Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Waktu yang Salah


__ADS_3

Setelah menyusui Syakila, Nara langsung kembali ke kampus dengan perasaan yang jauh lebih baik. Ternyata menjadi seorang ibu itu sangat berat, apalagi jika tidak siap.


Nara kembali menjalani kuliahnya dan pulang jam 3 sore. Saat itu, Tia mengajak Nara untuk pergi dengannya.


"Kamu sibuk?" tanya Tia.


"Oh, nggak sih. Emang kenapa?" Nara kembali melemparkan pertanyaan kepada Tia.


"Ikut aku yuk, aku mau bicara." Tia mengeluarkan raut wajah yang cukup serius.


"Kenapa sih? Harus banget nih?" Nara takut jika dia pulang terlambat.


"Iyalah! Ke kantin aja, nggak usah jauh-jauh. Panas."


Tia merangkul Nara dan mengajak wanita itu pergi ke kantin, ia mengajak Nara duduk di salah satu tempat favorit Tia, yang menurut dia masakannya paling enak.


"Lo ada masalah sama si Rendi itu?" tanya Tia.


"Nggak kok, emang kenapa sih?" Nara kembali heran dengan sikap wanita itu.


"Dari perubahan fisik lo aja udah nggak wajar tahu, gue khawatir sama lo. Serius nggak ada masalah apa-apa?" Tia memastikan sekali lagi.


"Santai aja sih, kalau ada apa-apa juga aku pasti cerita ke kamu kan?" Nara berusaha menenangkan wanita itu.


"Iya sih, gue khawatir banget soalnya."


Nara bahagia karena masih ada orang yang sangat peduli dengannya dan berusaha untuk menanyakan kabar Nara. Nara selalu bersyukur karena dirinya dikelilingi oleh orang yang sayang kepadanya.


Di tengah mereka sedang berbincang-bincang, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh beberapa geng yang memukul meja makan mereka dengan sangat keras.


BRUK!


"Minggir lo berdua!" usir salah satu dari mereka.


Tia yang memang kesabarannya setipis tisu dibagi dua, langsung menatap wanita itu dengan tatapan yang sangat sinis dan nampak kesal.


"Maaf ya, kita udah di sini duluan, di dalem kan masih banyak tempat, ngapa milih di sini? Lo siapa berani ngusir kita?" tanya Tia.

__ADS_1


"Gue? Lo serius nggak kenal sama gue? Anak jajaran BEM ini masa nggak kenal sih!"


DEG!


Nara langsung mengingat wajah dari wanita yang foto berdua dengan Rendi, kini ia sedang bicara dengan mereka berdua.


"Oh, anak BEM. Pantes sombongnya selangit, najis lu!" gertak Tia.


"Nama gue Adel, dan gue mau duduk situ, mending lo minggir sebelum gue siram lo pakai air," ucap Adel kepada mereka berdua.


BRAK!


"Lo berani sama gue? Jangan mentang-mentang lo anak BEM, lo jadi seenaknya sendiri ya! Kedudukan kita itu sama! Sama-sama mahasiswa! Jangan sombong cuma karena lo dapet jabatan dan merupakan jajaran anak BEM deh!" hardik Tia yang langsung emosi. Nara langsung berusaha menenangkan sahabatnya itu dan mengajaknya pergi.


"Udah, udah. Jangan bikin ribut ih, malu tahu." Nara melihat banyak orang yang memperhatikan mereka.


"Berisik banget lo jadi cewek. Tinggal minggir juga susah banget."


"Ogah! Gue mau di sini." Tia sengaja memancing amarah Adel dan gengnya.


"Tia, ayo udah pergi aja. Gue males berurusan sama orang-orang BEM," pinta Nara sembari menarik lengan tangan Tia.


Tia dan Nara langsung saling menatap keheranan, ia tidak mengerti mengapa wanita itu begitu mengagungkan Rendi, padahal Rendi juga sebenarnya brengsek.


"Nggak perlu sampe mengagungkan cowok itu juga kali, dia juga cuma pencitraan. Di belakang juga pasti brengsek kaya lo." Tia sama sekali tidak takut dengan wanita yang sedari tadi memojokkan dirinya itu.


