Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Curiga


__ADS_3

"Kamu serius tinggal di sini?" tanya Tia.


Nara pun masuk ke dalam rumah dan segera meletakkan Syakila, takut dia kelelahan jika digendong terus menerus.


"Iya, kenapa? Mau masuk nggak?" Nara menawarkan kepada Tia.


"Iya ini gue masuk." Tia turun dari motornya dan masuk ke dalam rumah kecil itu. Hati wanita itu sedikit sedih saat masuk ke dalam dan melihat situasi rumahnya. Di rumah itu memang kecil, namun selalu bersih dan tidak ada barang-barang yang berserakan sama sekali. Tia duduk di sebelah kasur Syakila dan melihat Syakila dengan senyuman. Sedangkan Nara sedang berganti baju di kamar.


"Sorry ya tempatnya sempit!" ujar Nara dari dalam kamar.


"Santai aja sih! Lo kenapa milih di sini? Kontrakan lain kan banyak, Nara. Ada yang lebih murah juga," ucap Tia yang sedih karena melihat kondisi rumah tersebut.


"Waktu itu Rendi yang nyariin. Yang paling deket sama kampus ya cuma ini doang. Sebenernya aku nggak mau sih, tapi ya gimana lagi. Waktu itu semua serba dadakan, jadi aku juga cuma terima bayar aja," jawab Nara dari dalam kamar sembari mengganti pakaiannya agar lebih nyaman untuk dirinya menyusui Syakila nanti.


"Terus, nanti kalau KKN gimana dong?!" Tia tiba-tiba kepikiran hal itu, padahal Nara saja belum memikirkannya lagi.


"Aku masih belum tahu sih. Tapi kemungkinan bakal kubawa ke rumahku. Karrna kalau di sini, udah pasti nggak ada yang jaga. Aku percaya sama orang di rumah."


Nara keluar dari kamar dan duduk di sebelah Tia. Nara sebenarnya takut jika Rendi datang dan melihat Tia ada di dalam rumahnya, karena Nara berjanji tidak memberitahukan soal kehidupan barunya kepada siapapun.


"Kenapa nggak sama keluarga Rendi aja?" Tia nampak keheranan, namun, firasatnya berkata buruk.


"Bukan aku nggak percaya sama keluarga dia sih, cuma orang tuanya sibuk, dan sepertinya nggak punya waktu untuk ngurusin bayi lagi. Di rumahku ada ART yang udah pasti mau ngurusin Syakila selama aku pergi. Rendi juga sering sekali keluar, jadi untuk apa aku menitipkannya kepada Rendi?" Nara menundukkan kepalanya sembari berusaha untuk tersenyum, meskipun rasanya sangat sakit.


"Ya ampun. Gue kalau udah denger soal dia, rasanya pingin banget aku kasih tahu semua aibnya sebagai ketua BEM!" geram Tia.


"Eh jangan dong. Hubungan rumah tangga kita bisa susah kalau kamu gitu ih!" Nara langsung menatap ke arah Tia sembari berusaha mencegah perkataan Tia menjadi kenyataan.


"Ya habisnya kesel banget tau! Gue nggak pernah tuh denger kelakuan cowok lu beneran becus ngerawat lo! Kayaknya tiap hari lo terus yang ngalah! Jangan mau direndahin terus dong, Nara!" Tia makin gemas dengan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Selama jadi suamiku, dia selalu baik kok. Bahkan dia nggak—"


"Halah, belain aja terus! Dari dulu gue udah bilang sama lo kalo di Rendi nggak sebaik itu. Lo nggak percaya sih!" ledek Tia sembari mengusap kepala Syakila dan berharap anak itu nantinya akan bisa membahagiakan mamanya.


"He he he." Nara justru hanya tersenyum saja dan tersipu malu karena yang dikatakan Tia tidaklah salah.


Tia melihat ke arah Nara dan menghela nafas panjang. Ia tidak menyangka jika punya sahabat sekuat ini dan dia sedang berjuang sendirian.


