumor kaya gitu,” bela
Rendi.
Nara pun hanya diam saja dan tidak ingin menanggapi ucapan Rendi sama sekali, dia juga
__ADS_1
masih memiliki rasa trauma makanya tidak ingin pulang ke kontrakan. Namun, jika Nara tidak pulang bersama Rendi besok, bukannya akan membuat keluarga Nara curiga? Nara pun semakin bimbang dan bingung, mengapa pria itu selalu datang di waktu yang sangat tidak
tepat. Sering sekali membuat hati Nara bimbang dan mudah luluh. Ia merasa kasihan kepada
suaminya sendiri karena sifat Nara yang memang sangat mudah untuk memaafkan. Apalagi dia
masih menyayangi suaminya itu meskipun berkali-kali disakiti, ia hanya berharap akan ada
keajaiban yang datang kepadanya.
“Sayang, maafin aku ya. Kamu mau mengabaikan aku sampai kapan?” tanya Rendi dengan
nada yang terdengar memelas.
“Aku belum dapat bukti apa-apa dari kamu, Rendi. Aku nggak bisa percaya sama kamu,” ucap
Nara dengan nada yang perlahan.
Setelah itu Rendi pun terdiam sejenak dan ia tak bicara apapun kepada Nara. Suasana begitu hening hingga membuat Nara justru susah untuk tertidur, entah mengapa dia merasa tidak
tenang sama sekali saat berada di dekat Rendi.
Hingga tiba-tiba Rendi menaiki tubuh Nara dan membuat Nara terkejut bukan main, apalagi ini terjadi sangat tiba-tiba dan membuat Nara hampir teriak.
nafsu seakan sangat menginginkan wanita yang ada di bawahnya itu. Nara bahkan hampir
merinding karena sudah lama sekali ia tidak disentuh oleh Rendi dan memang sengaja
menjauhi pria itu.
“Jangan, Rendi. Nanti orang tuaku denger!” ujar Nara yang ketakutan setengah mati.
“Nggakpapa, melayani suami juga bukan dosa kok. Kamu masih istri sah aku, Nara.”
Pria itu langsung merasa sensitif dan ingin menyentuh wanita yang ada di depannya dengan
penuh nafsu, sedangkan Nara tidak bisa melawan, dia lebih takut jika Syakila bangun, atau
orang-orang di rumah bangun.
Tangan Rendi mulai menggerayangi tubuh istrinya dan Nara juga mau tidak mau pada akhirnya
melakukan hubungan badan dengan suaminya, dia juga memiliki hawa nafsu sebagai wanita.
__ADS_1
Namun, ia sama sekali tidak merasa nikmat ketika melakukannya dengan Rendi, hanya karena
Rendi suaminya saja maka Nara mau melakukannya.
****
Keesokan harinya, Nara diajak Rendi untuk pulang ke kontrakan, namun Nara masih saja
menolak. Ada rasa trauma tersendiri jika dia harus tinggal serumah dengan suaminya itu.
“Ayo ikut aku pulang, Nara. Kamu nggak kasihan sama ibu dan ayah mertuamu sendiri? Mereka udah lama nggak ketemu Syakila loh. Kamu jangan jadi egois karena mentingin diri kamu sendiri,” tukas Rendi dengan perlahan saat masih berduaan di kamar.
“Harusnya kamu duluan yang berusaha ngertiin aku, kalau kamu mau aku buat tetep ada di sisi kamu, harusnya kamu perlakukan aku dengan baik lah!” ketus Nara yang juga berusaha memelankan suaranya.
“Iya aku tahu, aku minta maaf sama kamu karena udah jahat sama kamu. Aku janji bakal
berusaha buat memperbaiki semuanya, biar keluarga kita bisa baik-baik saja,” ujar Rendi.
Nara pun sejenak berpikir, dan menghela nafas panjang. Pada akhirnya ia berpikir untuk menerima perbaikan sikap Rendi sembari tinggal di kontrakan lagi saja. Ia juga kasihan dengan mertuanya yang merindukan sang cucu. Mungkin satu minggu kemudian Nara baru akan
kembali ke rumahnya lagi.
“Ya udah, aku ikut. Aku kasih kamu waktu satu minggu, kalau kamu sama sekali nggak ada perubahan, aku bakal langsung pergi ninggalin kamu tanpa pamit,” ujar Nara.
Rendi pun tersenyum bahagia dan akhirnya ia bisa mendapatkan sumber uangnya kembali.
Setelah siang hari, mereka pun kembali ke Semarang dengan menggunakan motor milik Rendi
dan berpamitan kepada orang tua Nara.
Setelah mereka akan pergi, terlihat Rendi diberikan uang oleh ibunya Nara sebesar 200 ribu dan Nara juga ditransfer sejumlah uang untuk Syakila tanpa diketahui oleh Rendi.
“Terima kasih, Bu. Ibu kasih banyak banget,” pungkas Nara yang tidak enak hati.
“Iya, itu 200 buat ongkos kalian pulang, hati-hati ya Nak Rendi.” Ibunya Nara mencium kedua
pipi menantunya dengan penuh kasih sayang.
Pada akhirnya, Nara pun ikut Rendi kembali ke kontrakan, dengan tujuan ingin
mempertemukan Syakila dengan kedua mertuanya yang memang sudah lama tidak menemui
cucunya.
__ADS_1