Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Dua Kali Kesempatan Lagi


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Gibran masih terus-terusan menjaga Rendi. Ternyata keluarganya memutuskan untuk membiarkan Rendi sembuh lebih dulu, baru setelah itu dia bisa menyelesaikan masalahnya dengan Adel. Sejujurnya, kedua orang tua Rendi sangatlah murka kepada putranya, namun, mereka juga menyalahkan diri sendiri karena merasa kurang baik dan benar dalam mendidik Rendi.


Rendi merasa sangat kesepian karena tidak ada yang membantu merawatnya, Rendi juga sekarang sudah tidak punya teman karena nama baiknya sudah tercemar. Sudah pasti tidak ada yang mau pergi dengan Rendi lagi.


Sepanjang malam, Rendi juga terus memikirkan bagaimana nanti ketika ia sudah masuk ke kampus lagi. Akankah dia bisa hidup dengan tenang dan menjalani perkuliahannya sampai selesai?


"Gibran, gimana keadaan kampus sekarang?" tanya Rendi saat sedang bersama dengan Gibran di hari terakhirnya di rumah sakit.


"Kau yakin mau tau? Terkadang lebih baik kita tidak tahu apa-apa loh," ujar Gibran yang memperingatkan pria itu.


"Kasih tahu aja, aku juga nggak masalah kok. Lagian itu juga udah resiko dari kesalahanku," ujar Rendi.


Gibran yang tadinya sedang mengirim chat kepada Nara, langsung meletakkan ponselnya dan melihat ke arah Rendi dengan tatapan sedikit sinis.


"Terakhir, mereka langsung mencari calon ketua BEM yang baru. Aku salah satu calonnya, lalu ada juga Tama. Mereka menganggap Tama ini sebagai penegak keadilan, namun, sepertinya semua orang lebih memihak Tama," ujar Gibran.


"Oh begitu ya. Aku juga sudah menduga ini pasti terjadi," ujar Rendi sembari menundukkan kepalanya saat ia sedang duduk.


Gibran pun terdiam sejenak, menatap Rendi yang sepertinya sudah menyesali banyak hal.


"Mau bertemu Nara?" tanya Gibran dengan tiba-tiba.


Rendi yang mendengar tawaran itu, langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Gibran.


"Serius? Bisa? Boleh?" tanya Rendi.


"Bisa kok, kamu masih punya dua kali kesempatan untuk bertemu Nara dan Syakila." Gibran seperti memberikan sebuah kesempatan yang cukup susah untuk ditepati Rendi.

__ADS_1


"Kenapa cuma dua?" tanya Rendi.


"Yang pertama, aku tidak mau mereka berdua tersakiti dan tidak terawat lagi karena tinggal denganmu. Sedangkan yang kedua, Nara sudah memutuskan untuk bercerai, dan dua kali itu adalah kesempatan untuk dirinya sendiri agar semakin mantap untuk bisa melupakanmu," jawab Gibran dengan tegas.


Mendengar jawaban seperti itu, Rendi sedikit sedih. Padahal ia ingin sekali menebus kesalahannya di masa lalu dengan membahagiakan wanita itu.


"Tidak ada lagi kesempatan untukku?" tanya Rendi.


Gibran menggelengkan kepalanya dan kembali melihat ke arah ponselnya. Gibran sesekali tersenyum kecil saat melihat ponselnya dan sedang chat dengan Nara. Sedangkan Rendi melihat pesan yang ia kirimkan kepada Nara dan tidak ada balasan sama sekali.


Baru kali ini ia merasa hatinya benar-benar hancur dan kosong, ia menyesali apa yang sudah terjadi selama ini.


Saat Gibran sedang bersantai, tiba-tiba ia mendengar suara bodyguardnya seperti sedang berdebat dengan seorang wanita.


Gibran menyadari hal itu dan langsung pergi keluar untuk melihat apa yang terjadi. Saat pintu di buka, tiba-tiba Adel memaksa masuk dan bahkan memaksa ingin melihat keadaan Rendi dengan dalil masih mencintainya dan merupakan calon suaminya.


Karena dirasa mengganggu ketenangan di rumah sakit, Gibran langsung keluar dari ruangan Rendi dan mengajak. Adel keluar dari rumah sakit.


Hingga mereka sampai di taman rumah sakit, Adel melepaskan cengkeraman tangan pria itu.