Adel yang dikata seperti itu langsung naik pitam dan merasa kesal dengan Tia. Sedangkan Nara merasa takut dan masih memikirkan perihal foto Rendi dan wanita itu.


Karena kesal tidak mendapatkan apa yang diinginkan, Adel langsung mengambil air minum di hadapannya dan menyiramkannya kepada Tia juga Nara.


Namun, dengan cepat seseorang memegang lengan tangan Adel dan membuatnya tidak bisa menyiramkan air itu kepada mereka.


"Adel, kan?" ujar pria itu.


"Kak Gibran? Ke-kenapa di sini?" tanya Adel yang langsung terkejut bukan main dan langsung meletakkan kembali gelas itu lalu bersikap sok manis.


"Mau ngapain kamu ke mereka?" Gibran nampak marah kepada Adel. Wanita itu langsung bersikap merasa paling tersakiti.

__ADS_1


"Ah ... ini, aku cuma mau ngasih minuman ini ke mereka kok. Karena mereka egois banget nggak mau pergi dari sini, padahal kulihat mereka sudah selesai makan." Adel mengadu domba Gibran dengan kedua wanita itu. Gibran menatap Nara yang sudah ketakutan, dan juga Tia yang jengkel dengan jawaban Adel.


"Kamu itu anak BEM kan? Sikap kamu itu bisa merusak citra anak-anak BEM loh. Mending kamu yang pergi, lagian mereka ini baru mau makan kok. Tuh lihat, ibunya baru mau ngeluarin makanan buat mereka," bela Gibran sembari menunjuk ke dalam dapur dan terlihat ibu-ibu yang akan keluar untuk memberikan makanan tapi ragu.


"Kak Gibran kenal mereka?" Adel sedikit curiga dengan sikap Gibran.


"Kenal dong, mereka teman-temanku. Sama seperti kalian, adik tingkatku juga, bukan? Aku tidak membedakan kalian semua. Aku sudah janji kepada mereka untuk makan bersama di sini," imbuh Gibran yang tengah mengusir wanita itu dengan lembut.


"Kalau gitu, kita boleh join kan? Mejanya masih banyak kok," pinta Adel yang seperti ingin mendekati Gibran.


"Maaf ya, tempatnya udah penuh. Mereka temanku, dan mereka nampak nggak nyaman kalau kamu di sini. Jadi, lebih baik kamu pergi dari sini." Jelas-jelas Gibran mengusir Adel dengan lembut, namun kata-katanya cukup menusuk hati.


"Kok gitu sih ngomongnya, Kak?" Adel nampak cemberut dan semakin ingin mendapatkan perhatian juga belas kasihan.


"Adel!" Panggil seorang pria lagi yang berlari mendekati Adel.


Terlihat seorang pria yang dikenal oleh mereka semua tengah berlari menghampiri Adel dengan cepat.


"Kak Rendi!" sapa Adel dengan penuh antusias.


DEG!


Jantung Nara langsung berhenti berdetak, sekujur tubuhnya pun terasa sangat panas. Ia melihat suaminya berlari menghampiri wanita lain dengan raut wajah yang begitu khawatir.


Gibran pun mengernyitkan keningnya kala Rendi sudah berada di hadapannya.


"Kau benar-benar keterlaluan," gumam Gibran sembari menatap Rendi dengan sinis.


Rendi menatap Nara dan sedikit terkejut karena istrinya berada di sana. Tia dan Gibran sudah memberikan tatapan yang dingin.


"Aku udah nunggu kamu, Rendi! Ayo kita jajan! Di sini penuh ternyata."


Adel langsung menggandeng lengan Rendi dan membuat Rendi terkejut bukan main. Nara tidak kuat dengan pemandangan itu langsung memalingkan wajahnya, dan dadanya terasa sangat sakit, melihat suaminya digandeng wanita lain.


"Tu-tunggu Adel!" Rendi berusaha melepaskan tangan Adel namun susah. Rendi bahkan melihat ke arah Nara berulang kali karena khawatir.


Mereka pun pergi menjauh dari depan Nara. Tia langsung keluar dari kantin itu dan berlari, berniat mengejar mereka, namun dihadang oleh Gibran.

__ADS_1


"DASAR COWOK BRENGSEK!" teriak Tia di depan semua orang.


__ADS_2