"Lo boleh kok cerita apapun ke gue. Kalau minta bantuan juga bilang aja, jangan sungkan. Lo tau kan kalau gue selalu ada buat lo, dan lo juga jangan selalu mendem semuanya sendiri. Gue nggak mau lo sampe setres mikirin semuanya." Tia berusaha memberikan yang terbaik untuk Nara. Karena temannya itu sama sekali tidak pernah meminta lebih, dia hanya meminta waktu untuk didengarkan saja. Hal itulah yang membuat Tia bisa dekat dengan Nara dengan mudah.


"Iya, thank you ya. Aku jadi malu karena udah nangis di depan lo." Nara mengusap rambutnya sembari tersipu malu.


"Kalau lo nggak nangis di depan gue, gue nggak bakal tau rahasia sebesar ini!"


Nara pun tersenyum kepada wanita itu. Ia bersyukur karena punya sahabat seperti Tia. Ia bahkan memberikan semuanya untuk Nara tanpa ragu sedikitpun.


"Gue tinggal pulang nggakpapa nih?" Tia sebenarnya khawatir dengan Nara yang ada di rumah sendirian. Apalagi rumah wanita itu berada di ujung perumahan yang sepi, membuat Tia semakin was-was dan takut jika ada sesuatu terjadi.


"Nggakpapa kok, gue udah biasa di sini sendirian. Asal kunci pintu aja aku yakin semua bakal aman kok." Nara mengantarkan Tia sampai ke halaman rumah dan ia terlihat sudah siap kembali ke kosnya.


"Ya udah deh. Baik-baik di sini ya! Langsung telpon kalau ada apa-apa!" pinta Tia.


"Iya bawel!"


Tia pergi meninggalkan Nara di rumah itu, dan kini Nara sendirian lagi. Ia menghela nafas panjang dan sedikit bingung, mengapa suaminya tak kunjung pulang? Padahal biasanya maghrib sudah pulang.


Baru dia berpikir begitu, beberapa menit kemudian terdengar suara motor Rendi yang berhenti di depan rumah. Nara langsung membukakan pintu dan menyambut hangat suaminya.


"Habis bantu bapak kamu?" sambut Nara sembari mengambil tas pria itu. Namun, Rendi seakan tidak memperbolehkan untuk mengambil tasnya. Hal itu membuat Nara terkejut dan menatap pria itu.

__ADS_1


"Aku bawa sendiri aja, aku nggak capek kok." Rendi langsung masuk ke dalam kamar dan menyembunyikan tasnya itu agar Nara tidak melihat.


Nara pun merasa ada yang janggal dengan sikap suaminya itu. Apa ada sesuatu di tasnya?


"Ah! Jangan mikir yang aneh-aneh!" batin Nara sembari kembali menemani Syakila di kasur.


"Nara, kamu sibuk nggak? Ngerjain tugasku mau?" ucap Rendi dari dalam kamar.


"Tugas apaan? Kamu sering ada tugas juga to?" Nara seperti baru tahu jika Rendi juga ada tugas kuliah.


"Ada lah! Gampang kok tinggal searching aja. Kamu nggak sibuk, kan?" ucapan Rendi itu membuat Nara sedikit sakit hati.


Apa dia tidak melihat jika setiap hari dirinya sibuk mengurus Syakila dan juga tugas kuliahnya sendiri? Namun, karena tidak mau ribut, Nara hanya mengiyakan saja dan segera ke kamar untuk mengambil tugas Rendi.


"Emang habis ini kamu mau pergi?" tanya Dara.


"Iya. Aku malam ini nginep di kampus ya," ujar pria itu sembari mengambil pakaiannya.


"Terus besok aku berangkatnya gimana?!" protes Nara.


"Ada gojek kan? Pakai gojek aja dulu, duit kamu juga masih banyak kan kayaknya," ucap Rendi.


Mendengar hal itu dari mulut suaminya sendiri, tentu membuat Nara makin kesal. Ia mengira akan ditemani mengerjakan tugas, ternyata dia hanya kerjakan sendiri.


"Ya udah, terserah kamu aja," geram Nara sembari membawa tugas Rendi ke depan tv dan Nara mulai mengerjakannya dengan kesal.


Sedangkan Rendi yang menyadari kalau Nara marah pun langsung menghela nafas panjang.


"Dasar cewek nggak pengertian!" lirih Rendi.

__ADS_1


__ADS_2