Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Pasrah dengan Keadaan


__ADS_3

Pada akhirnya Nara pulang bersama dengan Rendi. Ia memesan mobil dan pulang ke kontrakan mereka. Jantung Nara sudah berdegup dengan sangat kencang, dia sangat takut jika ia kembali mendapatkan kekerasan. Padahal Nara sudah berusaha untuk menyembuhkan dirinya sendiri.


Sampai di rumah, Nara meletakkan Syakila di kamar dan Rendi nampak tengah duduk di depan tv. Nara tidak berani keluar dan hanya bisa terdiam saja di kamar.


Jika sesuatu terjadi kepada bayi dan dirinya, maka tidak ada lagi yang bisa menolong mereka. Saat Nara tengah berusaha menenangkan dirinya, terlihat Rendi masuk ke dalam kamar dan menatap Nara dengan tatapan tajam.


Nara tidak berani menatap pria itu, dia sangat ketakutan dan cukup trauma. Rendi mendekati Nara dan duduk di hadapan wanita itu. Nara semakin gusar dan bingung harus bagaimana menyikapi pria itu.


"Kalian udah ngapain aja di rumah itu? Pasti tubuhmu disentuh-sentuh kan?" tuduh Rendi.


"Nggak! Aku nggak pernah menyerahkan tubuhku kepada orang lain, kamu masih suamiku, aku cukup tahu diri untuk tidak selingkuh," sindir Nara dengan sangat berani.


"Secara tidak langsung kau mengatakan bahwa aku tidak tahu diri ya?" Tatapan Rendi semakin tajam, dan jelas masih ada amarah di matanya.


"Kalau kamu udah nggak cinta sama aku, kamu bisa kan ceraikan aku? Dengan begitu bukankah semua akan baik-baik saja? Status resmi menikah kita tidak akan diketahui oleh pihak kampus, kamu juga nggak akan mau, kenapa aku harus mempertahankan hubungan seperti ini?" tanya Nara dengan nada bicara yang sangat pelan.


"Kamu mau aku dikata-katain keluargaku? Dikata nggak becus? Enak aja! Udah gitu, masyarakat nanti jadi bakal tahu kalau aku sebrengsek itu. Kamu nggak malu, kita belum ada 1 tahun menikah tapi udah mau hancur gini? Kalo gitu, buat apa aku nikahin kamu kalo akhirnya kamu bakal janda. Nggak mikir sampe situ ya?!" gertak Rendi.


"Ya terus buat apa aku nikah sama kamu kalau ujung-ujungnya nggak pernah kamu urusin?" Nara mulai emosi dengan sikap pria itu.


"Nikmatin aja, aku tahu di sisi lain kamu nikmatin hal ini kan?" Rendi nampak menantang wanita itu.


Nara yang batinnya sudah lelah pun pada akhirnya hanya bisa diam saja dan sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Setidaknya setelah ini dia akan pulang ke rumah dan mendapatkan ketenangan selama KKN tanpa harus memikirkan pria itu.

__ADS_1


"Terserah kau saja, aku cuma pingin kamu perhatian sama Syakila. Meskipun cuma sekedar menggendong dan cerita dengannya saja itu sudah cukup. Aku sudah tidak mau berharap apa-apa lagi kepadamu." Nara berkata dengan penuh rasa pasrah, semua yang sudah terjadi tidak bisa diubah lagi. Perasaan juga tidak bisa dipaksakan, jika memang Rendi sudah tidak mencintai Nara namun masih ingin bersama karena ingin memanfaatkan Nara, ia hanya perlu berpura-pura mencintai pria itu saja.


"Pada akhirnya kamu sudah menyerah ya?" Rendi tersenyum puas.


"Jika terus menerus bertahan, aku hanya akan sakit hati saja." Nara menjawab ucapan Rendi tanpa melihat ke arah pria itu.


Di saat mereka sedang serius bicara dan Rendi akan pergi, tiba-tiba ponsel Nara berbunyi dan ternyata ayahnya telpon. Melihat siapa yang menelpon Nara, Rendi langsung berkata, "Pokoknya apapun yang terjadi sekarang, gue nggak mau sampai mereka tahu kalau hubungan kita lagi kaya gini!" pinta pria itu.


