
Kehidupan Rendi dan Nara terus menerus seperti itu. Meskipun sudah diancam oleh Gibran, Rendi sama sekali tidak kapok dan justru semakin ngelunjak. Dia bahkan jadi sering ke kos Adel agar hubungan mereka tidak ketahuan oleh publik.
Sedangkan Nara masih terus berusaha untuk mewaraskan dirinya sendiri agar bisa merawat Syakila sekaligus mengerjakan beberapa kerjaan kuliahnya yang selalu menumpuk, karena Nara mengerjakan pekerjaan rumah sendiri.
Rendi juga masih membantu orang tuanya agar dapat uang, meskipun hanya terkadang saja ia berangkat, sedangkan keuangan Nara masih terus dibantu oleh keluarganya. Sesekali, dia juga menulis artikel dan novel agar bisa mendapatkan sedikit uang untuk hidup.
Hingga suatu hari, Nara sedang berada di kampus untuk mengerjakan kerja kelompok. Sedangkan Syakila dititipkan sampai sore. Ia sekelompok dengan Tia dan semenjak tahu sosl Syakila, Tia jadi lebih perhatian kepada Nara. Saat kerja kelompok sudah usai, Tia mengajak Nara untuk pergi sebentar.
"Masih jam 10. Ternyata kerjainnya cuma 3 jam doang. Padahal udah berangkat jam 7 pagi weh!" Tia berjalan di sebelah Nara sembari mengeluh.
"Iya ya. Mana aku bangun kesiangan, sampai belum mandi si Syakila." Nara menghela nafas panjang karena di pagi hari, dia sudah riweh. Untungnya dia memiliki orang yang bisa menjaga Syakila.
"Nongkrong bentar yuk!" ajak Tia.
"Hah? Ke mana? Kamu kan tahu aku harus ambil Syakila?" Nara sedikit kesal dengan temannya itu.
"Halah! Dia kan tugasnya emang jagain Syakila sampai kamu pulang. Ya anggap aja kamu belum kelar kerja kelompoknya! Nggak papa, sesekali refreshing biar kamu nggak megang Syakila terus!" hasut Tia agar Nara mau pergi dengannya.
Sedangkan Nara yang memang sudah lelah dengan kenyataan pun pada akhirnya mengiyakan ajakan Tia. Dia juga ingin merasakan bersenang-senang seperti saat dia masih belum memiliki Syakila.
"Jangan mikirin duit! Aku yang bakal traktir hari ini!" ucap Tia sembari merangkul Nara dan mengajak kawannya itu pergi.
"Seriusan?" Nara sedikit terkejut dengan ucapan temannya itu.
"Iya! Gaslah mau makan apa aja gue traktir!" ucap Tia.
__ADS_1
"Wiii, sultan satu ini memang tajirnya luar biasa!" puji Nara sembari melangkah bersama Tia dan merasa senang karena dia akan menjalankan kegiatan yang selama ini dinanti-nanti.
Tia mengajak Nara untuk makan siang, lalu pergi ke mall dekat kampus untuk melihat barang-barang yang bagus dan merupakan incaran Tia. Tia juga membelikan beberapa barang untuk Syakila, karena memang dia berasal dari keluarga yang cukup kaya, dan Tia juga orang yang hemat. Perjalanan mereka pun berakhir di tempat karaoke.
Beban Nara terasa lepas sejenak, apalagi dia tidak membawa Syakila saat itu. Perasaannya makin senang dan juga tenang.
"Kalau lo lagi senggang, jangan ragu buat jalan-jalan sendiri. Nyembuhin diri lo sendiri. Gue yakin, lo pasti nggak bakal bisa terus menerus waras kalau harus ngerawat Syakila dan ngurusin cowok brengsek itu!" Tia duduk sembari menikmati minumannya. Tenggorokannya serasa kering karena dia teriak-teriak saat karaoke tadi.
"Thanks ya. Jangan sering-sering kaya gini, aku nggak mau nyusahin kamu dan nggak mau habisin uang kamu. Kamu traktir aku makan aja juga udah cukup kok," ucap Nara sembari menikmati es krimnya.
