
Setelah mengajak Nara makan, Gibran pun mengajak Nara untuk pindah ke mall yang lain. Dia takut Nara jadi tidak nyaman dan membuat kencan mereka gagal total.
Nara pun masuk ke dalam mobil bersama dengan Gibran. Sebelum pergi, Gibran melihat raut wajah Nara yang nampak berbeda dari sebelumnya.
"Kamu kenapa?" tanya Gibran kepada wanita yang ada di sebelahnya itu.
Nara ingin membicarakan yang sebenarnya, namun, ia terlalu takut jika ternyata itu hanya prasangka Nara saja.
"Jangan jawab nggakpapa, aku tau banget kamu kalau banyak diem, pasti ada sesuatu," ucap Gibran seakan mengerti betul tentang Nara.
Nara jadi semakin tidak bisa berkata apa-apa lagi, terlebih dia sudah seperti kepergok oleh Gibran.
Ia sedikit kesal karena Gibran mudah sekali menebak perasaan Nara yang selama ini tidak ada yang tahu.
"Aku masih takut aja kalau kamu ngasih tahu ke semua orang soal hubungan kita. Terus, memangnya hubungan kita sudah sejauh apa? Kenapa kamu berani memperkenalkanku kepada mereka?" tanya Nara.
"Kamu menanyakan status kita ya?" tebak Gibran.
Secara tidak langsung, memang itulah yang ditanyakan oleh Nara. Namun, ia mengutarakannya dengan malu-malu dan sedikit berbelit-belit.
"Nggak perlu kuperjelas kan?" Nara melihat ke arah kakinya dan sedikit malu dengan pernyataan Gibran barusan.
Gibran pun tersenyum kecil dan menggenggam tangan Nara dengan erat.
"Lihat aku," pinta Gibran dengan menggenggam erat tangan Nara.
Mau tidak mau, tatapan mata mereka pun saling bertemu, meskipun Nara sebenarnya sedikit malu jika harus menatap mata pria itu.
Cukup lama mereka saling bertatapan, hingga Gibran mengutarakan apa yang ia akan ucapkan.
"Kamu sudah yakin dengan perceraian kamu dengan Rendi, bukan?" tanya Gibran.
Nara menganggukkan kepalanya dan hal itu cukup untuk menjawab pertanyaan Gibran.
"Kalau begitu, kamu mau jadi pacarku?" tanya Gibran.
Jantung Nara langsung berdegup dengan sangat kencang, tidak disangka dia ditembak saat itu juga dan membuat Nara jelas tidak siap harus jawab apa.
"Ka–kamu serius nanya gitu ke aku?" tanya Nara.
"Kapan aku pernah bercanda sama kamu?" Gibran membalas kembali ucapan Nara itu.
__ADS_1
Jika dipikir-pikir lagi, memang benar selama ini Gibran tidak pernah bermain-main dengan ucapannya. Apalagi jika soal perasaannya itu.
"Haruskah aku jawab sekarang?" tanya Nara.
"Boleh. Meskipun kamu menolak pun, aku bakal tetap menanyakan hal itu berkali-kali. Aku tidak masalah kamu menolakku, aku bakal terus menanyakan hal yang sama," ujar Gibran sembari memegang tangan Nara dengan sangat erat.
Jantung wanita itu semakin berdegup dengan kencang, apalagi kini, di hadapannya dia harus mengutarakan apa yang ia rasakan.
Nara berpikir sejenak, apakah boleh jika ia membuka lembaran baru dengan orang yang berbeda? Padahal dia baru saja bercerai.
Apakah jika Nara melakukan ini, hidupnya akan jadi semakin membaik?
"Kamu nggakpapa jalan sama janda?" tanya Nara yang berusaha meyakinkan ucapan Gibran lagi.
"Mau kamu janda, perawan, atau apapun itu aku bakal tetep sayang sama kamu, dan jatuh cinta sama kamu berkali-kali," jawab Gibran dengan penuh semangat.
Pada akhirnya, memang Nara harus membuka hatinya untuk orang baru yang akan masuk ke dalam hidupnya. Meskipun di dalam hati kecil wanita itu, sebenarnya dia juga mencintai Gibran, ia hanya takut untuk mengutarakan.
"Gimana, Nara?" tanya Gibran lagi.
Nara menegak salivanya dengan susah payah, berusaha mengutarakan apa yang ia rasakan. Hingga akhirnya ia berani mengutarakan semuanya.
"Iya, aku mau jadi pacar kamu."
