
Kehidupan Rendi pun jadi semakin sibuk kala ia bekerja di tempat ayahnya sendiri. Bahkan sering sekali Rendi merasa kesal karena lelah, dan sering mempermasalahkan hal sepele di rumah.
"Serius kamu nggak masak sama sekali?!" tanya Rendi sembari membuka meja tempat di mana Nara selalu menaruh makanan yang sudah ia masak.
"Nggak ada, uangnya kan tinggal buat Syakila aja. Aku nggak punya uang sama sekali, dan aku nunggu kamu buat ngasih ke aku," jawab Nara sembari bermain dengan Syakila.
"Yang bener aja kamu! Masa iya suami sendiri nggak dikasih makan loh! Aku capek habis pulang kerja, pengen makan, pengen istirahat! Ini nasi aja nggak ada!" hardik pria itu.
"Emang aku nggak laper? Aku juga laper! Aku bahkan nungguin kamu loh, berharap kamu pulang bawa apa gitu. Ternyata halu doang akunya." Nara juga tidak tahan dengan ucapan pria itu.
Karena kesal, Rendi langsung menghampiri Nara dan menarik tangan istrinya itu dan menarik rambut Nara.
"Heh! Makin ke sini kamu makin ngelunjak ya! Aku selama ini sabar dan baikin kamu di depan keluargaku! Ternyata kamu yang kubela malah nggak tahu diri!" Rendi makin kesal dengan Nara. Sedangkan Nara kesakitan saat rambutnya ditarik, berusaha untuk melepaskan rambutnya dari cengkeraman tangan suaminya.
"Rendi! Ka–kamu ngapain! Akh! Sakit tahu!" Nara mengaduh kesakitan, Rendi langsung melepaskan cengkeraman tangannya dan melepaskan rambut Nara.
"Seorang istri tuh kalau sama suami harus nurut. Bukan malah bantah, apalagi nuntut!" Pria itu mulai bertindak seenaknya kepada Nara. Bahkan mulai kasar kepada Nara.
Nara yang diperlakukan seperti itu pun sedikit terkejut karena baru kali ini dia diperlakukan seperti itu.
"Kamu kenapa kasar sih? Aku berusaha bicara baik-baik sama kamu loh. Malah kamunya kaya gitu!" Nara terlihat kesal, tapi berusaha sabar.
"Yang mulai siapa? Kamu kan?" Rendi melipat kedua tangannua dan mendongak ke arah Nara.
Melihat sikap suaminya, Nara pun hanya bisa diam saja. Ia tidak ingin membuat lebih banyak masalah lagi.
"Denger ya. Aku tuh udah capek ngerjain ini itu, aku berusaha jadi suami yang baik, tapi kamu sendiri aja nggak bisa jadi istri yang baik, kenapa aku harus menghargai kamu?" Rendi berkata seenaknya dan membuat Nara tak bisa berkata apa-apa. "Kalo masalah duit, aku bakal kasih tiap malem! Sedapetnya aku. Aku juga butuh duit buat nongkrong. Malu lah nongkrong nggak bawa duit!" lanjut pria itu.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih? Kamu bisa minta buatin telur, atau nugget kan? Kenapa harus marah? Aku emang nggak masak sayur, tapi kalau yang instan masih ada kok. Kalau kamu capek ya istirahat, bukan malah marah-marah begitu!" Nara masih berusaha untuk tetap tenang.
"Tau ah! Males banget!"
Rendi langsung keluar dari rumah dan Nara mengejarnya.
"Rendi! Kamu mau ke mana?" Nara menahan tangan Rendi dan meminta untuk tidak pergi meninggalkan dirinya.
"Males banget aku di rumah! Mending pergi lah!" Rendi menghempaskan tangan Nara, dan Nara berusaha untuk menahan pria itu agar tidak pergi.
"Rendi! Maafin aku. Aku yang salah nggak masakin kamu, maafin aku," pinta Nara sembari berada di depan motor pria itu. Rendi menatap Nara dengan tatapan yang sinis dan terlihat benci. Terdengar Syakila yang ikut menangis dan berada di dalam rumah sendirian.
