Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Negosiasi


__ADS_3

"Lo sengaja gue diemin selama ini! Nyatanya makin ke sini makin ngelunjak ya!" hardik Gibran yang sudah ada di depan pintu kontrakan mereka.


Nara yang tadinya berada di kamar, langsung keluar dan melihat apa yang terjadi, wanita itu terkejut bukan main saat Rendi sudah terjatuh karena pukulan Gibran. Gibran lebih terkejut lagi karena pipi Nara membiru dan tangannya juga.


Gibran langsung mendekati Nara dan melihat kondisinya. Gibran juga melihat ke dalam rumah, memastikan apakah Syakila ada di dalam atau tidak.


"Syakila engga di sini kan?" tanya Gibran.


Nara hanya menggelengkan kepalanya saja sembari berusaha tersenyum. Amarah Gibran meluap-luap saat melihat Nara kembali disakiti lagi.


"Lo mata-matai gue sama Nara ya?! Kenapa bisa tahu gue di sini!" Rendi menarik kerah Gibran dan marah, rasanya tangannya ingin sekali memukul Rendi.


"Jangan bertengkar di sini! Kalian bisa dimarahi pak RT nanti!" pinta Nara yang berusaha menenangkan mereka karena beberapa tetangga mulai penasaran.


Gibran yang masih tahu kondisi juga aturan, langsung berusaha menenangkan dirinya lebih dulu.


"Gue dateng ke sini karena gue tau siapa pelakunya."

__ADS_1


DEG!


Nara dan Rendi langsung tersentak mendengar kabar seperti itu. Ternyata Gibran lebih cepat bergerak mencari tahu daripada Rendi dan Nara. Gibran memanfaatkan keahliannya untuk mencari siapa dhalang dari semua ini.


"Lo cuma ngibul biar bisa ngehentiin gue kan? Lo benci sama gue. Oh, atau lo berusaha nyebar aib gue dan berpura-pura jadi pahlawan di sini?" duga Rendi yang pikirannya sudah tidak jernih.


"Masa bodoh sama nama baik lo, gue cuma nggak mau Nara terlibat di sini. Anggap aja gue lagi baik sama lo karena mau nolongin lo secara cuma-cuma!" jawab Gibran.


"Ck! Sombong sekali. Kalau sampai lo ga bisa nunjukkin siapa pelaku sebenernya, gue bakal habisin lo!" ancam Rendi.


Karena keadaan sudah semakin membaik, mau tidak mau Rendi membawa Gibran masuk ke dalam kontrakan untuk menceritakan siapa pelakunya.


Sebenarnya Rendi masih tetap tidak menyukai pria itu dan terus menerus menggerutu. Namun, karena dia juga butuh Gibran, maka kali ini dia harus bisa berusaha menahan emosinya.


Rendi melihat Gibran mengeluarkan laptop yang harganya cukup mahal dan mulai mengoperasikannya. Rendi sempat merasa kagum sekaligus iri dengan pria itu.


"Lo yakin udah nemuin pelakunya?" tanya Rendi sembari melihat Gibran yang sedang memainkan laptopnya.

__ADS_1


"Sebenarnya masih belum jelas sih, tapi aku udah coba cari tahu," ujar Gibran.


Nara yang berada di sebelah Rendi pun berusaha untuk mengompres lukanya agar tidak membekas. Sialnya Rendi memukul tepat di wajah, sehingga terlihat memar.


Beberapa saat setelah mereka menunggu cukup lama, keluarlah hasil pelacakan orang yang sudah menyebarkan nama baik Rendi.


Terlihat Rendi memunculkan kartu mahasiswa milik wanita itu dan juga sosial medianya.


Namun, Gibran dan Nara justru melotot saat melihat siapa dhalang dibalik semua ini.


"Gibran ... Ka–kamu serius? Engga salah data nih?" tanya Nara.


"Harusnya ngga mungkin bohongan sih," ujar Gibran yang juga sama terkejutnya.


"Kenapa sih? Kalian kenal sama orang ini kah?" Rendi nampak penasaran.


"Aku mengenalnya dengan sangat baik," jawab Gibran dengan raut wajah yang sedikit bersedih dan tidak menyangka.

__ADS_1


__ADS_2