Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
"Aku Mau Cerai."


__ADS_3

PLAKK!


Suara tamparan itu terdengar sangat renyah sekali dan bahkan membuat Adel langsung terjatuh. Nara merasa lega sekali bisa langsung meluapkan amarahnya dengan satu tamparan keras dari tangannya itu.


“Tamparan itu cocok banget buat pelakor kaya kamu, menjijikkan!” ledek Nara yang mengeluarkan bombastic side eyesnya kepada Adel. Adel bahkan sampai tak bergeming saat ditatap seperti itu, lututnya bergetar dan dia sangat ketakutan, merasa bahwa Nara yang ia tahu


bukan seperti ini.


Tiba-tiba terdengar suara pria yang memanggil Nara dan menghampiri mereka berdua. Awalnya ia mendekati Adel lebih dulu, sedangkan Nara hanya melihat mereka berdua tanpa ekspresi apa-apa.


“Kalian kenapa? Adel kenapa kok bisa sampai jatuh?” ujar pria itu.


“Gibran! Tolong aku, Gibran! Nara jahat banget sama aku, masa dia nampar aku keras banget! Lihat ini pipi aku sampai merah banget ditampar dia!” rengek Adel kepada Gibran yang khawatir dengan situasi yang ada.


“Oh, jadi Nara yang nampar kamu?” ujar Gibran sembari menatap Nara.


Sedangkan Nara hanya bisa memalingkan wajahnya dengan tatapan mata yang jijik melihat Adel merengek seperti itu.


“Jangan manja deh, kalau lihat cowok aja gatel bukan main!” ledek Nara sembari melipat kedua tangannya.


“Syukurlah kalau kamu nggak sentuh Nara. Kirain yang jatuh Nara, makanya aku segera ke sini


buat nolongin,” ujar Gibran sembari berdiri dan segera menjauhi Adel.


“Loh? Loh? Gibran!” teriak Adel yang terdengar semakin manja.


Gibran mendekati Nara dan mengusap kepala wanita itu dengan lembut, melihat apakah


kondisi Nara baik-baik saja. Kini, Gibran juga menatap Adel dengan tatapan mata yang jijik.


“Saranku, mending kamu kuliah dulu yang bener. Jangan kegatelan jadi cewek, kalau kamu


sampai hamil, aku justru kasihan sama anak kamu. Belajar yang bener gih!” ledek Gibran


sembari menggandeng tangan Nara dan bersiap mengajak Nara pergi.


Namun, sebelum pergi, Nara kembali melihat ke arah Adel.


“Makan tuh Rendi. Aku udah nggak butuh cowok kaya dia. Setelah ini, jangan salahin aku kalau Rendi bakal langsung pergi dari hidup kamu,” ujar Nara sembari memperingatkan wanita itu.


“Heh Nara! Lo berani sama gue ya! Gue jamin hidup lo nggak bakal bahagia sama sekali!! Gibran! Naraaa!” teriak Adel yang masih belum bangun juga dari tempat ia terjatuh. Berharap

__ADS_1


ada seseorang yang datang menolongnya, tapi ternyata tidak ada sama sekali.


Gibran mengajak Nara untuk pergi ke kantin rumah sakit dan mengajak Nara menenangkan dirinya lebih dulu. Gibran membelikan minuman untuk Nara.


“Maaf ya, aku datangnya telat. Sebenernya aku dah lihat kalau Adel nungguin di ruangan kamu, tapi aku telat,” ujar Gibran.


Nara meminum air putih lebih dulu dan menghela nafas panjang usai air itu membasahi tenggorokannya.


“Kamu tahu semuanya?” tanya Nara yang hatinya sudah mati dan tak berasa apa-apa lagi.


Gibran terdiam sejenak dan seperti bingung harus bagaimana ia menjawab pertanyaan Nara


itu.


“Maaf ya, aku bukan mau menyembunyikan semuanya dari kamu, atau nggak mau terbuka sama kamu. Aku cuma nggak mau kamu sedih kalau denger cerita sebenarnya,” jawab Gibran sembari menundukkan kepalanya dan merasa bersalah.


Nara pun menyisir rambut panjangnya ke belakang sembari menghela nafas panjang. Dia lebih


berpikir harus bagaimana dan harus apa. Bagaimana dia akan menghadapi semua ini? Bagaimana dia akan bicara dengan keluarga Rendi dan juga keluarganya juga? Sudah pasti semua akan kecewa dengan sikap Rendi itu.