"Kalau sampai mereka tahu, aku nggak segan-segan mengakhiri hidup mereka!" ancam Rendi sebelum Nara mengangkat teleponnya.


Nara pun mengangkat telepon dari ayahnya.


"Iya ayah?" jawab Nara,


["Halo sayang. Besok kamu sibuk nggak? Ayah ada kerjaan besok dan mau ke Semarang. Boleh ayah mampir ke tempat kamu?"] tanya ayahnya kepada Nara.


["Boleh dong sayang. Ya udah siap-siap buat besok ya, besok ayah langsung ke situ."] Ayahnya nampak senang sekali mendengar akan membawa putri dan cucunya pulang.


"Iya ayah, hati-hati ya besok."


Nara pun mematikan teleponnya.


"Beruntung banget ya? Padahal niatnya besok aku mau anter kamu, ternyata ayah kamu mau ke sini." Rendi nampak tersenyum kecut mendengar mertuanya akan datang kemari.

__ADS_1


"Nggak perlu repot-repot. Malam ini kamu nggak pulang kan? Aku mau prepare buat besok." Nara tidur di sebelah Syakila sembari memainkan ponselnya.


"Malam ini aku di sini, aku mau nemenin kamu malam ini."


Mendengar ucapan seperti itu, Nara jelas langsung terkejut dan melihat ke arah Rendi.


"Ngapain?! Biasanya juga kamu pergi kok sama si Adel, Adel itu! Udah sama dia aja, nggak usah mikirin aku!" Nara nampak mengusir pria itu.


Rendi justru duduk di sebelah Nara sembari tersenyum dan mengusap kepala wanita itu dengan lembut.


"Kenapa? Aku kan juga masih mau bersetubuh sama kamu, Sayang. Kamu kan masih istri aku." Rendi nampak perhatian kepada istrinya. Lebih tepatnya pura-pura perhatian.


Nara langsung merinding mendengarkan yang seperti itu.


"Kalau sama Adel ya sama Adel aja! Lagian dia lebih nikmat kan dari aku?!" Nara terlihat kesal dan juga ketakutan.


"Nggak bisa dong. Kadang juga kamu terasa nikmat tahu." Nara semakin merinding mendengar pernyataan seperti itu. "Ya udah, aku pergi dulu ya. Nanti aku belikan nasi padang buat kamu. Bye Sayang." Rendi mengecup pipi Nara dengan lembut, lalu pergi meninggalkan istrinya itu.


Nara yang tadinya tegang langsung lemas dan berhasil menenangkan dirinya. Bisa-bisanya Rendi berkata seperti itu kepada Nara. Sejak kapan dia bersikap begitu kepada Nara?


Semakin lama, justru semakin menjijikkan untuk Nara. Rasa sayang yang tadinya besar, tiba-tiba langsung menghilang begitu saja. Bagaimana dia bisa mencintai suami yang sudah selingkuh dan menyakitinya sampai sedalam ini.


Nara pun tidur di sebelah Syakila yang masih terjaga, ia memeluk putrinya dengan tangan yang gemetaran. Hingga air mata pun mengalir di pipinya. Sejujurnya, dia sudah tidak tahan lagi dengan tekanan seperti ini. Rasa takutnya sudah tidak bisa ia kendalikan lagi.

__ADS_1


Untuk menenangkan dirinya, ia hanya bisa mengingat hari-hari bersama dengan Gibran dan Syakila yang sangat singkat itu. Ia berpikir bagaimana nasib Gibran sekarang. Ia berharap Gibran masih mau menghubungi dan membantu Nara.


"Semangat, Nara! Sebentar lagi kamu KKN! Kamu pasti bakal jarang ketemu sama pria itu! Kamu pasti bisa ngejalanin semuanya, tenang aja, Nara. Kamu pasti bisa melindungi Syakila," ujar Nara yang berusaha menenangkan dirinya sembari menangis sesenggukkan. Sebenarnya batinnya capek sekali, namun, untuk saat ini dia tidak bisa apa-apa selain pasrah dan berusaha menjalani semuanya sendiri demi Syakila.


__ADS_2