Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Keadaan yang Memburuk


__ADS_3

Tia yang tadinya sedang bersama Gibran, langsung meminta Rendi untuk berhenti kabur dan


menjelaskan semuanya.


“Jelasin maksud kamu apa? Siapa yang di rumah sakit? Nara kenapa? Terus Adel juga


kenapa?” tanya Tia yang sudah semakin penasaran.


Gibran mengusap belakang kepalanya perlahan sembari menghela nafas panjang. Karena Adel yang mulutnya tidak bisa dikontrol, Tia jadi penasaran dengan semua yang terjadi.


“Oke aku cerita, tapi bukan berarti aku bisa bawa kamu ke Nara ya? Dia harus banyak istirahat untuk saat ini.” Gibran berusaha mencegah wanita itu bertemu dengan Nara.


Mereka pun menuju ke kantin untukbmembicarakan semuanya sembari membeli minuman


untuk mereka berdua.


Gibran mulai bercerita dari sejak mereka KKN bersama dan sampai Adel hamil anaknya Rendi, itu cukup membuat Tia tercengang dan hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Gibran sendiri. Tia semakin mencemaskan Nara, tapi dia juga tidak boleh gegabah untuk pergi begitu saja menemui Nara, kesehatan wanita itu adalah yang paling utama saat ini. Meskipun sebenarnya Tia juga geram dengan Rendi.


“Jadi, sepertinya Rendi sudah mendapatkan karmanya.” Tia sedikit senang mendengar semua cerita Gibran.


“Sepertinya begitu. Aku baru sekitar beberapa hari lalu menemui Rendi, dan dia nampak kacau. Namun, karena kuanggap ini adalah sebuah balasan atas apa yang sudah ia lakukan kepada Nara, aku hanya memberinya saran untuk tidak dekat-dekat dengan Nara dulu untuk sementara waktu. Kuminta ia selesaikan masalahnya dengan Adel, namun sepertinya masalahnya masih


belum selesai juga.” Gibran juga sedikit khawatir dengan pria itu.


“Tapi Nara baik-baik aja kan? Dia nggak sampai down, luka, atau kenapa kan?” Tia jelas masih penasaran dengan kabar sahabatnya itu.


“Iya, dia sama anaknya sehat kok sekarang. Aku belum bisa kasih tahu keberadaan dia ya,


kamu harus minta ijin ke Nara dulu, aku takut Nara belum mau ketemu siapapun.” Gibran mengingatkan Tia sekali lagi.


“Aku ngerti kok, yang penting dia baik-baik aja itu udah lebih dari cukup.”


Tia pun merasa sangat lega ketika ia tahu perihal kabar Nara, meskipun ia sedikit kesal karena


Nara sama sekali tidak memberitahu apa-apa kepada Tia.


Mereka berdua pun menghabiskan waktu mereka berdua di sana, mereka juga sudah lama


tidak bertemu, jadi ada banyak hal yang bisa mereka ceritakan satu sama lain.

__ADS_1


Di saat mereka sedang bersantai, tiba-tiba terjadi sebuah keramaian dari arah gedungnya yang biasa ditempati oleh para anak-anak BEM. Mendengar ramai-ramai di sana, Tia langsung penasaran dengan apa yang terjadi.


“Kenapa sih? Kok ramai gitu?” tanya Tia.


“Halah, paling biasa sih, anak-anak pada ngajakin demo. Kan sekarang lagi marak banget


demo tuh,” jawab Gibran dengan santai dan bersiap untuk pulang.


Namun, tiba-tiba ponsel Gibran berbunyi dan ada pesan dari beberapa jajaran BEM yang


berkata bahwa Tama dan Rendi bertengkar karena Adel.


Belum lagi ada banyak video beredar yang menunjukkan bahwa Tama dan Rendi sedang berkelahi dan berusaha ditenangkan oleh beberapa mahasiswa lainnya, namun semuanya nampak chaos dan tidak terkendali. Video itu bahkan sudah menyebar ke sosial media kampus.


Gibran langsung panik melihat video itu, jika tersebar ke sosmed, maka sudah pasti Nara bisa melihatnya. Gibran harus melakukan sesuatu untuk mencegahnya!


Gibran langsung duduk tegak sembari melihat ponselnya, hingga membuat Tia tersentak melihat pria itu tiba-tiba berubah posisi dengan cepat.


“Kenapa sih? Ngagetin aja deh!” ketus Tia.