“Sejak kapan mereka pacaran dan gituan? Kamu sering lihat?” tanya Nara yang mulai mengintrogasi Gibran. Sedangkan Gibran seperti tengak-tengok, seakan takut untuk berbicara


yang sebenarnya. Nara menggenggam tangan Gibran dan berusaha menatap matanya, hingga


telanjur juga, kamu mau nutupin apa dari aku? Ungkapin aja semuanya,” ujar Nara sembari


tersenyum hambar.


Gibran melihat tatapan mata Nara yang tadinya sangat bersemangat berseri-seri, kini seakan berubah menjadi hampa dan kosong. Ingin rasanya pria itu menangis dan memeluk Nara dengan sangat erat.


“Udah dari sejak sebelum KKN. Sebelum adanya kejadian di festival kampus. Jauh sebelum itu, Nara,” jawab Gibran sembari menggenggam tangan Nara, berharap wanita itu akan kuat mendengar sebuah kenyataan yang menyakitkan.


“Oh? Lama juga ya ternyata. Pantesan aku pernah mergokin chat dia sama Adel sih, tapi kukira


itu salah kirim. Ternyata beneran ya,” jawab Nara yang berusaha santai meskipun ia sakit hati mendengarnya.


“Aku sering banget mergokin Rendi ke kos Adel, itu juga alasan kenapa aku ikut jajaran BEM


dan sering kerja di belakang layar, karena aku pengen tahu seperti apa busuknya Rendi. Aku


juga sebenarnya ingin ungkapin semuanya sama kamu, cuma aku nggak siap kalau kamu

__ADS_1


harus sakit hati. Sakit rasanya lihat kamu nangis,” ujar Gibran dengan tatapan mata yang begitu


iba kepada Nara.


Sedangkan Nara merasa bersyukur sekali memiliki pria seperti Gibran yang selalu ada buatnya.


Nara menghela nafas panjang dan tersenyum.


“Aku tahu, selama tiga hari ini kamu selalu di sini kan? Selalu datang ke rumah sakit, entah


pagi, sore, ataupun malam. Aku juga tahu kalau kamu selalu ngawasin aku waktu aku keluar


malam untuk beli camilan atau makan. Kamu bukan mau nungguin Rendi, atau jengukin Rendi,


melainkan nungguin aku, bukan?” Nara tersenyum saat ia berkata seperti itu.


Mendengar Nara tahu kenyataan itu, wajah Gibran langsung memerah dan memalingkan wajahnya sembari berucap, “Enggak tuh! Kamu salah lihat kalii!” Pria itu tidak mau mengaku.


Nara pun tertawa kecil saat Gibran bertingkah seperti itu, hal itu juga membuat Gibran tersenyum dan lega sekali melihat Nara sudah jauh lebih baik dan berubah.


“Kamu nggak nangis?” tanya Gibran.


“Kenapa? Aku capek tiap kali denger sebuah kenyataan aku selalu nangis, sedih, terpuruk. Aku nggak mau kaya gitu lagi. Lihat foto tadi, rasaku langsung mati.” Nara meminum kembali minuman yang dibelikan oleh Gibran.


Mendengar jawaban dari wanita itu, Gibran langsung tersenyum dan merasa sangat bangga, luka dalam ternyata membuat Nara berubah drastis.


“Oh iya, Gibran. Kamu bisa bantu aku?” tanya Nara dengan tiba-tiba.


“Bisa dong! Apa yang bisa aku lakuin buat kamu?” tanya Gibran sembari melipat kedua


tangannya di atas meja dan bersiap untuk mendengarkan apa yang akan diucapkan oleh Nara.


Entah kali ini akan membuat Gibran sakit hati, atau justru sebaliknya.


“Selama ini aku selalu abai dengan saran kamu karena aku yang terlalu lembek dan gampang sedih, juga sakit hati. Tapi sepertinya, aku akan membuang sisi diriku yang seperti itu dan merubah diriku menjadi Nara yang berbeda, dan jauh lebih berani.” Nara memegang botol minumannya sembari menatap bayangan dirinya yang terpantul di botol itu.


Lalu, Nara mengangkat kepalanya hingga mata mereka bertemu. Tatapan mata Nara kali ini


tidak seperti biasanya, membuat Gibran reflek mengangkat kedua alisnya.


“Aku mau cerai sama Rendi.”

__ADS_1


DEG!


__ADS_2