"Kenapa sih! Aku kan mau ketemu calon suamiku!" hardik Adel.


"Ini di rumah sakit, dan kamu sudah mengganggu ketenangan rumah sakit. Bisa nggak sih kamu nggak bikin ulah sehari aja! Ribet banget rasanya!" ketus Gibran.


Adel melipat kedua tangannya dan merasa kesal dengan Gibran.


"Aku kan kangen calon suamiku, pengen lihat keadaannya juga, dia bilang mau menemui keluargaku, aku jadi makin nggak sabar!" ucap Adel.

__ADS_1


Gibran menepuk jidatnya dan merasa risih dengan kehadiran Adel.


"Padahal kemarin waktu Rendi diarak dan dikeroyok, kamu cuma diem aja. Malah lebih belain Tama, sekarang kamu nyariin Rendi. Maunya apa sih? Jangan cuma jadi benalu deh di hidup orang!" ledek Gibran dnegan mulut pedasnya itu.


"Ih! Jahat banget kamu ngomongnya. Waktu itu kan lagi rame banget, dan itu juga salah Rendi sendiri, salah siapa dia nggak mau tanggung jawab!" Adel masih saja ngotot dengan pendapatnya.


"Kalau Rendi nggak mau tanggung jawab, cari gih cowok yang mau tanggung jawab. Kan pasti banyak tuh, salah satunya si Tama. Kayaknya dia suka sama kamu tuh!" imbuh Gibran.


"Dia cuma temen deket doang! Aku nggak suka sama dia ih!" sewot Adel. "Pokoknya, aku nggak mau tau ya. Bilangin ke Rendi kalau dia harus menepati janjinya! Kalau nggak, aku bakal bikin keluarga mereka hancur!" imbuh Adel yang mengancam Rendi lewat Gibran.


"Jangan sombong, mentang-mentang keluarga kamu sering jadi sponsor di event kampus, belum tentu mereka juga mau menerima kamu, Rendi dan anak harammu itu!" Gibran makin kesal dengan wanita itu. Ia sengaja membuat Adel kesal karena yang ia pikirkan hanyalah kesenangan miliknya sendiri saja, tanpa berpikir bahwa orang lain menderita karena ulahnya. Wanita itu juga begitu sombong, wajar saja jika ibu tirinya Rendi tidak menyukai wanita itu.


"Beraninya kamu ya!"


"Pergilah, kamu mengganggu di rumah sakit, benalu sepertimu akan jauh lebih baik kalau pergi menjauh dariku.


Gibran pun pergi meninggalkan wanita itu karena sudah sangat malas meladeni wanita bermuka dua itu.


Sedangkan Adel pun mengikuti apa yang Gibran ucapkan, karena sia-sia saja dia menunggu apalagi menerobos masuk, karena ada penjaganya Gibran.


Saat berjalan di lorong, Gibran bahkan sampai menghembuskan nafas panjang. Ia merasa bahwa akan ada sesuatu yang menimbulkan kecurangan dari Adel.


Gibran pun langsung mengirimkan pesan kepada seseorang pria yang nantinya akan dia gunakan untuk menjaga agar posisi Rendi dan keluarganya baik-baik saja.


Di tengah lorong rumah sakit, Gibran yang tadinya sedang berjalan, tiba-tiba berhenti sejenak dan melihat wallpaper di ponselnya. Ia memasang foto Nara, Syakila dan dirinya. Karena saking akrabnya, mereka bahkan sering foto bersama, kini, foto itu menjadi sebuah penyemangat untuk dirinya.


"Hmmm, kenapa aku mau lakuin apapun biar Nara nggak sedih ya? Apa boleh seefort ini? Yakin suatu saat nanti akan dapat yang jauh lebih baik dari ini? Apa ia bisa mendapatkan Nara seutuhnya setelah cerai dengan Gibran?

__ADS_1


Setelah pusing dengan pemikirannya sendiri, Gibran pun pergi meninggalkan lorong rumah sakit dengan raut wajah yang tersenyum dan nampak bahagia. Ia sama sekali tidak menyesali pertemuanya dan rasa cintanya dengan Nara.


Pria itu masih berharap bisa mendapatkan Nara. Gibran pun kembali ke kamar Rendi dan menceritakan semua yang baru saja terjadi.


__ADS_2