“Aku salah, itu bukan demo. Itu Rendi lagi bertengkar sama Tama!” Gibran langsung mengambil ranselnya dan berlari menuju ke arah kerumunan yang padahal jaraknya cukup jauh dari kantin. Tia yang bingung harus bagaimanapun langsung ikut pergi meninggalkan kantin dan


“Tungguin, Gibran!” teriak Tia. Sedangkan di tengah kerumunan, terlihat Rendi dan Tama yang sedang adu mulut di sana,


anak-anak BEM berusaha untuk menjauhkan kerumunan dari Rendi dan Tama, sayangnya


orang-orang dari mereka tidak cukup sehingga membuat Tama dan Rendi tidak bisa dihentikan


sama sekali.


“Brengsek banget lo jadi cowok! Minimal kalo tahu jabatan lo tinggi di sini, lo punya tanggung jawab! Bukan malah lari dari tanggung jawab!” hardik Tama sembari memukul wajah Rendi.


“Ini bukan urusan lo, dan lebih baik lo nggak usah ngurusin hubungan gue sama Adel deh, lo


mau jadi pahlawan kesiangan? Atau cari muka?” Rendi masih berusaha untuk menahan agar


tidak memukul Tama, ia takut jika dia terlibat masalah di sini, lebih baik dia menjadi korban dan


diam diri saja.

__ADS_1


“Sini lo! Maju lo! Biar gue kasih tahu ke semua orang gimana bobroknya ketua BEM kita ini!”


DEG!


Rendi langsung terpacu saat mendengar ucapan pria itu, posisinya sangatlah tidak aman


sekarang. Semua orang bisa saja tahu kebenaran yang selama ini dia sembunyikan, juga


perihal Adel, sepertinya akan menjadi senjata makan tuan untuknya.


Karena tidak ingin terlibat lebih jauh lagi, Rendi memilih untuk lari dari gedung kampusnya dan melarikan diri, ia berusaha untuk pergi ke gerbang belakang lewat lapangan, namun sayangnya karena Rendi jarang sekali makan, pandangannya buram saat dia sedang melewati lapangan.


Larinya semakin pelan, hingga membuat Tama berhasil menangkap Rendi, ia memukul pria itu sepuasnya hingga membuat Rendi semakin lemas.


“Brengsek lo! Beraninya lo ngehamilin Adel dan nggak bertanggung jawab sama sekali! Rasain


ini buat lo karena udah nyakitin wanita sebaik Adel!” Pukulan terus datang bertubi-tubi ke pipi Rendi hingga membuat bibir Rendi juga berdarah, juga ada lebam di pipi. Sedangkan Rendi di sana sama sekali tidak berdaya.


“Tama! Hentikan, dasar bodoh!” Gibran yang tubuhnya lebih besar dari Tama, langsung mengangkat tubuh Tama dan menjauhkan dirinya dari Rendi agar Rendi terselamatkan.


“Lepasin gue! Dia harus dapet ganjarannya! Cowok brengsek kaya dia nggak pantes jadi ketua


BEM! Cowok kaya dia lebih pantes buat di DO dari kampus!” ujar Tama yang sedang meronta-ronta dan meminta untuk dilepaskan. Sialnya, karena pria itu tidak mau mengalah sama sekali, Tama pun berhasil lepas dari tubuh


besar Gibran karena ia menyikut perut pria itu dengan sangat keras.


DUG!


“Argh!”


Gibran melepaskan pria itu dan membuat Tama langsung kembali berlari ke arah Rendi yang sedang merangkak dan berusaha untuk kabur, namun, pandangan mata Rendi sudah kabur dan ia juga susah untuk berdiri. Tubuhnya benar-benar sudah sangat lemas.


Jantung Rendi berdebar dengan sangat cepat dan seluruh tubuhnya terasa sakit, wajah tampan Rendi juga sudah penuh akan luka. Ia bahkan merasa bahwa ini adalah akhir dari hidupnya, karena baru kali ini ia merasa tubuhnya sangatlah berat seperti ditindih batu yang sangat besar.


Sedangkan Tama masih berlari ke arah Rendi, hingga Rendi pun yang tadinya tengah


merangkak langsung berbalik badan dan berusaha melindungi dirinya dari serangan Tama lagi. Namun, tiba-tiba seseorang berlari ke hadapan Rendi dan merentangkan tangannya, hingga membuat Tama terhenti.


“JANGAN LUKAI RENDI!” teriak wanita itu

__ADS_1


__ADS_2