"Halah! Santai aja sih! Gue suka lo jujur sama gue. Karena gue ngerasa dianggap sahabat!" Tia nampak bahagia meskipun uangnya sudah keluar banyak untuk pergi bersama Nara.
Nara sedikit terharu saat sahabatnya berkata seperti itu.
"Thanks ya."
"Apa apa? Kenapa?" Nara terlihat sangat penasaran.
"Gue suka sama Gibran!"
DEG!
Mendengar pernyataan seperti itu, entah mengapa jantung Nara seperti berhenti sejenak dan terdiam mematung di hadapan Tia. Namun, dia berusaha untuk tidak terlalu terkejut dan berusaha tersenyum.
"Loh? Kok tiba-tiba? Kirain kamu bercanda doang kemarin ih!" ujar Nara.
__ADS_1
"Kaga lah! Gue seriusan suka sama Gibran. Kupikir dia pacaran sama lo, tapi ternyata lo udah nikah sama Rendi dan kayaknya nggak bakalan sama Gibran sih. Sejak dia sering muncul di hidup gue, gue jadi makin suka sama dia." Tia menyangga kepalanya dengan tangan kanannya, melihat ke arah lain seakan tengah membayangkan pria yang sedang ia ceritakan barusan.
"Ka–kalo Gibran nggak suka sama lo, gimana?" Entah mengapa, Nara memberikan pernyataan untuk membuat Tia berhenti berharap.
"Nggak mungkin! Dia sering ketemu sama aku, tau! Kayak ngikutin aku gitu loh! Aku yakin dia cuma malu ngungkapinnya." Lagi-lagi Tia percaya diri dengan apa yang sudah terjadi di antara dirinya dengan Gibran.
Sedangkan Nara yang sebenarnya memiliki rasa kepada Gibran, sedikit terkejut kala mendengar sahabatnya berkata seperti itu. Dia tentu tidak boleh serakah dan harus melepaskan Gibran, mengingat Nara adalah istri sahnya Gibran.
"Kamu yakin nggak salah orang?" Nara masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Nggak lah! Gue yakin, karena selama ini gue selalu melting kalau lagi sama Gibran, dan deg-degan banget tau! Dia cakep banget!" Tia semakin tergila-gila saat menceritakan perihal pria itu.
"Iya udah, aku ngerti kok. Pertanyaanku dari tadi, kamu yakin Gibran bakal suka sama kamu?" Nara mengulang pertanyaannya lagi.
Tia pun terdiam sejenak, seakan memikirkan sesuatu. Pertanyaan itu sama seperti yang dikatakan oleh Gibran. Ia juga ingat jika Gibran menyukai seorang wanita yang memang masih dia suka sampai saat ini.
"Gue bakal rebut hatinya!" ucap Tia dengan penuh tekad.
Nara pun tersenyum di hadapan Tia dan tidak menyangka jika Tia akan berkata begitu. Di dalam hatinya, ada rasa cemburu dan tidak ingin Tia dekat dengan Gibran, karena jika Gibran menyukai Tia juga, maka Nara tidak akan punya tempat untuk berkeluh kesah dan tak punya tempat untuk mengayomi dan memanjakannya.
"Semoga Gibran juga suka sama kamu ya!" Itulah yang terucap di mulut Nara agar sahabatnya bahagia dan makin semangat.
Setelah jalan-jalan, Tia pun meminjam motor teman satu kontrakannya dan mengantarkan Nara untuk menjemput Syakila di tempat ia dititipkan dan juga mengantar mereka pulang sampai ke kontrakan. Itu adalah kali pertamanya Tia datang ke rumah kecil Nara.
Sepanjang jalan, Nara bertekad untuk menjauh dari Gibran. Karena selama ini, pria itu selalu ada untuk Nara, bahkan selalu muncul tiba-tiba. Dia tidak ingin Giran terus menerus melanjutkan rasa sukanya kepada Nara. Karena dia tidak ingin sahabatnya bersedih.
__ADS_1
"Aku harus menjauh dari Gibran," batin Nara.
"Ini kontrakan lo?" tanya Tia yang berhenti tepat di depan kontrakan Nara. Tia sedikit terkejut dan melihat kontrakan Nara dengan tatapan yang sedikit aneh.