Rendi mendorong istrinya itu dari depan motor hingga Nara terjatuh.
"Urusin aja tu anak kamu! Besok berangkat sendiri! Pulanglah sendiri! Bodo amat gue mah!" ujar pria itu dengan wajah yang begitu kesal.
Nara pun hanya bisa memanggil pria itu pergi dari hadapannya. Hati Nara pun serasa hancur, padahal hal ini bisa dibicarakan dan ada jalan keluarnya, namun pria itu sama sekali tidak mau mendengarkan.
Tangisan Syakila pun semakin keras dan Nara langsung masuk ke dalam rumah untuk menemui putrinya. Tak ingin tetangganya dengar tangisan Syakila, Nara langsung menggendong putrinya itu.
"Iya, Sayang iya. Ini mama di sini, udah ya jangan nangis." Nara mencoba menenangkan putrinya itu.
Namun, bukannya diam, tangisan Syakila justru semakin keras dan membuat Nara bingung, bahkan perlahan air matanya juga ikut mengalir.
Nara begitu menyesali apa yang telah ia perbuat hingga bisa melahirkan Syakila dan menikah dengan Rendi yang ternyata tidak sebaik apa yang dipikirkan Nara.
"Kenapa sih nangis terus?" Nara nampak bingung dengan bayinya yang tengah digendong justru menangis terus. Kesabarannya bahkan sudah habis. Nara menenangkan putrinya dengan menepuk pantatnya perlahan dan menggoyangkan tubuhnya. Namun, lama kelamaan putrinya itu tak kunjung diam, membuat Nara semakin kesal dan juga bingung harus bagaimana.
__ADS_1
"Kenapa sih!!" Nara pun membentak putrinya itu dan menaruh putrinya di kasur, lalu membiarkannya menangis.
Nara pun meringkuk di depan tv dan ikut menangis, hatinya begitu sakit, kesal, sedih, campur aduk rasanya. Suara tangis mereka pun membuat suasana di rumah menjadi penuh dengan kesedihan. Berulangkali Nara menyalahkan dirinya karena telah melahirkan Syakila dan menikahi Rendi. Semua yang terjadi menjadi sebuah penyesalan terbesar untuknya.
Hingga saat emosinya sudah mereda, Nara pun melihat ke arah Syakila yang terus menangis dan terlihat lelah. Ia mengangkat Syakila dari kasur dan menggendongnya.
"Maaf ya, kamu lapar ya? Minum ya ...." Nara pun memberikan asinya yang sedikit itu kepada putrinya. Meskipun begitu, Syakila tetap meminummya lalu terdiam.
Nara pun semakin menyalahkan dirinya karena tak becus dalam merawat anak dan juga suami. Ia merasa rumah tangganya sama sekali tidak harmonis, bahkan merasa bahwa tidak pernah dipublish pun tidak masalah.
Sedangkan Rendi yang sedang kesal dengan Nara justru pergi ke suatu tempat yang tidak seharusnya dia datangi. Kos Adel.
Di sana, Rendi menelpon Adel, dan tentu saja Adel dengan senang hati langsung menyambut kekasihnya itu dan membawa Rendi masuk ke kamarnya.
"Sayang ... kamu ngapain di sini?" tanya Adel.
Rendi masih terlihat marah, namun berusaha untuk tetap tersenyum, perasaan Rendi jadi semakin tenang saat dia dekat dengan Adel dan memeluk wanita itu dengan erat.
"Maaf ya aku mau ngerepotin kamu. Aku boleh tidur di sini malam ini nggak?" tanya Rendi.
"Eh? Serius? Kenapa tiba-tiba?" Adel bingung dengan sikap Rendi itu.
"Nggak papa, ada di sisi kamu membuatku sangat tenang," jawab Rendi saat memeluk Adel.
Wanita itu pun melepaskan pelukannya, dan karena mereka hanya berdua di tempat kecil itu, Rendi langsung mendekatkan wajahnya ke arah wajah Adel dan membuat bibir mereka saling bersentuhan. Rendi melakukan itu tanpa rasa bersalah dan penuh dengan kesadaran.
"Entah mengapa aku nyaman bersama Adel," batin Rendi.
__ADS_1