"Terima kasih, Nara!" Gibran langsung memeluk wanita itu dengan sangat erat, juga terdengar kebahagiaan dari pria itu. Ternyata Gibran bisa merasa sebahagia ini hanya dengan mendengar satu kalimat dari Nara saja.
Nara pun membalas pelukan pria itu.
"Kamu senang?" tanya Nara.
"Banget! Ini momen paling indah dihidupku! Aku nggak bakal lupa sama hari ini!" ucap Gibran dengan penuh kebahagiaan.
Nara yang mendengar ucapan pria itu langsung merasa ikut senang.
"Sekarang, aku mau ngajak kamu belanja buat kebutuhan Syakila, kamu mau Sayang?" tanya Gibran.
Ucapan sayang itu baru pertama kali ia dengar dari bibir Gibran, dan ia merasa ingin mendengarnya terus menerus, sepertinya Nara juga menyukai Gibran.
"Yakin nggakpapa? Tapi pakai uangku ya? Soalnya aku udah ngumpulin banyak kok, tenang aja," ucap Nara.
"Yahh, lihat nanti ya."
__ADS_1
Gibran pun langsung tancap gas dan ternyata ia mengajak Nara untuk pergi ke toko perlengkapan bayi yang paling terbaik di Semarang.
Sampai di sana, Nara langsung memilih beberapa keperluan Syakila, seperti susu, pampers, camilan dan beberapa hal kecil lainnya. Sedangkan Gibran justru sedang asyik memilih pakaian untuk Syakila. Ia ingin sekali membelikan bayi itu baju, mengingat baju Syakila sudah tidak terlalu muat karena bertambahnya usia.
"Kamu beli banyak banget, Gibran? Syakila masih kecil, baju itu paling dipakai sampai 3 bulan doang, mending nggak usah banyak-banyak," ucap Nara.
"Nggakpapa, ini lucu-lucu, Sayang. Aku mau beliin ini buat Syakila pokoknya," tutur Gibran yang tidak peduli dengan ucapan Nara.
Sedangkan Nara hanya tersenyum saja melihat tingkah Gibran yang saat ini merupakan kekasihnya itu. Ia tidak bisa menolak keinginan Gibran.
Hingga saat akan membayar, Nara sudah siap mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan, di situ terlihat Gibran mengintip sedikit dompet milik wanita itu.
Gibran langsung mengambil uang 100.000 dari Nara dan mengambil uang dari dompet Gibran untuk membayar semuanya. Bahkan sampai orang yang mengantre pun ikut terkejut dengan uang yang dipegang oleh pria semuda Gibran.
"Aku aja yang bayar, kan tadi aku udah mau," protes Nara.
"Ssh, diem aja kamu. Nanti bisa di mobil, gampang" ucap Gibran.
Nara pun hanya mengikuti apa yang diucapkan oleh pria itu, hingga mereka berhasil membawa dua kantung plastik yang cukup besar.
Gibran membawakannya ke dalam mobil dan Nara langsung masuk ke dalam, disusul oleh Gibran.
Dengan cepat, Gibran mengambil dompet yang ada di tas Nara dan membukanya. Gibran pun sampai menggelengkan kepalanya melihat isi dompet Nara yang kosong.
"Astaga, kalau jalan sama aku, dompet kamu boleh kosong, tapi kalau jalan sendiri, jangan sampai kosong ya," ucap Gibran sembari memberikan beberapa lembar uang dan memasukkan ke dalam dompet.
"Heh?! Kamu ngapain? Nggak ah! Itu kan duit kamu, Gibran!" keluh Nara yang berusaha mengembalikan uang itu.
"Kalau kamu sayang sama aku, kamu harus terima uang itu, oke?" tanya Gibran
"Tapi itu uangnya kebanyakan!"
Dengan cepat, Gibran langsung mengecup kening Nara sampai wanita itu langsung terdiam sejenak.
CUP
Nara langsung terdiam dan tidak bisa berkata apa-apaagi.
"Kalau sama aku, kamu harus bahagia. Ini salah satu caraku bahagiain kamu, jadi, tolong terima ya?"
Meskipun begitu, Nara tetap sedikit tidak enak hati, karena ia sudah banyak merepotkan Gibran.
__ADS_1
Hingga hari semakin malam, hal ini membuat mereka harus segera pulang dan menjemput Syakila dulu.
"Apa boleh aku sebahagia ini?" tanya Nara dalam hati dan serba salah karena tidak bisa berkata-kata saat beri